。✯BAB I : