Sebuah pertemuan yang tidak terduga, Cinta yang tidak ku sangka akan menjadi alasanku untuk tetap bertahan di dunia ini. Orang yang tidak kuduga menjadi pengisi ruang hampa di dalam hatiku ini. Meski terhalang jarak, bukan menjadi masalah bagi kami untuk saling mencintai.
Ya, seperti yang kukatakan tadi... Kami berjumpa dengan jarak yang tidak bisa masuk kategori dekat.
Namaku Laskar Ismara kencana. biasanya sih dipanggil Laskar, tapi banyak teman di media sosial yang memanggil mara. karena itu, yang salah paham mengenai jenis kelaminku. Dianggap perempuan sudah jadi hal wajar bagiku, terkadang mereka percaya dengan fakta dan ada juga yang tetap kukuh dengan kepercayaan mereka.
Saat ini aku duduk di bangku SMA kelas 10, seorang perantau yang jarang keluar rumah.
Hidup ini jadi terasa menyedihkan dan bosan.
80% keseharianku diisi dengan berinteraksi di media sosial. Di sana, diriku berubah total. Gaya berbicara, pola pikiran, perilaku dan sifat, semua bukanlah diriku yang asli.
Pertemuanku dengannya juga berawal dari media sosial. Ya, dia. Perempuan imut menggemaskan layaknya kelinci. Dia yang ku maksud ini adalah Rhea Kaatiya, kami kenal melalui suatu grup dari aplikasi per- pesanan instan.
Aku suka padanya. Aneh, Pertemanan yang biasa saja, setiap hari hanya melakukan perbincangan standar antara dua orang teman. Terkadang di grup, kadang juga secara pribadi.
Rhea tergolong perempuan yang periang, menyenangkan, dan selalu memancarkan aura keimutannya setiap saat, Rhea juga lebih muda dua tahun dariku. Aku menyukainya, rasa suka ini tumbuh cepat bagai tanaman lumut.
Kunci hatiku berada ditangannya. namun Rhea memilih gembok lain untuk ia buka.
Tapi itu bukan masalah. karena masa lalu, aku mengunci hatiku dari siapa pun, hingga kutemukan orang yang memilikinya dan tidak akan kubiarkan hal itu ku lepas gitu aja.
“Rhea harus jadi milikku!”
batin ku, tiap pagi ucapan selamat pagi tidak pernah absen. “selamat pagi Rheaa.” “Pagi juga maraa, disini cerah mar.” “Hm... disini mendung, kayaknya yang cocok nyinarin aku emang cuma kamu deh.” Gombalanku keluar, biasanya ampuh. Tapi ia hanya tertawa, mengecewakan.
Ia seorang seniman, kuakui karyanya sangat bagus dan lucu. Momen yang tepat untuk menyenangkan hatinya.
“wah... Bagus banget gambaran kamu, keren banget sih.”Pujiku, “Bohong ih mana ada bagus gini. Huuu” Ditolak.
yah... Seniman mana yang ga suka karyanya dipuji coba. kupikir sudah bisa untuk mendapatkannya. Selama hampir tiga bulan kulakukan hal yang sama dengan sedikit beberapa tambahan usaha seiring berjalannya waktu.
Namun, tetap saja tidak tersampaikan. Rhea susah menangkap kode-kode yang kuberikan selama ini. Belum lagi seperti kata ku tadi, ia juga sedang tergila-gila dengan satu pria yang kriterianya berbanding terbalik denganku.
Aku sudah tak tahan dengan hal ini. Jika sebatas kode-kode tidak bisa ia tangkap, kalo gitu harus ku ungkapkan langsung. Kubuka ponselku, kulihat dan kupandang lama nomornya. Tarik nafas.... Huhhhh, Saatnya.
