Hujan turun tipis. Lampu lorong kos berkelip seperti habis disentuh arwah penasaran, dan suara dari kamar 3B masih menyala—bukan karena musik, tapi karena tawa keputusasaan.
"Jadi kita sepakat... tugas ini nggak akan selesai malam ini, kan?"
Xinyu bersandar di kursi plastik, rambutnya diikat asal, cat kuku terkelupas, dan mata panda level mahasiswa semester tua. Di depannya, laptop menyala menampilkan satu paragraf utuh yang sudah diketik sejak dua jam lalu—dan tak berubah.
"Gua bahkan belum buka file-nya," sahut Karina dari kasur, headset nyangkut di leher, mata fokus ke layar HP.
"Gua udah buka, tapi lupa mau ngetik apa," tambah SoHyun yang baru keluar dari kamar mandi, rambut basah dan pakai jaket kampus kebalik.
Dari sudut dapur, suara panic kecil menyala.
"Mie rebusnya dua bungkus cukup nggak?" tanya Winter tanpa menoleh, suaranya tenang seperti biasa—walau tangan gemetar karena kelelahan mental.
Mereka tidak saling menjawab. Karena tahu jawabannya: nggak cukup. Tapi siapa juga yang peduli.
Di luar, dunia masih memaksa mereka jadi mahasiswa ideal. Tapi di dalam kos ini, di antara baju kotor, charger nyangkut, dan panci mie darurat, mereka sedang belajar satu hal:
Bahwa hidup bukan soal jadi benar.
Tapi soal bertahan,
dengan cara yang tidak diajarkan dosen mana pun.
Jam dinding menunjuk pukul 02.03. Satu-satunya yang selesai malam itu...
adalah mie instan.
YOU ARE READING
Pulang Jam Dua, Tugas Belum Juga
RandomKosan sempit. Wi-Fi pas-pasan. Dapur penuh mie instan. Dan empat mahasiswi yang sama-sama gagal tidur tepat waktu, gagal move on, dan gagal paham kenapa dosen suka banget kasih tugas hari Jumat malam. Xinyu-anak seni yang hidup dari deadline dan det...
