Meet the Cast: Janda & Tetangganya

63 11 0
                                        


(30 tahun, janda muda berkelas, food stylist, dan pemilik masa lalu yang sekarang nyuci mobil yang sering mereka pake di sebelah rumahnya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

(30 tahun, janda muda berkelas, food stylist, dan pemilik masa lalu yang sekarang nyuci mobil yang sering mereka pake di sebelah rumahnya.)

Nama gue Jennie Anastasya Halim.

Anak tengah dari keluarga Halim yang—kalau kata brosur properti—"terpandang dan terpercaya sejak 1985."

Bisnis keluarga gue ada di mana-mana: properti, katering, sampai coffee shop hits di Senopati yang katanya "cuma buat gaya-gayaan", tapi anehnya selalu rame karena desainnya instagramable dan ada colokan di semua sudut.

Gue anak baik. Serius.

Nggak pernah kabur malam. Nggak pernah bantah orang tua.

Nggak pernah bales chat grup keluarga cuma pakai stiker jempol goyang.

Gue sopan, sadar kapasitas, dan paham cara bilang "nggak" dengan kalimat pasif-agresif yang manis.

Sekarang umur gue 30 tahun.

Status: Resmi jadi mantan istri dari Jonathan Mahesa Atmadja, setelah lima tahun pernikahan yang... hmm, bisa dibilang kayak nasi goreng: awalnya hangat dan enak, tapi lama-lama kebanyakan micin dan bikin pusing.

Gue kerja sebagai food stylist dan content creator masakan.

Ngatur plating salmon dan lighting telur ceplok adalah keseharian gue.

Kadang juga review restoran, kadang bantu katering keluarga kalau chef-nya absen.

Banyak yang ngira hidup gue sempurna.

Anak orang kaya, wajah lumayan (kata tante arisan), karier jalan, dan suami yang—waktu itu—kelihatannya ideal: ganteng, santai, bisa masak, dan nggak alergi sama brunch di weekday.

Tapi hidup nyata nggak seimut tampilan IG.

Gue dan Johnny nikah pas umur 25, dalam euforia "kita cocok banget, kita tuh soulmate, kita harus nikah sebelum orang lain nyadar kita jodoh."

Ternyata... pernikahan tuh bukan cuma soal cocok pas liburan bareng.

Tapi juga cocok pas milih tisu toilet.

Cocok pas diem-dieman habis berantem.

Cocok pas satu pengin nonton film, yang satu pengin diam dalam kegelapan dan overthinking.

Kita sering ribut soal hal remeh, dan makin ke sini makin sadar:

"Kita cinta, tapi nggak sejalan."

"Dan lebih dari itu, kita belum selesai dengan versi muda dari diri sendiri."

Akhirnya, kita pisah.

Bukan karena benci. Tapi karena... ya, capek.

Pisahnya pun kalem: nggak ada lempar piring, cuma lempar pandangan kosong dan napas panjang.

Ex(es) Next DoorWhere stories live. Discover now