Airpods

7 0 0
                                        

Hari itu Azeta sedang berjalan beriringan bersama Ashilla atau lebih sering dipanggil Cilla, teman dekatnya yang sudah bersamanya selama dua tahun ini.

“ZETAAA!!”
Cilla langsung menarik lengan Zeta saat mereka baru saja duduk di bangku kelas.

“Apa sih?”
“Airpods gue… ilang!”
“Coba cari di tas lo…”
“Udah! Nggak ada! Terakhir gue inget masih make pas turun dari mobil lo!”
“Ya udah abis kelas-”
“Nggak bisa! Sekarang! Sekarang juga! Please!”

Zeta berdecak pelan. “Cil, keburu kelas…”
“Mending telat daripada airpods gue ilang beneran!” lagi-lagi cilla memotong perkataan Zeta.
“Beli lagi aja…”
“MAHAL, ZETA. Lo kira belinya pake daun?”
“Nanti gue yang beliin...”
“Kita cari aja dulu ta... ” Ucap Cilla agak memaksa.

Dan akhirnya, mereka pun keluar kelas buru-buru, berjalan cepat ke arah parkiran tempat Zeta memarkirkan mobilnya.

Cilla berjalan lebih cepat, nyaris berlari. Zeta tertinggal beberapa langkah, sambil menggerutu pelan.

“Demi airpods doang anjir...”

Sampai akhirnya mereka sampai di area parkir.
Cilla memutari mobil dengan panik. Zeta mencari disekitarnya sambil meliat-liat ke bawah. Sampai akhirnya…

“…Cil.”

Zeta menunjuk sesuatu di samping ban mobil hitam yang berada disamping mobil milik Zeta. Airpods berwarna putih itu sudah gepeng. Hancur. Tergeletak di lantai parkiran.
Wajah Cilla langsung pucat.

“YA AMPUN!!! ITU BENERAN AIRPODS GUE?!”
Dia langsung mendekat, lalu-

“BRAK!!”
Cilla menendang ban mobil itu keras-keras.

Zeta kaget.
“CIL!! Astaga jangan nendang mobil orang!!”

“Ini pasti kelindes mobil ini nih! Pokoknya lo bantuin gue nglabrak yang punya!”

Zeta geleng-geleng sambil menutup muka.
“Udah, gue beliin baru aja deh. Gue takut urusannya panjang-”

“Nggak bisa! Enak aja!” Emosi Cilla semakin memuncak.

Dan saat itulah situasi makin buruk. Dari arah lorong, dua laki-laki berjalan santai ke arah mereka

“…CIL. BALIK. SEKARANG.” bisik Zeta panik.

“Apa sih lo?”
“Ini kakaknya mobilnya mereka...”
“Hah?! Sia-”
“SSSTTT!! Balik sekarang!”

Tapi belum sempat mereka putar balik, Jake sudah melihat mereka.

“Kalian ngapain?”

Zeta menelan ludah. Sedangkan Cilla? malah menunjuk airpods hancurnya yang masih tergeletak di lantai.

Jake dan Evan menoleh kearah telunjuk Cilla.

“Jadi?” Evan menanggapi santai.

“Nggak jadi apa-apa kak! Misi kak!” Zeta tersenyum paksa.
Langsung buru-buru dia menarik paksa Cilla menuju kelas.

“Tadi mereka mau minta ganti rugi?” tanya Jake bingung.

Evan tidak menjawab. Masih memandangi ke arah Zeta pergi. Jake melirik Evan yang tidak menjawab.

“Kenapa? Lo kenal?” tanya Jake

Evan menggeleng pelan.

“Gue nggak pernah liat mereka” jawab Evan pelan sambil membuka pintu mobil. Jake ikut masuk lewat pintu sebelahnya.

“Yang nunjuk tadi anak ilkom, kalo yang satunya nggak tau, gue juga baru liat. Cantik juga" Jawab Jake sambil memasang seatbelt.

Evan tidak berkomentar. Tangannya tenang menyalakan mesin mobil, bersiap meninggalkan area parkir.

