"Asmara telah terkalibrasi frekuensi yang sama. Saatnya 'tuk mengikat janji, merangkum indahnya."
Terdengar suara nyanyian lembut Riji yang saat itu sedang memasak di dapurnya. Di tengah asyiknya Riji memasak dan bernyanyi, ada sesuatu meraba tubuh Riji, membuat dirinya terkejut.
"Gin Haurseler. Bisa gak? gausah ngagetin orang." Riji mendengus kesal karena Gin yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Kau terkejut? maafkan aku, sayang.." Gin meletakkan kepalanya di tengkuk Riji yang lanjut memasak.
"Kau tahu sesuatu, Riji Manveera?" Tanya Gin, membuat si manis penasaran.
"Apa?" Riji melirik ke arah Gin yang kini meletakkan kepalanya di bahu Riji.
"Aku beruntung memilikimu." Gumam Gin, terlarut dalam kebahagiaan, ketika ia memeluk Riji.
"I'm happy being with you, too." Riji tersenyum, mengusap lembut rambut pirang di bahunya.
>>>
<<<
Riji saat ini sedang bersiap-siap, ia mengenakan jubah merah tua miliknya yang lumayan kebesaran. Ia membawa sebuah tas cokelat yang berisi beberapa ramuan racikannya untuk penyakit tertentu. Ia segera menutup kepalanya menggunakan tudung jubahnya, lantas melangkah keluar dari rumah kecilnya.
"Benar dengan Riji Manveera?" Tanya pria yang sedang menunggu Riji keluar dari rumah sedari tadi, seraya duduk di atas seekor kuda.
Riji mengangguk, kemudian menaiki kuda yang di tumpangi oleh pria tadi. Lalu mereka berdua melewati gelapnya malam yang hanya di terangi oleh lampion milik Riji, dan bulan di atas kepala mereka.
"Apa penyakit yang di derita oleh nona Shannon, tuan?" Riji bertanya pelan, pada pria yang saat ini mengendarai kudanya itu.
"Istri saya menderita penyakit demam tinggi, tolong selamatkan dia.." Lirih pria penunggang kuda tersebut.
"Baik tuan Juna, akan saya usahakan yang terbaik untuk nona Shannon." Riji berusaha menenangkan Juna yang terlihat khawatir.
Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah rumah kayu yang cukup besar. Lampu di dalamnya menyala terang, namun ada bagian yang mulai redup. Mereka memasuki rumah kayu tersebut, Riji mengikuti langkah Juna yang menuju lantai atas rumah tersebut.
"J-juna.. ka-mu suda-ah kemb-ali..?" Shannon berucap patah-patah. Tubuhnya terkulai lemas di atas sebuah dipan kokoh. dengan anaknya di sampingnya menangis sendu.
"Ibu.. hiks.." Lirih gadis kecil disamping wanita itu. Wajahnya terlihat pucat, penuh dengan permintaan tolong.
Riji melihat hal itu segera membuka tas cokelat yang ia bawa tadi, mengeluarkan beberapa ramuan herbal yang bisa menurunkan demam tinggi. Meminunkannya pada Shannon yang tak sanggup bangun, Riji dengan tenang membiarkan Shannon meminum habis ramuan herbal yang ia beri.
Anak serta suami Shannon berdoa, berharap sang ibu maupun sang istri dapat segera membaik. Perlahan, wajah pucat Shannon mulai cerah kembali, bibirnya yang sempat membiru, kini kembali menjadi pink. Suhu tubuhnya kembali normal, tidak sepanas sebelumnya. Menandakan ramuan milik Riji tadi berhasil bekerja menyembuhkan tubuh Shannon.
"Terima kasih, ya Tuhan!" Juna, suami Shannon berseru lega. Melihat istrinya yang kini mulai pulih.
"Ibu! Syukurlah!" Seru bahagia gadis kecil bersurai putih suci, bernama Mia.
Mata Shannon masih tetap sayu, menandakan bahwa ia kelelahan melawan penyakitnya. Dan untungnya, ia berhasil.
