Awan Jakarta sore itu menggantung kelabu, tapi Liana tetap berjalan dengan langkah cepat menyusuri trotoar Slipi. Tangannya menenteng tas belanja dari pasar, wajahnya lelah setelah seharian bekerja di kedai kopi tempatnya menjadi barista.
Tidak banyak orang tahu, Liana sebenarnya bukan sekadar perempuan perantau dari Singkawang. Ia lahir dari keluarga yang turun-temurun menjadi tatung—medium roh yang setiap tahun tampil di Cap Go Meh, tubuhnya ditembus pedang, paku, atau tombak tanpa terluka. Peristiwa kesurupan yang ia alami saat berusia 10 tahun mengubah takdirnya. Akong-nya percaya, darahnya sudah dipilih oleh dewa.
Namun sejak remaja, Liana menolak.
"Aku tidak mau tubuhku dijadikan tontonan," katanya suatu malam ketika ayahnya menaruh dupa dan memintanya ikut ritual.
"Kau menolak leluhurmu sendiri?" suara ayahnya berat, kecewa.
Liana memilih pergi. Jakarta, dengan hiruk pikuknya, menjadi tempat persembunyiannya. Di sana, ia hanyalah perempuan biasa yang berjuang membayar kontrakan sempit dan menabung sedikit demi sedikit.
Meski begitu, "suara-suara" itu tetap mengikutinya. Ada kalanya, saat sendirian di kamar, ia mendengar bisikan samar dalam bahasa Khek yang tidak sepenuhnya ia pahami. Kadang tubuhnya menggigil hebat ketika mendengar suara genderang dari vihara dekat kosnya. Pernah suatu kali, di jalan, ia menolong seorang anak kecil yang hampir tertabrak motor. Entah bagaimana, tubuhnya bergerak lebih cepat dari yang seharusnya—seolah ada kekuatan lain yang menggerakkan.
Di malam-malam itu, ia sering merokok diam-diam di balkon kos, menatap lampu kota Jakarta yang tak pernah tidur.
"Aku hanya ingin hidup biasa," bisiknya pada diri sendiri, "Aku tidak mau menjadi tatung."
Namun kenyataan tidak sesederhana itu.
Ketika Cap Go Meh tiba, kos-kosannya tiba-tiba dipenuhi aroma dupa entah dari mana. Ia terbangun dini hari dengan tubuh bergetar, seperti ada sesuatu yang hendak keluar. Ia berdoa, menangis, menutup telinga, tapi suara itu semakin jelas:
"Kau bisa lari, tapi kami tetap ada di dalam darahmu."
Hari berikutnya, seorang tetua Tionghoa dari Singkawang yang kebetulan singgah di Jakarta datang mencarinya. "Liana, takdir bukan untuk ditolak. Kau dipilih. Banyak yang iri karena roh leluhurmu kuat. Kalau kau menutup diri, kau hanya akan sakit."
Liana terdiam. Tenggorokannya kering. Di satu sisi, ia takut pada panggilan itu. Di sisi lain, ia merasa tubuhnya kian hari makin rapuh, seakan melawan arus yang lebih besar dari dirinya.
Jakarta memberinya kesempatan hidup biasa, tapi para leluhur tetap membayanginya.
Dan di suatu malam hujan, ketika tubuhnya kembali bergetar hebat, Liana menatap cermin. Untuk pertama kalinya ia tidak hanya melihat dirinya—tapi juga bayangan wajah-wajah asing di balik kaca, menatapnya dengan mata menyala.
Air matanya jatuh.
Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus memilih: terus berlari, atau berdamai dengan darah tatung yang mengalir dalam dirinya.
YOU ARE READING
Tatung: story of a medium
ParanormalPeristiwa kesurupan yang dialami Liana saat berusia 10 tahun merubah hidupnya. Keluarganya bilang, ia adalah orang terpilih. Sejak itu, ia disiapkan untuk menjadi tatung perempuan yang biasanya berperan penting pada festival Cap Go Meh. Liana menola...
