Ruang aula sore itu penuh suara. Tepuk tangan, obrolan pelan, dan lantunan lagu piano dari panggung utama. Di tengah keramaian itu, seorang anak laki-laki berdiri kaku di dekat pintu belakang, matanya tak lepas dari sosok di atas panggung.
Memperlihatkan seseorang bernama Yushi-murid teladan, jenius dalam musik, selalu ramah pada siapa pun.
Senyumnya yang tak pernah dibuat-buat, begitu kata guru-guru yang selalu melihat Yushi di ruangan persiapan lomba dan ruangan ekskul musik.
Tapi tak ada yang tahu kalau di sudut aula itu, ada mata yang mengikuti setiap gerakan Yushi. Dari cara dia tersenyum, cara jarinya menyentuh tuts piano, hingga cara dia menunduk sopan setelah tampil.
Seseorang di kerumunan itu, berdiri terlalu diam.
Dan ketika acara usai, dia memberanikan diri menghampiri Yushi. Dengan suara yang sudah disimpan terlalu lama, dia mengulurkan buku kecil, meminta tanda tangan.
Pemandangan yang aneh jika kita lihat, tetapi siapa yang peduli? Tentu Yushi menerima dengan perasaan sedikit terkejut, kakak kelas mana yang meminta tanda tangan adik kelasnya?
Dapat Yushi lihat dari simbol di bajunya tulisan angka romawi yang di sana tertuliskan XII.
Namun Yushi tetap mengambil buku kecil itu dan tersenyum biasa-senyum yang bagi banyak orang, hanyalah bentuk sopan santun.
Tapi bagi pemuda yang satu ini, senyum itu berarti lebih.
Jauh lebih.
___________________.☘︎ ݁˖__________________
Pada jam 06.35 pagi, di sekolah Yushi belum bisa dibilang sepi tapi juga tidak bisa dibilang tak cukup ramai, pasti hampir setiap koridor ada beberapa orang.
Di jam sepagi ini jarang ada siswa-siswi yang datang, tapi Yushi telah di sini, menaruh barang-barang yang mungkin akan ia gunakan di pelajaran selanjutnya atau akan ia simpan di sana-di sebuah loker yang bertepatan dengan tempat duduk nyaman.
Yushi lanjut berjalan, tak memerdulikan itu, ia telah melihat itu hampir satu tahun lamanya, dengan tempat sampah yang selalu ada di setiap tempat duduk, di depan kelas, juga di kamar mandi, atau di tempat-tempat yang Yushi sendiri tak tahu keberadaannya.
Tampaknya sekolah ini menjunjung kebersihan dengan sangat tinggi.
Berjalan menuju arah kelasnya yang berada sedikit jauh dari loker tadi dan segera menaruh tasnya.
Yushi menatap sekeliling kelasnya yang tidak terlihat berpenghuni, benar-benar sepi, sekali lagi Yushi sudah hampir satu tahun menjalani kehidupan seperti ini-selalu datang kepagian.
Pernah saat ia masih kelas 9 Sekolah Menengah Pertama, ia mencoba datang sedikit lewat dari jam biasanya ia berangkat, tak disangka kesialan menimpanya hari itu.
Yushi ditabrak oleh pengendara sepeda motor berwarna hitam yang membuat motornya baret dan ia terjatuh yang mengakibatkan siku dan lututnya mengalami lecet, untung saja hari itu ia memakai helm, walau tidak parah tapi kejadian itu membuat Yushi sedikit takut untuk kesekolah lebih lambat.
Strateginya adalah jika ia berangkat lebih pagi maka makin sedikit pengendara di jalan raya, dan semakin sedikit juga presentasenya ia akan mengalami kejadian seperti itu lagi.
Merasa bosan Yushi menolehkan kepalanya kearah jendela yang tepat berada di samping kiri tempat duduknya, tidak terlalu pojok, setidaknya 2 dari belakang.
Di sana mengarah ke lapangan voli yang sudah mulai ada siswa-siswi yang berlalu-lalang, juga ada murid yang menggunakan lapangan tersebut untuk bermain voli guna sekedar pemanasan sedikit.
YOU ARE READING
Because Of You [SIYU]
Fanfiction"Jika melakukan segalanya untuk orang yang kita sayangi itu termasuk cinta kan? Mau kita mencelakai atau menakuti orang itu, itu... tetap bisa disebut cinta kan?" Apakah membuat seseorang merasa takut dan sakit adalah bentuk tindakan dari cinta? Cin...
![Because Of You [SIYU]](https://img.wattpad.com/cover/395441355-64-k479858.jpg)