Dilema aneh atau hanya sekedar pikiran yang kacau?
Taehyun hanya berusaha menjalankan permintaan terakhir kakaknya, tidak lebih. Dan Beomgyu kesulitan menerima hal itu.
Aku, Dia, dan surat darimu.
[WarNinG⚠️]
Slow update soalnya yang ngarang kehila...
Taehyun tidak tahu lagi apa yang bisa dia lakukan untuk menjaga hati dan perasaannya sekarang.
"Ini udah keterlaluan! Gue gak bisa diem aja liat adek ipar gue diginiin, Soobin!!"
"Bertindak, oke. Tapi, ini udah malem... Kasihan yang lagi tidur. Kecilin suara kamu."
"Choi fck Gyu!"
Soobin hanya menghela nafasnya melihat Yeonjun yang menjadi-jadi. Bicara pun tiada guna lagi jika pasangannya itu sedang terbawa emosi.
Dia lalu menoleh, meneliti ekspresi wajah laki-laki kecil di sebelahnya. Pipi itu masih basah. Bekas sendu yang akhirnya luruh perlahan malam itu.
Tangannya menyentuh lembut bahu Taehyun yang terasa kaku karena isakan yang ditahan. Kepala dibawa menyentuh dada, usapan demi usapan Soobin berikan pada rambut adik yang selalu dia anggap kecil itu.
"Masih sesek gak dadanya?"
Suara Soobin terdengar lirih saat bertanya pada Taehyun. Pemuda itu menggeleng pelan dengan kepala yang masih menunduk, enggan menunjukkan ekspresi wajahnya.
Langkah pelan berhenti tepat didepannya. Yeonjun merendahkan tubuh agar bisa menatap wajah pemuda itu, tangannya terulur ke pipi Taehyun dengan gerakan lembut.
Dari sofa tengah, Soobin meregangkan otot sembari menghela nafas berat. Isakan tangis dan gumaman tidak jelas Taehyun sudah cukup menjadi alasannya untuk turun tangan.
Benar kata Yeonjun, dia tidak bisa diam saja melihat adiknya diperlukan seperti ini oleh Beomgyu.
—_🐻🐱_—
"Jadi? Belum puas nyari kupu-kupunya?"
Suara dingin itu menginterupsi indra pendengaran Beomgyu. Suasana hati yang awalnya ringan dan bebas kini menjadi lebih tegang dan sesak karena kehadiran orang asing itu.
Dia sekarang tengah menatap tajam seorang yang duduk tenang di tepi ranjang, tangannya masih memegang kenop pintu. Berdiri mematung di sana.
Beomgyu berdecih sembari membuang tatapannya dari Soobin. Kakinya tetap melangkah masuk meski bukan ini rencana awalnya. Tak ada binar sama sekali di pantulan mata pria itu, seakan seorang di hadapannya bukanlah sosok yang penting.
"Gw paham, Gyu... Lu masih belum bisa nerima second marriage ini. Tapi, bukan berarti—"
Kalimat itu menggantung di udara kamar. Keheningan menjadi satu satunya hal yang pasti pada detik itu. Atmosfer berubah menjadi abu-abu saat Soobin menangkap sorot tajam dari sudut mata Beomgyu.
"Cukup. Udah sering gue denger yang begituan."
Belah bibir itu terbuka lalu menutup dengan cepat. Kata-katanya menjelma menjadi hela nafas panjang. Soobin balas menatap sorot tajam itu dengan pantulan mata yang seakan mencerminkan isi pikirannya.
Keheningan kembali melanda.
Beomgyu memantik api pada ujung batangan kecil nikotin yang menyangkut di belah bibirnya. Menghembuskan asap tipis dengan acuh.
Matanya melirik pria yang sibuk dengan pikirannya itu, tangannya bergerak mengangkat kotak kecil digenggamnya. Memberikan sebuah tawaran. Karena bagaimanapun, mereka pernah menjadi teman... Sebelum menjadi saudara ipar.
Bukan menjawab. Soobin justru menatap Beomgyu dari tempatnya duduk. Kata demi kata keluar dari mulutnya dengan nada suara yang lebih mirip keluhan.
"Bukan cuman lo yang ditinggal sama Taerin... Gue, keluarga yang lain, temen-temen deketnya dia... Semua juga kehilangan, Gyu. Bukan lo doang."
Soobin menghela nafasnya yang tersendat. Tatapannya beralih ke langit-langit kamar yang seharusnya menjadi saksi bisu perbuatan brengsek dari adik iparnya itu. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh.
"Gue juga udah capek ngomongin hal ini sama lo. Tapi, gue harus gimana? Taehyun juga adik gue, Gyu. Dia bahkan kembarannya Taerin. Gue gak terima sama kelakuan lo ke dia."
Bohong jika setiap ucapan itu tidak menggetarkan hati Beomgyu. Jauh dalam pendamnya, dia mengaku salah. Ini semua salah. Tapi, apalah kata ego? Semua terasa kabur saat dipandang.
Katanya cinta itu buta? Benar. Beomgyu bahkan dibuat tak bisa membedakan mana yang asli, mana yang ilusi.
Katanya cinta bisa melintasi ruang dan waktu? Benar. Bahkan Beomgyu masih bisa melihat sosok wanita Taerin di tubuh lelaki Taehyun. Dan itu membuatnya menjadi gila karena semua itu semu.
Taerin dalam diri Taehyun itu semu. Membuat Beomgyu ingin menepis wajah lelaki itu dari hadapannya, karena selalu terbayang senyuman itu. Bayang-bayang wanita itu. Cintanya...
Yang sekarang telah pergi.
"Jangan pulang malam ini. Gue gak mau Taehyun sesenggukan lagi gara-gara ngeliat wajah lo."
Pesan serupa ancaman itu membuat Beomgyu mengangkat wajah guna menatap Soobin. Matanya bertanya, bibirnya ingin berucap, 'kenapa dia menangis?' tapi suaranya seakan hilang saat mencapai kerongkongan.
Suara ketukan sepatu Soobin menggantung di ambang pintu. Pria itu berhenti bergerak setelah menyentuh kenopnya.
"Kalo lu nyari Gyurin, dia ada sama ibunya Yeonjun. Gue yang nitipin ke sana pas Taehyun tiba-tiba nelpon nyuruh gue dateng. Jangan salahin dia."
Lalu dalam waktu yang terasa kabur bagi Beomgyu, pria itu hilang dari pandangannya. Meninggalkan satu lagi tanya dalam benaknya.
'Apa keadaan Taehyun seburuk itu hingga menyerahkan anak mereka ke orang lain?'
Ahh... Kata itu tidak benar. Harusnya: anaknya dan Taerin.
________________________
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kak Jun si paling sayang adek
(Choi Yeonjun)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Abang Bin yang suka plonga-plongo dulu baru bertindak. (Choi Soobin)