Segala situasi yang nyaris tak terbendung lagi. Bagaikan habis di telan gelapnya malam, tanpa bulan yang bernaung penuh cinta dengan sinarnya yang terang. Kerusuhan di tengah-tengah kerumunan, dalam masa yang penuh dengan ketegangan antara negara dan para kaum pemberontakan.
Pihak penguasa, memburu habis-habisan yang menentang kebijakan mereka. Orde baru, seperti neraka yang penuh dengan pertumpahan darah. Bahkan lebih parah dari segala penjajahan yang telah mereka alami sebelumnya. Masa ini, adalah masa di mana sisi gelap pemerintah tengah naik daun di udara.
Tanpa ampun membantai rakyat yang membangkang, tembak mati tanpa membiarkan mereka mengais pembelaan. Kata merdeka, belum benar-benar tegas maknanya, masih banyak nyawa yang merenggang dengan tangis pilu kelaparan nan ketakutan.
Sementara pemerintah masih terus sibuk meringkus dan menggali tiap-tiap tempat singgahan musuh negara. Jumlah mereka, tak bisa di bilang sedikit, kelak akan tertulis sebagai sejarah pembantaian yang keji.
Partai Komunis Indonesia, memang bukan lagi hal asing dalam indra pendengaran para penduduk negara. Organisasi yang telah lama berdiri sejak tahun 1914 dengan ideologi, untuk menciptakan masyarakat yang setara tanpa kelas. Kedengarannya, memang memiliki makna yang positif, karena seluruh rakyat akan setara tanpa kasta. Mengurangi penindasan terhadap kaum konglomerat kaya raya dengan rakyat miskin seadanya.
Akan tetapi, negara menentang keras ideologi ini. Bahkan di anggap sebagai sesuatu yang keji, bisa saja merobohkan garuda yang sudah di perjuangkan agar bisa berdiri gagah. Di perjuangkan oleh para tokoh dan pemuda yang rela mati menelan peluru dan berdarah-darah.
Mereka hanya mengucapkan kata merdeka, masih belum mampu menerapkan maknanya. Semenjak Jepang mundur, dan Belanda kembali menduduki negara tercinta, melancarkan aksi agresi militer satu dan dua. Pemberontakan di setiap provinsi tak mampu terelakan, menumpahkan kembali darah dan nyawa, demi merebut ibu Pertiwi yang menjadi tanah kelahiran mereka.
Perjuangan diplomasi pun tak mau merasa kalah dengan mereka yang rela terkapar tanpa nyawa. Dengan pikiran dan taktik menalar kritis, pejuang diplomasi berunding dengan segala cara agar mencapai kembali garis kemerdekaan.
Tepat saat perjanjian Roem-Royen, Belanda menarik mundur pasukannya, mengembalikan ibu kota, dan sang panglima mengembalikan mandat pada presiden negara. Indonesia, akhirnya berhasil kembali merebut tanahnya. Akan tetapi, belum sampai pada saat titik kedamaian internal mereka.
PKI yang di pimpin oleh Dipa Nusantara Aidit, tahun 1948, kembali pecah dan membuat kerusuhan. Mencari anggota yang bersedia berjuang mendukung organisasi mereka, agar bisa di terapkan dan menggulingkan pemerintahan. Pada 30 September 1965, PKI terlibat dalam usaha mengkudeta.
Namun, berakhir gagal karena reaksi cepat dari pemimpin angkatan darat, yang kelak akan mengambil alih kekuasaan dan memulai orde baru. Ia naik tahta, dan di sinilah 'bersih-bersih' yang akan menumpas habis pada mereka yang berideologi komunis, baik anggota, maupun simpatisannya.
****
Tahun 1966, sinar hangat di cakrawala, berpendar menaungi kota Semarang yang penuh dengan hiruk-pikuk aktivitas manusia. Terlebih, pasar Johar, yang tak pernah sepi akan kunjungan. Di sini, kebutuhan pangan dan sandang tersedia berbagai macam. Segala jenis kerajinan khas Semarang, pakaian, hingga makanan tradisional yang banyak di jajakan di kios-kios dalam pasar maupun luar.
Becak-becak mengantri dengan teratur menunggu pelanggan yang membutuhkan tumpangan pulang. Sang surya semakin menyengat, membuat Taruni mengibaskan seragamnya tepat di bagian dada. Membuat sedikit angin yang di harapkan bisa mengurangi rasa panasnya, tubuhnya bahkan sudah sedikit berkeringat.
YOU ARE READING
Langit Runtuh
Historical FictionDi tengah pemberontakan yang tumpah, negara yang nyaris menyentuh batas kehancurannya. Hak manusia yang tak memiliki harta benda, tidak lebih dari sekedar debu yang tak kasat mata. Ketegangan orde baru memang nyata adanya. membuat rakyat, sulit mena...
