1

4 0 0
                                        

Di kantin kampus, Moza memperhatikan bangku yang diduduki seorang gadis yang dengan tenang menikmati makan siangnya. Bukan gadis itu yang menjadi fokus utamanya, melainkan sesosok wanita yang berdiri sembari memperhatikan gadis itu dari samping. Kenapa wajahnya menampakkan kesedihan seperti itu?

Sosok wanita di samping gadis itu bukan manusia. Moza tahu itu. Jadi saat sosok itu beralih menatap ke arahnya, reflek Moza mengalihkan pandangannya demi menghindari tatapan mata dari si hantu.

Menatap mata mereka sama saja memberi pengumuman kalau Moza bisa melihat dan merasakan kehadiran mereka. Ih dia sih ogah. Malas bercengkrama dengan mereka sebab kebanyakan tampang dan penampilannya sangat tidak bisa diterima oleh nalar manusia.

Niat hati Moza tidak ingin dekat dan berinteraksi dengan sosok hantu wanita itu. Sialnya, si sosok hantu itu justru menghampiri Moza. Sosok itu tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya dan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Moza.

Sumpah Moza deg-deg an minta ampun. Sejujurnya dia itu penakut. Sialnya lagi wajah hantu ini sangat jelek. Wajahnya hancur sebelah, mulutnya mengeluarkan cairan darah yang berwarna kehitaman dan berbau busuk. iyuwh..

Moza sudah menahan napas sejak tadi dan berpura-pura masih menikmati makannya meskipun sambil menahan mual.

"Kamu bisa lihat saya?" tanya sosok hantu itu tiba-tiba. Suaranya hampir menyerupai bisikan.

Moza tetap diam dengan tenang. Tapi diam-diam dia mencengkeram kuat sendok yang dipegangnya.

Tak

Sebuah mangkok bakso yang tiba-tiba diletakkan dengan keras di mejanya. Moza menoleh dan menemukan Malvin berdiri di hadapannya. Malvin ini teman sekelasnya, meskipun begitu mereka tidak cukup akrab tapi sering saling menyapa saat tidak sengaja berpapasan.

"Eh sorry, kekencengan ya gue naruh mangkoknya" ucapnya sambil nyengir.

"Ngagetin aja sih, lo"

"Gue udah laper banget soalnya. Tapi ngeliat meja udah pada penuh dan meja ini yang masih kosong, ya langsung aja gue gas nempatin keburu diduluin orang" jawabnya.

Moza melihat ke sekitar, saking fokusnya Moza pada hantu sampai membuat dia tidak memperhatikan kalau kantin memang sudah sangat sesak.

Tanpa Moza sadari Malvin menatap sosok hantu wanita tadi dengan tajam. Sedetik kemudian hantu itu menghilang begitu saja.

"Lo kalo nggak mau disamperin jangan ngeliatin kayak lagi nandain gitu, Za" Moza yang mendengar itu langsung menoleh dan mengernyit heran.

"Hantu tadi nyamperin lo karena dia ngerasa lo lagi penasaran sama dia".

Moza melotot kaget "Lo bisa ngeliat 'dia'?.

Malvin tersenyum miring kemudian melahap baksonya dengan cepat.

Moza merasa penasaran sekaligus antusias karena merasa memiliki teman sepenanggungan. Memiliki kemampuan bisa melihat dan merasakan kehadiran hantu atau biasa disebut 'indigo' sangat menyiksa baginya.

Dulu saat SD dia sempat dibully karena sering histeris saat melihat hantu buruk rupa di hadapannya. Saat itu untuk pertama kalinya dia mendapati pemandangan menyakiti mata seperti itu. Teman-temannya mulai mengacuhkan dan membully nya karena menganggap dirinya itu tukang halu, anak setan  bahkan pembawa sial.

Hal menyakitkan yang membuat keluarganya memutuskan pindah ke kota adalah saat pembully an itu semakin parah. Moza dikunci di dalam gudang oleh teman kelasnya dengan dalih uji nyali seperti yang ditonton di TV.

Dia ketakutan setengah mati saat mendapati hantu tanpa kepala yang berdiri di ujung ruangan. Memang sih hantu itu tidak menyakitinya, tapi Moza ini kan manusia normal ditambah dia juga masih anak-anak. Wajar kalau dia merasa takut bahkan sampai ditemukan dalam keadaan pingsan saat pintu dibuka oleh satpam dan para guru di sore harinya.

Mata KeduaWhere stories live. Discover now