PROLOG

11 1 0
                                        

"Langkah yang Menuntun ke Andalusia"

Dari kecil, Abraham Ayden Keefe tumbuh di bawah naungan langit pesantren.
Hidupnya dikelilingi kitab kuning, kayu serambi masjid yang berderit saat langkahnya melintas, dan suara pengajian subuh yang menjadi alarm alami.

Ayden mondok selama sepuluh tahun.
Sepuluh tahun yang membuatnya paham bahwa ilmu bukan hanya soal hafalan, tapi tentang penghayatan.
Dan penghayatan itu membawanya pada sebuah mimpi:
mempelajari Islam dari akar peradaban—dari Andalusia.

Tempat yang dulu menjadi rumah bagi para cendekiawan seperti Ibn Rushd, Al-Zahrawi, dan Ibn Hazm.
Tempat di mana perpustakaan Islam terbesar di dunia pernah berdiri—dan terbakar.
Bukan hanya karena perang, tapi karena ketakutan akan cahaya ilmu yang terlalu terang.

---

Ayden tak berangkat sendirian.

Isaaq Zaydan, teman seperjuangannya sejak di Indonesia, menemaninya ke negeri itu.
Mereka tertawa, saling ejek, saling dukung—dua anak muda yang ingin tahu lebih dari sekadar apa yang tertulis di buku.

Sementara itu, jauh di kampung halaman, seseorang menatap langit malam dengan tangan menekan dada.

Khumei Arsyaela. Syae.
Sahabat masa kecil Ayden. Tetangganya. Teman main masa kecil, teman diskusi paling sabar, sekaligus...
perempuan yang menyimpan perasaannya sendiri dalam doa-doa panjang.

Tapi Ayden tak tahu.
Atau mungkin... memilih untuk tidak tahu.

Karena sesampainya di Andalusia, di antara suara azan maghrib dan lorong-lorong perpustakaan,
ia bertemu seseorang.
Seorang gadis bermata cokelat terang bernama Acela Buthaynah.

Acel.

Matanya seolah membawa langit senja ke dalam dunia Ayden.
Dan sejak hari itu, setiap Ayden melihatnya, ia hanya bisa menunduk, menjaga pandangan—dan hatinya.

Namun... bisa kah hati dijaga dari rasa yang tumbuh tanpa izin?

AndalusiaStories to obsess over. Discover now