---
💍 Bahagia — Di Bawah Pohon Kenangan
Hari itu, langit tak begitu cerah. Tapi Rin tersenyum, karena ia tahu—bahagia tak butuh matahari.
Cukup dengan orang yang menunggumu di ujung altar kecil, dengan setelan putih yang sedikit kusut karena gugup.
> “Kau yakin kita bisa menikah tanpa undangan, tanpa keramaian?” tanya Woojin.
“Kurasa… yang datang nanti akan lebih penting dari semua undangan di dunia.”
Rin mengenakan gaun putih sederhana, tanpa kerudung. Di rambutnya, terselip satu kelopak bunga—bunga pertama yang mekar dari pohon kenangan yang ia tanam setahun lalu.
Di bawah pohon itulah mereka berdiri.
Hanya berdua. Atau… begitulah yang mereka kira.
---
Saat Woojin hendak mengucapkan janji, daun-daun bergetar. Bayangan muncul dari balik pepohonan.
> Beru, dalam wujud manusia bertubuh tinggi, berdiri kikuk sambil membawa bunga liar.
Igris, dalam balutan jas hitam klasik, berdiri tegak dengan ekspresi tetap dingin… tapi matanya berbinar.
> “Maaf kami terlambat, Ratu,” ucap Beru dengan suara pelan.
“Kami… hanya ingin memastikan bahwa kau benar-benar bahagia. Dan bahwa Raja kami akhirnya menepati janjinya.”
---
Rin tertawa kecil. Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena luka.
Melainkan karena rasa syukur yang begitu dalam.
> “Terima kasih telah datang… meski aku bukan bayangan lagi.”
> “Kau mungkin bukan bayangan…” ucap Igris, “…tapi kau adalah cahaya yang membuat kami hidup.”
---
Di bawah pohon itu, mereka bersumpah.
> “Aku, Woojin, memilihmu, Rin. Dalam hidup ini dan apa pun setelahnya. Bukan karena takdir, tapi karena kau adalah rumahku.”
> “Dan aku, Rin… memilih untuk hidup. Bukan untuk dunia. Tapi untuk kita. Karena kali ini, aku tak akan pergi lagi.”
---
Mereka saling menggenggam tangan.
Dan saat angin berhembus pelan, kelopak bunga dari pohon kenangan jatuh satu per satu… seakan mengucapkan:
> "Akhirnya, mereka pulang."
---
🖤 Penutup Alternatif (Jika Kau Ingin Membacanya Lagi dan Lagi…)
> Woojin menuliskan sebuah catatan kecil yang ia sembunyikan di bawah akar pohon kenangan:
> “Jika seseorang menemukan ini suatu hari… ketahuilah bahwa dunia pernah melahirkan seorang bayangan yang mencintai terlalu dalam, dan seorang manusia yang terlalu pengecut. Tapi mereka akhirnya bertemu di dunia yang tak mengenal air mata.”
---