--------

Zeta pikir, masalah airpods sudah selesai.
Cilla juga sudah tenang. Bahkan sekarang dia sibuk memilih warna casing untuk calon airpods barunya, sambil bergumam,
“Yang matte apa glossy ya? Warnanya harus match sama vibes gue.”

Zeta hanya tersenyum kecil.
“Gue belinya minggu ya, sekalian ngajak kak Jay, dia mau ke mall juga.”

“oke deh! Thankyou mami zetaa...!” Cilla merangkul zeta sambil mencium pipi Zeta.

“Eh, APAAN SIH!” Zeta langsung menjauh sambil mengusap pipinya memakai tisu yang ada di meja. “Geli tau!”
“Biar lo tau betapa berharganya lo di hidup gue!”
“Gue bukan pacar lo, Cilla…”
“Yaudah gapapa, kita soulmate.”

Zeta hanya bisa mengelus dada. Tapi setidaknya, urusan airpods dianggap selesai.

Dan setelah itu, semuanya kembali normal. Kuliah, tugas,dan Cilla yang drama.

Itu yang dipikirkan Zeta.

Sampai sore nya...

Zeta baru saja keluar dari kelas terakhirnya. Dia berjalan ke parkiran dengan langkah ringan, tas selempang disampirkan di bahu. Langit sudah berubah warna menjadi oranye keemasan. Dia mencari-cari kunci mobil di dalam tasnya

Sampai langkahnya berhenti.

Di samping mobil milik Zeta, berdiri seseorang.

Evan.

Tinggi, memakai hoodie hitam, bersandar pelan di mobil hitamnya sendiri. Tapi yang membuat Zeta gugup bukan penampilannya, melainkan kenyataan bahwa dia berdiri di situ, di samping mobil Zeta.

Zeta menarik nafas pendek dan berjalan mendekat.
“permisi kak...”

Evan menoleh. Tatapan matanya jatuh ke wajah Zeta.

“Gue nungguin lo.”

Zeta membeku sesaat. “...Gue?”

Evan berjalan sedikit lebih dekat, tangannya di saku hoodie, menatap langsung ke mata Zeta.

"Gue mau gantiin airpods waktu itu" Ucap Evan to the point.
Zeta langsung geleng buru-buru.

“Oh… nggak usah! Itu punyanya temen gue, Cilla. Udah mau beli yang baru kok. Serius, nggak usah.”

Evan melirik mobil Zeta, lalu kembali lagi ke mata Zeta.
“Tapi gue yang ngelindes, kan?”

Zeta semakin bingung harus menjawab apa.
“Beneran nggak apa-apa kok. Kita juga yang ceroboh lagian, itu bukan salah lo juga…”

Evan diam sebentar.
“Besok minggu. Gue jemput jam dua. Kita beli airpods baru buat temen lo.”

Zeta bengong. “Hah? Tapi kak-”

“Nggak usah tapi-tapian, mana nomer lo? Besok share loc. rumah lo.”

Zeta kaget. Rasanya otaknya tiba-tiba lemot, tapi akhirnya tangannya menyodorkan ponselnya juga.
“...Oke.”

Evan mengambil-nya. Masukkan nomor. Kirim satu chat.

“Udah.” Evan mengembalikan ponsel Zeta.
Lalu dia menunjuk mobil di belakang mereka.
“Itu mobil lo?”
Zeta mengangguk.
“Iya.”

Evan tersenyum kecil.
“Oke,” katanya pelan.
“Hati-hati nyetirnya.”

Zeta bahkan tidak sempat menjawab, Evan membuka pintu mobilnya, masuk kedalam, dan dalam hitungan detik, mobil hitam itu pergi. Diam-diam. Tapi meninggalkan efek yang tidak sesederhana itu.

Zeta masih berdiri di sana.
Kunci mobil di tangan. Tapi dirinya seperti belum siap untuk kembali ke realita.






To be continued.....

PLOT TWISTWhere stories live. Discover now