🎀17.The entertainment business 🎀

20 0 0
                                        

“Ini tidak terlalu serius. Kamu tidak perlu datang.”
Wanita dengan seragam pasien itu melirikku saat aku memasuki ruangan.
Dia berbaring tenang di ranjang pasien, tangan kirinya menekan ponsel ke telinga.
“Ya, aku sudah masuk rumah sakit... Badanku sedikit nyeri... Sedikit saja... Kamu tetaplah di acara itu, Prang... Aku harus menutup telepon sekarang. Kita bicara nanti.”

Phi Ploy menyapaku dengan senyum tipis dan lesung pipit menggemaskan saat aku mendekat.
Lalu dia menghela napas ketika ponselnya kembali berdering.
“Halo.”

Wajah cantiknya masih dipenuhi riasan yang dipakai saat acara.
Lengan kanannya hampir sepenuhnya dibalut perban sampai bahu.
“Apakah beritanya sudah tersebar?”
Kami saling berpandangan saat Phi Ploy berbicara di telepon.
“Ini bukan cedera besar. Ya, orang yang pernah bermasalah denganku.”

Aku mendekat dan mencium pelipisnya, lalu menyandarkan pipiku ke wajahnya saat kami berpelukan.
“Aku akan ceritakan detailnya nanti... Aku harus pergi dulu, Min... Kamu tidak perlu datang... Oke... Aku serahkan padamu.”

Aku menggenggam tangan Phi Ploy yang dingin dan lembut.
“Bagian mana yang sakit?”
“Kenapa yang menjengukku malah menangis?”
Aku belum sempat menjawab ketika seseorang masuk ke ruangan, membuatku buru-buru menyeka air mata.
Phi Ploy menghela napas lagi.
“Kamu sudah sampai, Nong Pun? Padahal saat menanyakan nomor kamar, kamu bilang masih di jalan, kan?”

Pertanyaan itu datang dari sekretaris Phi Ploy. Sejak aku semakin dekat dengan Phi Ploy, kami beberapa kali bertemu singkat, biasanya saat dia membawakanku sesuatu atau membantuku.
Tapi sebagian besar, aku hanya mendengar suara dia di telepon.

“Iya. Temanku tadi salah masuk jembatan dan harus memutar jauh. Karena banyak jalan ditutup, lalu lintas jadi macet parah, jadi aku turun dari mobil dan jalan kaki ke sini duluan. Kalau enggak, aku mungkin belum sampai sekarang.”

“Kamu sampai lumayan cepat juga. Selain Miss Dream dan aku, hanya kamu yang sudah sampai.”
“Phi Ji, aku ingin istirahat. Ada hal penting?”
Phi Ploy langsung memotong. Jelas terlihat ia semakin kesal.
“Aku hanya ingin memberitahu semuanya sudah aku urus. Aku akan ambil pakaian dan barang-barangmu. Ada lagi yang bisa kubantu?”
“Min akan datang malam. Kamu bisa titipkan barang-barangku padanya, jadi kamu tidak perlu repot-repot datang lagi.”
“Satu hal lagi. Miss Dream titip pesan bahwa dia akan menemanimu setelah selesai bekerja. Perlu aku atur ulang jadwal?”
“Tak apa. Biar aku urus sisanya. Kamu bisa kembali kerja. Kalau butuh bantuan lagi, aku akan hubungi kamu.”
“Oke. Kalau begitu aku pamit.”

Phi Ploy mengangguk, lalu menoleh padaku saat kami kembali berdua.
“Apa kata dokter?”
“Lutut kanan, pinggul, dan bahu kananmu memar.”
Aku membuka perban di lutut kanannya dan melihat memarnya.
“Kamu harus dirawat karena ini?”
“Aku bilang ke dokter kalau kepalaku juga pusing, jadi mereka ingin mengawasi semalam.”
“Kepalamu juga terbentur?”
Tanyaku pelan, seolah takut kalau suara terlalu keras bisa membangkitkan ingatannya tentang kejadian sejam lalu.
“Tidak.”

Senyuman nakal muncul di wajah Phi Ploy sambil menggeleng pelan.
“Tapi seluruh tubuhku pegal.”
“Kamu jatuhnya gimana?”
“Aku tersandung tunggul.”
Mata Phi Ploy yang berkilau tampak menahan tawa.
“Tolong cek berita, ya? Orang-orang bilang apa di media sosial?”
Meski aku tak mengerti kenapa dia begitu tenang, aku tetap mengikuti permintaannya. Aku tarik kursi mendekat ke ranjang dan mulai mencari.

Berita menyebar cepat di internet. Beberapa video insiden tersebar, termasuk momen saat Phi Ploy jatuh dari panggung.
“Salah satu komentar bilang, ‘Dia tetap cantik bahkan saat jatuh dari panggung’.”
Senyum kecil muncul di wajah orang yang jadi bahan berita itu.
“Juga ada yang bilang, ‘Gosip bahwa pemeran utama dan pemeran antagonis tidak akur tampaknya benar...’ Kamu ada masalah sama Annie? Waktu kalian di atas panggung, aku merasa ada yang aneh. Media juga menangkap itu.”

plyStories to obsess over. Discover now