Ketikan pertama membuat jari-jari bergetar sangat kuat, “Rhea, selamat soree...” tak lama Rhea langsung melihat pesanku dan membalas dengan sapaan juga. Ku lanjutkan aksiku, “Rhea, aku mau ngomong sesuatu, Aku suka sama kamu.”Dia membacanya, tapi tidak membalas sama sekali, setelah beberapa saat barulah ia membalas.
“Maaf ya mara, aku tau kamu cowo. Tapi aku gatau bisa sama kamu apa nggak, belum lagi nanti gimana orang orang yang kenal kamu sebagai cewek malah liat punya pacar cewek juga. Maaf ya.”
Terdiam, merenung, mencerna kata-kata. Dan akhirnya kujawab dengan bijak dan berwibawa. “Hahaha maaf ya ganggu.”
Sial ketolak.
“Ya sudahlah.”Akhirnya kuputuskan merelakan perasaan dan usahaku selama ini. Terkesan cuek, padahal aslinya sempat menangis semalaman agar bisa berucap seperti itu.
Sekarang kucoba melupakan dia. Fokus pada pelajaran disekolah, bermain video game di rumah, dan pergi jalan bersama teman. Pria menyedihkan yang tidak bisa melupakan perasaannya yang terhalang jarak.
**********
“Mara, ayo nonton konser. Mumpung bagus guest star-nya.”
Reza, kakak ku satu satunya yang sangat menyukai musik. Ia juga membantuku selama ini untuk mendapatkan Rhea, ia mengajak ke sebuah konser besar yang akan menghadirkan para penyanyi dengan genre indie dan beberapa lagu pop folk jazz.
“Udah lupain aja kalo emang gak bisa. mumpung lagunya cocok nih, keluarin aja semua.” Ucap kak Reza seakan mengejek takdir. Memang menyedihkan, konser ini cocok dengan kondisi ku. Sedih rasanya mendengar musik yang seolah mewakili isi kata hatiku selama ini. Namun lagu itu membuatku tersadar.
jika bukan Rhea, lalu siapa?
sebuah pesan masuk. hal yang tak terduga, Ini pertama kalinya Rhea mengirimi ku pesan. Tangan bergetar, keringat berkucur dikala malam begini, berdegup kencang.
Kak Reza tersenyum. “wah-wah, apaan nih. Kok pas ya, aduh... Sayang banget dilewatin ini. Tembak gak, sih?”
Perasaan aneh datang, kubuka kontak nomornya. Ia menyapa ku, pertama kalinya Rhea menyapa duluan. “Kenapa Rhe?” Tanyaku yang tak lama ia balas. “Rhea, sebelumnya ada yang mau aku omongin sama kamu, boleh?” hati ini berdegup hebat. “Eh, aku juga mau ngomongin sesuatu.”
Aku terdiam. “kamu duluan aja Rhe yang ngomong.”
Ia mulai mengetik. “Maaf ya Mar, selama ini aku gak ngeh sama perasaan kamu.” Mataku terbelalak seakan tak percaya.
“Mar,waktu itu kamu yang confess kan? Kalo gitu giliran aku yang confess."
“aku juga suka kamu Mar, kamu mau ga jadi pacar aku?.”
Aku terdiam, benar benar diam.
“Aku mau ngomong itu Mar, sekarang, kamu mau ngomong apa? Please pengen ngomong mau.” Ujar Rhea.
“Gajadi Rhe, yang kamu omongin kebetulan udah 2 in 1 tadi sama punyaku.”
Setelah itu semua berubah, ucapan selamat pagi kini ada tambahan emoji hati, tidak ada lagu sedih lagi, tidak ada Rhea dan Mara lagi diantara kita, adanya panggilan "sayang".
jarak bukan penghalang bagi cinta yang mau berkembang.
YOU ARE READING
Jarak
RomanceDisaat orang lain mengeluh dengan mengucap "Jarak memisahkan kita" Ada orang-orang yang bersyukur dengan berkata "Jarak menemukan kita" Jarak bukanlah masalah bagi mereka yang benar benar memahami cinta. Banyak celaan yang diterima ketika oran...
