🌑 Fragmen 1 - Manifested Eye of Terror

5 0 0
                                        

🌑 Fragmen 1 – Manifested Eye of Terror

Kosmos hening. Hanya bintang-bintang yang meredup, satu per satu padam seolah enggan menyaksikan apa yang akan terjadi. Di tengah kehampaan itu, ia berdiri. Sosok asing yang tidak sepenuhnya dapat dipahami, seperti bayangan yang terbuat dari kegelapan lebih tua daripada malam pertama.

Di antara jutaan prajurit fana yang memandangnya, tak satu pun mampu menyebutkan namanya.
Mereka hanya tahu satu hal: rasa dingin yang menjalar ke dalam tulang, perasaan bahwa realitas di sekitar mereka perlahan-lahan runtuh.

Kemudian, terjadi—

Sebuah mata merah raksasa terbuka di udara kosong di sampingnya. Tidak ada suara, tidak ada cahaya. Namun setiap makhluk yang menyaksikan merasakan jiwa mereka diterkam.

Tatapan itu jatuh ke medan perang.
Dan dalam sekejap, teriakan memenuhi udara.

Para ksatria yang gagah berani menjatuhkan pedang mereka, berlutut dengan wajah pucat pasi.
Prajurit-prajurit biasa tidak sempat berteriak; tubuh mereka menggigil, namun roh mereka terlepas dari daging, terbakar habis oleh kengerian murni.

Bahkan para penyihir agung yang menyembunyikan diri di balik perisai mantra merasa kekuatan mereka hancur. Mereka tidak diserang secara fisik, tidak disentuh oleh sihir apapun. Namun dalam sorotan mata itu, seluruh mantra, seluruh ilmu, seluruh keyakinan—semuanya hancur, tak lebih dari debu.

Jauh di atas langit, para dewa minor yang memandang dari ranah mereka sendiri bergetar.
“A-apa itu…?!” seru salah satu, suaranya dipenuhi ketakutan.
Namun tidak ada jawaban. Hanya keheningan, karena bahkan sesama dewa mereka memilih diam. Mereka tahu—kata-kata hanyalah sia-sia di hadapan sesuatu yang melampaui konsep kehidupan dan kematian.

Mata itu bergerak.
Perlahan, tapi pasti, ia menatap ke satu arah.

Para komandan musuh yang berada di garis depan merasakan tubuh mereka kehilangan kekuatan. Jantung mereka berdegup kencang, tulang mereka bergetar, dan pikiran mereka runtuh ke dalam teror purba.

Salah seorang berteriak:
“Jangan menatapnya! JANGAN—”

Namun sudah terlambat.
Tatapan itu menghapus bukan hanya nyawa… melainkan makna dari keberadaan mereka. Nama, ingatan, doa, semuanya lenyap, ditelan oleh kehampaan.

Di pusat semua itu, sang Outer Demon God tidak bergerak.
Ia tidak mengangkat tangan, tidak mengucap mantra, tidak berteriak.
Ia hanya berdiri, dan mata itu—manifestasi dari kehendaknya—melakukan sisanya.

Dalam hening yang menyesakkan, satu kebenaran terpatri di hati seluruh saksi:

> Mereka tidak sedang melawan seorang dewa.
Mereka sedang berdiri di hadapan sesuatu yang lebih tua, lebih luas, dan lebih mengerikan daripada kosmos itu sendiri.

Dan ketika mata itu berkedip untuk pertama kalinya, langit runtuh.

---

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 19, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Outer Demon GodWhere stories live. Discover now