- MaxkyBas -
.
.
.
Berkuliah diluar negri.
Padahal itu adalah keinginan dan juga pilihannya, tapi kenapa rasanya hampa.
God merasa Kosong selama 3 tahun dirinya berkuliah di luar negri, saat satu tahun pertama memang terasa bahagia tapi mejelang tahun ke dua dan sekarang tahun ke 4, rasanya sangat membosankan dan terasa ada yang kurang. entah apa yang dia cari atau siapa? God tidak tahu, dia hanya merasa.... ada yang hilang.
Berkuliah diluar negri melanjutkan s2 nya bersama sang tunangan Richi Oranet. Tinggal bersama dan menghabiskan waktu bersama.
Tunangan
God menatap jari manisnya yang tersemat cincin tunangan, kenapa dia merasa tidak bahagia? Kenapa debaran jantung itu tidak pernah lagi terasa menyenangkan.
Richi adalah seorang wanita yang selama 2 taun God kejar mati-matian saat mereka masih berkuliah di universitas Bangkok. Dan karena itu saat tahun kedua wanita itu menerimanya God mengumumkan dengan lantang bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
2 tahun mereka menjalani romantisme sebagai kekasih, di tahun terakhir mereka di universitas Bangkok mereka memutuskan bertunangan sebelum berangkat melanjutkan kuliah spesialis mereka diluar negeri bersama.
Melihat tuangannya yang duduk tenang menunggunya selesai bekerja, terlihat sangat imut. Walaupun tidak ada keimutan dalam wajah tampan tunanganya.
"Hei, kenapa melamun, apa ada masalah?"wanita dalam lamunannya menariknya dalam kesadaran God.
"Tidak, bukan apa-apa"jawab God dengan senyuman tipis.
Walaupun tidak yakin Richi hanya mengangguk mengerti, tidak ambil pusing dengan sikaf yang terkesan cuek sang tunangan, karena sudah cukup lama tunangannya itu bersikap seperti itu tidak lama setelah mereka memutuskan berkuliah bersama di luar negri. Sikap manis dan romantis yang dulu selalu membuat Richi tersenyum bahagia kini lebih sering menjadi senyuman memaklumi. Entah apa yang terjadi dengan sang tunangan, Richi mencari tahu pun, tidak mendapatkan apa-apa. Tunanganya tidak selingkuh atau dekat dengan siapapun. Jadi dia hanya menerima sikap God yang mulai cuek.
Richi meraih lengannya, menggandeng tangan tunanganya untuk pulang.
Mereka berjalan kearah parkiran.
"Kita jadi pulang Minggu depan?"
"Hmm"
"Bagaimana dengan rencana pernikahan kita? Kau sudah membicarakan itu dengan orang tuamu?"
"Itu, lupa. Aku belum sempat. Kita bicarakan nanti dirumah" jawaban God menghentikan sepasang kaki jenjang yang berhias heels cantik berwarna hitam serasi dengan dres mini yang sedang di pakainya.
"Nanti?! Kapan? Kau selalu seperti itu, terus mengulur waktu. Sebenarnya kau berniat menikah dengan ku atau tidak?!"
God menghela nafas, God sendiri tidak tahu kenapa dia menjadi ragu dan terus mengulur waktu. Dia hanya merasa ini bukanlah waktu yang tepat, masih ada yang mengganjal di hatinya.
"Tentu saja, untuk apa aku memasangkan cincin dijari manismu kalau aku tidak berniat menikahi mu?" Bohong God.
"Lalu kenapa kau terus mengulur waktu dan mengalihkan pembicaraan saat aku akan membahas pernikahan?"
"Aku? Tidak."
"Kau pikir berapa lama kita bersama, sampai aku tidak bisa membedakan ketika kau tidak ingin membahas sesuatu? Lupa? Kau adalah orang yang hampir tidak pernah melupakan sesuatu yang penting menurut mu!"
