Tag me: NOVELOBOI12
Name Wattpad: rispunyacerita
Genre dialog: romance
Write your dialog here:
———
Mentari pagi bersinar terang, menyambut ku. Senyuman ku merekah begitu saja, melihat burung burung berkicau dengan merdu nya.
"Ris!" ujar seseorang sedikit berteriak. Suaranya begitu familiar bagi ku.
Aku menoleh begitu saja. Dan aku melihat pemuda berlari kecil menyusul ku. Itu Ice...
"Ice?" Tanya ku memastikan.
"Iya Ris, ini aku ice"
"Teman masa kecil mu" lanjut nya.
Ice tersenyum tipis, netra nya bertatapan dengan mata ku.
"Hahaha, kau masih seperti biasa ya ce?" tanya ku mencair kan suasana.
"Iya" jawab nya santai.
"Ris, sudah lama kita tidak bertemu" lanjut nya.
"Kau menghilang begitu saja ice" celetuk ku sedih.
"Aku mencari mu asal kau tau" jawab ku tersipu malu.
Ice yang melihat itu sedikit terkekeh dan mengusap kepala ku pelan. Sama seperti dulu.
"Terimakasih sudah menunggu ku tuan putri" ucap Ice, sembari mencium punggung tangan ku.
"Sudah hampir lima tahun kita tak bertemu tuan putri"
Ice menarik tubuh ku untuk mendekatinya.
"Apasih ice!" ujar ku kaget.
Aku mendorong tubuh ku menjauh dari Ice.
"Ahahaha, masih sama ternyata"
"Dasar gengsi" ucap Ice.
Ice tersenyum licik ke arah ku. Dan aku hanya bisa menunduk malu. Kalau saja aku masih kecil aku tak akan malu, tapi ini?! Ice hampir saja memeluk ku. Ditempat umum lagi!
"Terserah kau ce" ujar ku ketus
Ice yang melihat ku seperti itu sontak memegang tangan ku lembut.
"Tuan putri jangan marah dong, mari kita berjalan menyusuri taman bersama, bagaimana?" tanya nya.
Aku mengangguk pelan sebagai jawaban, sekarang biarkan aku menjadi anak kecil untuk kedua kalinya. Aku mau ngambek sama ice, karena dengan mudahnya ia meninggalkan ku begitu saja tanpa kabar. Selama lima tahun aku menunggu nya, sekarang ia baru datang menghampiriku.
Ice mengelus pipi ku yang kemerahan akibat malu tadi secara pelan. Tangan nya yang sedikit dingin bersentuhan dengan kulit ku yang mulus serta hangat.
"Kau cantik tuan putri" goda Ice.
"Isss, berhenti menggoda ku ce!" ujar ku menahan malu untuk kesekian kalinya.
Ice menggandeng tangan ku dan kita berjalan bersama menikmati indahnya pagi di sekitar taman.
———
Aku dan Ice berkeliling bersama sembari menikmati angin sepoi-sepoi. Dan kita duduk bersama di bangku taman. Setelah lama berjalan jalan menyusuri taman.
"Liat tuan putri ada burung berkicau merdu" ujar Ice.
ia menunjuk ke arah sepasang burung yang sedang bermesraan di atas pohon yang rindang.
"Mereka sepasang seperti kita" celetuk Ice
Aku tersipu malu mendengar nya. Ku rasa dia harus bertanggung jawab karena sudah membuat ku malu berkali-kali dalam hari ini.
"Aku berharap kita selalu disatukan oleh takdir yang baik ya Ice" ujar ku pelan.
Mata ku menatap lekat kepada sepasang burung di depan kita. Ice menarik tangan ku pelan dan mencium punggung tangan ku.
"Itu pasti tuan putri" jawab Ice.
Ia menatap lembut mata ku, dan tersenyum hangat. Seharusnya momen seperti ini harus diabadikan, jarang jarang kulkas di depan ku seperti ini.
Aku terkekeh pelan, tak bisa menahan ekspresi ku yang melihat wajah Ice.
"Tumben kau seperti ini ce?" Tanya ku sembari tertawa pelan.
Ice tersipu malu, ia mengusap wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Setelah lima tahun kita tak berjumpa, aku selalu menantikan mu tuan putri. Jadi izinkan aku untuk menggoda mu setelah sekian lama tak bertemu. Ini juga salah mu berpakaian begitu rapi dan cantik, membuat ku tak tahan kalau tidak menggoda mu" celetuk Ice.
Liat?! Dia begitu menyebalkan. Ia yang meninggal kan ku dan ia juga yang merindukan ku. Ya sebenarnya aku juga begitu. Tapi dia terlalu gemas hari ini, rasanya ingin ku makan saja.
Tangan ku yang lembut mengusap pipi halus nya. Ice yang menerima usapan lembut ku sontak memegang tangan ku dan menahan nya untuk tetap mengelus pipi nya.
"Kau lucu ce, jadi pengen ku makan"
Ice yang mendengar itu sontak kaget. Dan membuat ekspresi marah yang dibuat buat. Liat?! Aku ingin memakan nya.
———
"Sudah sore saja tuan putri" celetuk Ice.
"Waktu tak akan terasa bagi ku jika bersama mu tuan putri" goda Ice.
"Sudah ku bilang ce jangan menggodaku!"
Cukup Ice! Kau begitu sempurna bagi ku. Kau juga yang berhasil memasuki hati ku dengan mudah.
"Aku mencintaimu tuan putri" ujar Ice sembari mencium punggung tangan ku.
"Aku juga ce.." jawab ku.
"Sekarang aku akan mengantar kan mu pulang ke rumah tuan putri"
Ice menggandeng tangan ku, dan aku hanya bisa menuruti kemauannya itu. Ice membukakan pintu mobil nya, ia mencium punggung tangan ku pelan sebelum ia menutup pintu itu.
"Pakai sabuk pengamannya ya tuan putri" ujar Ice lembut.
Ice mengemudikan mobil nya dengan lihai. Netra nya terlihat bersinar karena terkena semburat cahaya matahari.
Aku kagum dengan nya. Dari dulu sampai sekarang.
"Nah, sampai tuan putri" ujar Ice.
Ice berjalan dan membukakan pintu mobil belakang. Aku turun pelan pelan.
"Terimakasih ce" ujar ku ramah
Ice tersenyum tipis padaku.
"Terimakasih juga karena sudah menunggu pangeran mu ini tuan putri" ucap Ice lembut.
Tangan Ice dengan lihai mendarat tepat di rambut ku, ia mengelus rambut ku pelan.
"Jangan lupa mandi ya tuan putri" celetuk Ice
"Baik kapten" jawab ku.
Ice menahan tawanya saat melihat ekspresi lucu dari mimik wajah ku. Ia tersenyum manis ke arah ku. Dan aku membalas senyuman nya.
Aku melambaikan tangan ku pelan ke arah ice, dan ice juga ikut melambaikan tangan nya serta tersenyum tipis.
Langkah ku memasuki rumah. Tempat berpulang ku untuk melepas rasanya lelah dan letih.
"Bun, Ris pulang..." ucap ku
"Selamat datang sayang nya bunda" ujar bunda
Aku berlari pelan ke arah bunda dan menerjang nya, untuk melepas rasa rindu ku padanya.
"Tadi Ris ketemu sama ice bun" celetuk ku bersemangat.
Bunda dengan sabar mendengarkan celotehan ku tentang Ice.
———
setelah lima tahun lamanya kita tak pernah bertemu
dan pada akhirnya tuhan mempertemukan kita bersama
aku berharap takdir kita selalu baik
semoga kita selalu bersama ce 🎐
Fin.
