podcast yang tidak tayang

395 18 3
                                        

Flashback pertengahan juli 2024
Podcast yang tidak tayang

Langit Jakarta sedang mendung ketika Didit menatap layar ponselnya cukup lama. Undangan podcast itu sudah masuk sejak seminggu lalu, dari seseorang yang cukup dekat dengannya, Om Deddy Corbuzier.

Awalnya Didit ragu. Ia memang bukan sosok yang nyaman berbicara panjang di depan kamera, apalagi soal hal-hal pribadi. Tapi Deddy bukan hanya tokoh publik, dia juga teman lama keluarga, dan lebih dari itu... Deddy sudah lama menghargai privasinya.

Di sebelahnya, Pinka yang saat itu baru jadi kekasihnya sekitar hampir 3 bulan, duduk sambil membaca buku. Ketika Didit menghela napas panjang, Pinka langsung menoleh.

“Kamu kenapa, Mas?”

Didit menunjukkan layar ponselnya. “Om Deddy ngajak podcast. Tapi aku... agak ragu.”

Pinka tersenyum. “Kenapa? Bukannya seru?”

Didit menggeleng pelan. “Mas bukan orang yang suka ngomong banyak. Apalagi kalo ada kamera, apalagi ngomongin tentang hal pribadi.”

“Kalau kamu nggak nyaman, nggak usah. Tapi... kalo kamu mau coba, aku bisa temenin,” ucap Pinka lembut.

Didit tersenyum. “Mau nemenin atau ngejagain biar mas gak keceplosan?”

Pinka nyengir. “Dua-duanya.”

Didit menatapnya. “Kamu yakin?”

Pinka mengangguk. “Asal kamu yakin tempatnya aman. Aku ikut, duduk manis di belakang kamera.”

Didit tertawa kecil. Dan akhirnya ia mengirim pesan balasan ke Deddy: “Oke, gue dateng. Tapi gue bawa someone.”

---

Hari itu pun tiba.

Mereka disambut hangat oleh Deddy dan beberapa orang timnya. Pinka merasa sedikit gugup, tapi ia tersenyum ketika Deddy menyapanya dengan ramah, bahkan menggoda Didit, “Wah, ini yang bikin lo makin bersinar ya, Dit?”

Didit hanya tersenyum kaku. Pinka menunduk, malu.

Studio podcast milik Deddy Corbuzier siang itu terasa sejuk oleh pendingin ruangan, tapi juga menegang karena topik yang akan dibahas.

Pinka duduk di ruang kontrol, di balik kaca, mendengarkan dengan headset. Ia mengenakan blus hitam dengan celana jeans, wajahnya netral, meski hatinya berdegup kencang. Ia memperhatikan Didit yang duduk agak tegang di hadapan Deddy, tapi tetap elegan dengan kemeja hitamnya.

“Welcome to the podcast,” buka Deddy sambil menyalakan mic dan melempar senyum tipis. “Hari ini saya kedatangan tamu... yang kalau saya jujur, sangat jarang banget muncul di media. Bahkan... mungkin ini podcast pertamanya secara publik. Please welcome... Ragowo hediprasetyo Djojohadikusumo atau lebih dikenal dengan Mas Didit Hediprasetyo!”

Didit tersenyum, menjabat tangan Deddy.

“Terima kasih udah undang saya, om. Ini agak di luar zona nyaman saya sebenarnya…” ucap Didit sopan dan tertawa di akhir kalimat

“Justru itu yang bikin menarik! Banyak orang tahu kalo lo dari nama besar keluarga. Tapi gak banyak yang tahu... sisi manusiawinya Didit. So, hari ini kita ngobrol bebas. Siap?”

Didit mengangguk pelan.

“Siap, insya Allah.”

“Gimana rasanya, Dit? Jadi anak dari dua tokoh besar bangsa?”

Didit tertawa kecil. “Wah, langsung dibuka gitu, ya, Om…”

“Ya, gimana dong. Fakta itu kan. Lo calon anak Presiden. Dan cucu dari Pak Harto.…”

cinta dua dinastiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang