Tangan dingin itu merayap mencari pegangan, tapi tak ada lagi yang bisa dijangkau. Dalam keheningan yang membekap, tubuh itu akhirnya menyerah, lepas dari cengkeraman kehidupan.
°°
kelak kau akan pergi..
tapi sebagian jiwamu akan bercahaya diujung lorong yang kelam.
Aku tidak ingat ini hari apa. Apakah sudah berganti bulan, atau bahkan tahun saking lamanya aku berada ditempat yang minim cahaya dipelosok entah berada di bagian mana.
Setelah dibawa oleh 5 orang dari ruangan yang kelam dan penuh siksaan. Sekarang aku di kurung ditempat kumoh dan jauh dari pedesaan.
Mataku sungguh sangat sakit, aku tak bisa melihat, keduanya sudah mengalami kerusakan hingga ke saraf.
Semua badanku tidak memiliki rasa apapun, tenggorokan ku perih disebabkan benda tumpul yang menusukku dua hari berturut turut. Aku dilecehkan habis habisan sebelum dibawa kesini. Tubuhku sudah kotor, bau sperma milik kampret itu, semua badanku penuh memar dan goresan pada benda tajam.
"ibu... tunjukan cahaya padaku.." lirihku.
Tiba tiba seseorang menggebrak meja, menendang pintu hingga terlempar ke samping tubuhku, lalu berteriak murka. "TAK ADA GUNANYA KITA MENJAGA TUH PEREMPUAN."
Aku menggigit bibir ku risau, apa yang akan mereka lakukan sampai ikut menyusul ku ke tempat ini?.
"sabar jef, lalu sekarang apa yang ingin kamu lakukan?"
Laki laki yang bernama jef yang melecehkan ku itu tampak menghampiri ku, terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat.
Aku semakin panik. tolong jangan lalukan itu lagi. batinku menjerit jerit.
Jef menendang kepalaku begitu saja membuat ku tersungkur dengan kaki dan tangan terikat kuat.
ya tuhan kepada ku mau pecah.
Mukaku yang sudah tidak bisa dikenali lagi akibat luka itu menghantam kerasnya keramik.
Asin, lagi lagi ku mengecap rasa yang tak asing belakangan ini. Amis, bau darah segar berhamburan di indra penciuman ku.
Luka baru tercipta lagi.
"buat dia tersiksa secara perlahan, seret dia ke mobil."
Tubuhku yang sebelumnya lemes jadi menegang. Aku mau dibawa kemana lagi.
Kedua teman jef memaksa tubuh ini untuk bangun, badan ku sudah remuk dipaksa untuk berjalan dengan pandangan yang sungguh gelap.
Leherku diberi rantai, lalu mereka menarikku berjalan mengikuti nya. Tidak lain dan tidak bukan, sekarang aku sudah seperti anjing.
"cepat masuk."
Lagi lagi tubuhku ditendang masuk ke mobil. Apakah mereka begitu terhadap semua wanita? bukankah ibu mereka juga wanita, tapi kenapa mereka memperlakukan wanita seenaknya, atau cuma aku wanita yang merasa perlakuan seperti ini?
Aku duduk ditengah tengah mereka. Aku pasrah, entah akan dibawa kemana tubuh ringkih ini yang jelas aku sudah melihat ajal semakin mendekat dengan ku.
maaf kan aku ibu karna tidak menepati janji ku.
Air bening keluar dari mataku, menambah rasa pedih. Ku harap sebentar lagi aku sudah tidak merasakan rasa sakit ini lagi.
Mobil mendadak berhenti, apa aku sudah sampai di ujung kehidupan? tali yang ada di leherku ditarik paksa agar aku keluar dari mobil. Kaki ku gemetar, tidak sanggup menahan tubuh terlalu lama.
Badanku ditutup menggunakan karung yang sangat bau, sudah gelap semakin gelap, tidak ada kesempatan untuk melihat cahaya sedetikpun.
Semakin lama aku bisa merasakan angin yang masuk disela sela lubang karung yang jelek itu, sebagian jiwaku terlepas bersamaan dengan hembusan angin. Bahkan disaat saat seperti ini aku hanya bisa merasakan kehadiran angin, apakah cahaya juga ikut hadir atau justru sekarang lagi bersembunyi dibalik awan yang kelam.
Terdengar suara hantaman memasuki indra pendengaran ku.
Langit ikut merasakan.
Tidak lama aku merasakan tubuh ini basah, hujan kali ini bagai kata kata yang tidak bisa tersampaikan, yang mesra diucapkan langit, dan khusuk menunduk mendengarnya bunyinya menghantam kebawah.
Aku tau telingaku sebelah kanan masih berfungsi sedikit, hujan seperti berbisik, mereka menyaksikan dan iba hingga menumpahkan semua nya ke bumi.
Aku semakin dibawa, lebih tepatnya diseret, aku tidak dapat melihat dengan pasti, tapi aku yakin sekarang aku berada ditepi tebing yang curam, terdengar suara ombak dibawah bergemuruh memanggil ku, menyebut nyebut namaku.
Tuhan, jika ini nafas terakhir ku. aku tak pernah menyesal karna dilahirkan, walau dengan waktu yang sangat singkat.
Tubuhku terhempas begitu saja, dalam keadaan yang gelap aku masih bisa merasakan kehadiran makhluk makhluk dibawah laut. Tidak bisa meminta pertolongan, tubuhku semakin ditarik ke dasar laut yang dalam. Kedua tanganku yang terikat mengepal kuat. Aku bebas.
Dari balik karung yang lusuh, tutup mata yang penuh darah dan mata yang sudah tidak berfungsi aku melihat bayangan sebuah cahaya yang tersenyum menyambut kedatangan ku.
Aku tidak pernah membenci pada apapun karna sudah mempermatikanku secara perlahan.
Terima kasih sudah menunggu ku..
Bapak, ibu, mas Zidan, mas Reza, Xabiru, kawan kawan aku pulang..
KAMU SEDANG MEMBACA
senja meredup
Historical Fiction23 April 2003 Senja Wirastania dan teman teman, seorang perempuan biasa yang tidak sengaja menemukan sesuatu, mengungkap kebenaran. Cerita yang sudah lama dihentikan karna membahayakan warga sekitar itu kembali dibicarakan. 6 juni 2007 Air mata yan...
