Dimalam hari, Stella sedang duduk di sofa kamarnya dengan tenang, tidak lama, seorang anak berumur 15 tahun namun memiliki tubuh yang lumayan tinggi dan rambut yang sangat panjang mendekatinya.
"Kak, ngapain?"
Tanya Ian sembari duduk disamping Stella, anak itu baru saja pulang dari mengerjakan tugas kelompok bersama A-na di kamarnya.
"Nyari-nyari makan, laper."
Jawab Stella sambil mengscroll ponselnya, memilih satu persatu makanan yang akan ia pesan.
"Gokill!! Mau juga dong! Gila tadi ngerjain PR di kamar A-na sama kak Yuha ga dikasih makan."
Ucap Ian, wajahnya seketika memelas seperti memohon pada Stella untuk memberinya makan segera.
"Yee kamu pikir kamu tuh siapa mau dikasih makan sama mereka, anaknya?"
Jawab Stella, namun pandangannya masih fokus ke ponsel.
"Ya, kan namanya ada tamu harusnya menyediakan makanan dong, masa iya aku disuruh makan angin kipas mereka."
Ian mulai membuka ponselnya, lalu membuka aplikasi gofood untuk memesan makanannya sendiri. "Kalo ga mau pesenin bilang aja, aku bisa pesen sendiri." Lanjut Ian sembari melihat Mie ayam yang tergambar di ponselnya. Saat Ian hendak memesan, ponselnya langsung ditarik Stella dan disembunyikan di saku celananya.
"Gitu aja baper dah, ini udah aku pesenin gacoan." Stella menunjukkan layar ponselnya ke Ian, membuat Ian mengeryit.
"8? Kan yang mau makan cuma kita berdua."
Kaget Ian melihat jumlah pesanan yang Stella beli sebanyak 8 porsi.
"Gapapa sih...Lagi cair aja." Ucap Stella pamer, menunjukkan layar ponselnya yang tertulis '1,5JT' di dana.
"GILA! 1,5JT? DAPET DARIMANA KAK? JUDI YA?" Ian memperhatikan layar ponsel Stella tanpa berkedip, 1,5jt? itu adalah nominal yang sangat tidak biasa dikalangan anak asrama seperti mereka.
"Mau gue jepret mulut lo? Enak aja judi. Ya hasil gue sendiri lah!"
"Emang kamu kerja apa kak? Jadi tukang parkir?"
Plak.
Kepala Ian menjadi korban pertama oleh tangan Stella, Mendaratkan pukulan pelan di jidatnya.
"Astaga...gini amat sih sekamar sama nenek lampir..."
"Makanya kalo ngomong jangan asbun, muak gue dengernya."
"Maaf..."
(*^O^*)🧁🫛
Sebuah pertemuan kecil di kamar Jiwoo dan Carmen, 6 gadis sudah berkumpul disana, saat semuanya sibuk dengan ponsel masing-masing, Ye-on, adik termuda di asrama buka suara.
"Ini kok kayak ada yang kurang kak? Kak Stella sama kak Ian mana?" Tanya Ye-on, melihat sekeliling kakaknya, siapa tau Ian menyempil seperti biasa dibelakang pundak Carmen.
"Oh iya, gue juga baru sadar, 2 anomali ga keliatan." Sahut Juun, mendongak dari ponselnya, menatap kearah Jiwoo.
Jiwoo, sang ketua dari 7 anak random ini, biasa dijuluki sebagai julukan 'Ketua suku' oleh anak-anak asrama lainnya. Jiwoo memang berwajah manis dan hangat, namun ia sangat jarang bergaul dengan anak-anak asrama lainnya, ia lebih sering menghabiskan waktu dikamar dengan belajar atau mengobrol bersama Carmen.
Jiwoo mendongak dari ponselnya, melihat kelima adiknya menatapnya secara bersamaan, lalu ia buka bicara.
"Katanya lagi nunggu pesenan gofood."
Jiwoo akhrinya bicara, lalu tatapannya kembali ke ponsel sebelum pintu kamarnya terbuka.
"Yakk! Sorry lama, mamang grabnya kena macet." Teriak Ian, wajahnya berseri-seri seperti seseorang yang akhirnya mendapat mainan dari ibunya.
Stella dan Ian meletakkan 3 bungkus plastik berisi Mie gacoan yang dipesan oleh Stella tadi, lalu duduk mengikuti 6 anak lainnya.
"Lama banget, udah lumutan ini!" Ucap A-na, masih menaruh kepalanya di pundak Yuha.
"Ya, yang penting sekarang kita disini kan?"
Stella, mulai membuka plastik tersebut dan menaruh mie diatas meja.
"Ini, ayo makan, udah laper." Ian bicara lalu membuka Mie gacoan miliknya, menyeruput dengan tenang.
(*ゝω・*)☺️👾🍓🌴🌻🎀🧁🫛
VOTE YA HATCHUU~~
TBC>>
YOU ARE READING
Eightfull Love
Random8 anak asrama yang masih remaja, namun berpikiran random dan sangat aktif.
