Kaki kecil itu melangkah menuju taman bermain. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri. Sesekali menatap orang-orang di kursi taman. Ia kemudian berjalan ke kursi yang kosong. Duduk dan melihat layar handphone nya.
"Dia bilang jam 7. Sekarang sudah jam 7.15."
Ia mendecak kesal setelah mengirim pesan pada kekasihnya yang ia beri nama di kontaknya "Lee" dengan emoji love. Ia terhentak ketika sepasang tangan menutup matanya.
"Maaf ya aku telat."
Suara serak di belakangnya membuat bibirnya mengerucut. Tangan itu terlepas dan kepala di belakangnya persis di pundaknya.
"Aku tadi interview kerja. Itu alasan aku telat, baby. Maaf ya."
Renjun mengangguk kecil.
"Iya aku maafkan."
Jeno duduk di sebelah Renjun. Memegang tangan Renjun. Menatapnya dengan lekat.
"Aku diterima sebagai pegawai negeri sayang. Aku sekarang punya pekerjaan tetap."
Renjun tersenyum.
"Benarkah?"
Jeno mengangguk. Merogoh sesuatu di sakunya. Ia mengeluarkan box kecil berwarna merah.
"Mau menikah denganku, baby?"
3 tahun kemudian
Jeno dengan kemeja putih dan dasinya yang berwarna hitam berjalan sempoyangan menuju apartemen kecil tempat ia dan Renjun tinggal. Matanya yang terlihat lelah, bahunya yang turun sangat ketara sekaki bahwa ia sedang lelah seharian bekerja.
Ia membuka pintu apartmen. Disana ia bisa mendengar suara alat masak di dapur. Ia yakin istrinya sedang memasak. Jeno melepas sepatunya, berjalan ke arah sofa dan melempar tas kerjanya sembarang. Duduk merebahkan punggungnya di sofa.
"Baby."
Jeno memanggil Renjun. Renjun mematikan kompor dan mengangkat pancinya. Meletakkan panci kecil itu di meja makan. Ia kemudian berjalan ke ruang tamu.
"Sayang mandi dulu ya. Sesudah mandi lalu kita makan bersama. Aku sudah masak sup kesukaanmu."
Renjun mengelus pundak Jeno. Jeno mengangguk kecil dan segera pergi ke kamar mandi. Renjun menghela nafas ketika ia melihat tas, jas dan dasi diletakkan sembarangan oleh Jeno. Membawa tas kerja, dasi dan jas Jeno ke kamar.
Shower di kamar mandi sudah tidak terdengar. Bunyi pintu kamar mandi terbuka. Jeno keluar dengan baju kaos oblong, dan celana pendek. Berjalan ke meja makan.
Renjun dengan sigap melayani Jeno. Renjun mengambil sup nya ke mangkuk dan memberikannya pada Jeno.
"Rajin sekali masak ini. Ini kan resep ibumu."
Renjun tersenyum sipu mendengar perkataan. Renjun juga menyendok supnya di mangkuknya.
"Aku tau kamu suka sup ini dan aku minta resep nya dari ibu."
Jeno mengangguk. Ia menyendok sup nya. Kemudian memakan nasi nya.
Krekk
Bunyi gigi Jeno cukup terdengar keras ketika ia mengunyah di suapan pertama. Jeno menutup matanya menahan emosi.
Kreekk
Kunyahan kedua dan masih terdengar gemeletuk di gigi Jeno. Jeno mengeluarkan nasi di mulutnya. Ada kerikil kecil di mulutnya. Ia menatap dingin Renjun.
Renjun dengan tergagap takut menggelengkan kepala.
"Ma-maaf sayang. Aku tidak sengaja."
Jeno meletakkan sendok dan garpu nya. Berjalan mendekati Renjun yang semakin mundur. Renjun belum beranjak dari kursinya.
Jeno menampar pipi Renjun dengan keras. Menjambak rambutnya ke belakang.
Renjun menangis.
Suara keras itu terdengar oleh tetangga di lantai bawah. Sepasang suami istri di rumah itu kompak menatap atap mereka.
"Apalagi kali ini?" Suami tetangga itu menggelengkan kepala.
"Entahlah. Besok pagi aku tanyakan."
Tbc