Mia berlari memeluk Shannon yang mulai terlihat segar kembali. Begitupula dengan Juna, ia mendekati Shannon dan juga memeluknya hangat.
"Keluarga kecil ini.., Sungguh bahagia." Riji berkata dalam hatinya. Ia ikut senang melihat Shannon berhasil sembuh. Namun ada sedikit keirian dalam hatinya.
"Terimakasih banyak, Riji. Aku tak tahu harus berhutang Budi bagaimana lagi denganmu." Juna memberikan Riji sebuah kantong berisikan uang.
"Astaga tuan, ini terlalu banyak. Aku hanya ingin tiga koin saja, itu sudah cukup." Riji menolak sekantong uang yang sepertinya berisi sekitar sembilan puluh sampai seratus koin.
"Ambil saja, sebagai bentuk terimakasih ku." Juna menyelipkan kantong tersebut ke dalam tas cokelat Riji yang berada di pinggangnya.
"Terima kasih banyak tuan. Semoga keluarga tuan selalu diberi kebaikan." Ucap Riji membungkuk hormat.
"Terima kasih juga, Riji. Kau pulang dengan siapa? apa perlu aku mengantarmu kembali?" Juna bertanya, ia teringat tadi Riji datang kesini karena dijemput olehnya.
"Tak perlu, tuan. Suamiku akan datang menjemputku nanti." Riji tersenyum, menolak tawaran Juna yang hendak mengantarnya kembali.
"Oh? Gin sedang cuti? baiklah, semoga kau aman sampai dirumah." Ucap Juna yang dibalas anggukan oleh Riji. Kemudian Riji beralih menuju tangga, menuruninya, kemudian keluar dari rumah kayu tersebut.
"Udah selesai?" Tanya lembut seseorang yang sudah menunggu Riji di depan rumah kayu tersebut.
Riji tertawa kecil, "Sudah ku duga kamu menunggu disini. Aku sudah selesai, ayo kita pulang."
Riji mengambil lampion di dekat pintu, lalu menaiki kuda yang ditunggangi oleh Gin. Setelah merasa Riji sudah naik ke atas punggung kuda, Gin mulai menjalankan kudanya pelan.
"How's your day, my Knight?" Riji memeluk Gin, bertanya lembut di telinga sang kekasih.
Gin tersenyum, "Everything goes fine, baby. Don't worry.
Asalkan ada kamu di hidup ku, hari-hariku berjalan sempurna."
Mereka berdua tertawa kecil, wajah Riji sedikit memerah tersipu malu karena ucapan Gin. Keluarga kecil mereka cukup cemara, meski tanpa adanya seorang anak.
"Aku bersumpah demi Tuhan, aku akan menjaga dan mencintaimu sepenuh hati, Riji Manveera."
"Aku bersumpah demi Tuhan, aku akan senantiasa berada di sisimu dan mencintaimu tanpa adanya paksaan, Gin Haurseler."
Sebuah cerita cinta yang terukir disetiap bait, adalah kisah cinta mereka berdua. Yang saling mencintai, saling mengerti, dan penuh janji-janji suci. Inilah kisah antara Gin Haurseler, seorang Ksatria tangguh, dengan Riji Manveera, seorang peracik ramuan handal.
-♥-
Hai semuaa, author lagi nyoba nyoba bikin cerita yang mundur ke masa lalu, dan nanti bakal maju ke masa depan, i hope u guys like it🎀
Jangan lupa Vote dan Komennya ya! Semua dukungan kalian sangat berarti buat akuu, Thank youu🎀
-w/ love Harris Caine wife.
(flowrysa)
VOCÊ ESTÁ LENDO
Red String between us. (Ginji) HIATUS
RomancePembuktian tentang kenyataan adanya Red String theory. Gin dahulunya adalah seorang Ksatria paling tangguh di kotanya. Dan Riji, sang kekasih, adalah seorang peracik obat yang sangat disegani banyak orang. Kisah cinta mereka di masa lampau membuat b...
