Ia terjatuh ke lantai keras, bahunya membentur ujung tembok. Napasnya terengah, setengah karena sakit,setengah karena ketakutan
"Bangun, dasar sampah"
Suara itu datar, tapi penuh jijik.
Ia mencoba berdiri, tangannya menekan lantai, tapi lututnya sudah gemetar. Sebuah tendangan masuk ke perutnya. Tidak keras, tapi tepat sasaran. Ia jatuh lagi. kali ini tak bisa langsung bangkit
Satu orang menarik kerah bajunya dan meninju pipinya
Sekali
Lalu dua kali
Dunia di sekeliling mulai bergoyang.
"Sok kuat tadi, kan?"
"Ngomong lagi dong, kayak tadi." Suara-suara itu bercampur. Mereka bukan marah, mereka hanya ingin memuaskan sesuatu
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kepalanya terasa berat. Ia tak yakin apakah darah yang menetes dari alisnya atau dari hidungnya,bajunya kotor. Keringat dingin mulai turun dari pelipis
Ia tidak berteriak. Bukan karena kuat,tapi karena... percuma
Tidak ada yang akan dengar..
Tidak ada yang akan datang...
Setelah mereka pergi, ia hanya terbaring
Satu tangan menutup luka di perut, satu lagi menggenggam ujung jaketnya, gemetar. Ia tidak menangis. Tapi matanya terbuka lebar, kosong, menatap langit-langit kusam
Ia mengangkat tangannya yang tadi menggenggam jaketnya untuk menyentuh kepalanya dan saat ia melihat tangannya dengan pandangan buram ia melihat warna merah
Tak ada ekspresi panik di wajahnya saat perlahan pandangannya mulai memburam dan semakin gelap hingga akhirnya tak terlihat apa pun. Hanya kegelapan yang ada di pandangannya
.
Srekk
Awalnya, hanya diam. Tak ada suara,tak ada rasa. Seperti tidur terlalu dalam... atau mungkin, sudah lewat batas tidur
Perlahan, kesadarannya kembali. Tapi tidak lewat rasa sakit,tidak seperti biasanya. Hanya... rasa dingin yang tenang
Angin lembut menyentuh wajahnya — sejuk, bukan menggigil, tapi cukup untuk menyadarkan
Ia membuka mata. Langit gelap,bintang-bintang berkelip di atas, lebih banyak dan lebih terang dari yang pernah ia lihat seumur hidup
Tidak ada lampu jalan,tidak ada suara kota, hanya angin dan gemerisik pelan dari sesuatu di sekelilingnya
Ia terduduk perlahan, bingung
"Di mana ini..?"
Saat matanya menyesuaikan dengan gelapnya malam, ia baru sadar — ia dikelilingi oleh lautan bunga lavender,merekah pelan dalam gelap, menari ringan saat angin menyapu pelan
Ia mengangkat tangannya
Tidak gemetar,tidak berdarah
Tubuhnya... tak ada rasa nyeri atau pun luka. Seperti semua rasa sakit itu hanya mimpi buruk yang sudah lewat. Tapi ia tahu ini bukan mimpi ,ini terlalu nyata
Ia berdiri pelan. Langkah pertamanya ringan... tapi hatinya berat. Langit malam yang luas tak memberi jawaban, hanya bintang yang diam. Tak ada suara manusia,tak ada lampu,tak ada yang menunggu
"Aku..mati, ya?"
Tak ada yang menjawab,tapi tak perlu jawaban. Ia tahu ia tidak lagi di dunia yang sama
Dan entah kenapa...dunia yang baru ini terasa terlalu tenang untuk dipercaya
.
Cassius pov
Sudah sebulan sejak kejadian aku yang terdampar di 'dunia lain' ini. Aku yang tak punya tempat berteduh kini tinggal di gua dekat hamparan bunga yang tampak seperti bunga lavender itu
Bagaimana aku makan? di dekat sini ada sungai jadi aku mencoba memancing dan yah aku mendapatkan ikan untuk ku makan. Namun ntah kenapa terkadang beberapa ikan yang kutangkap memiliki permata aneh di tubuh mereka dengan berbagai ukuran dan warna
Tapi yahh,aku sudah lapar jadi mau tak mau kumakan setelah kubakar. Aku mengumpulkan permata dari ikan ikan yang kumakan itu hingga sudah menumpuk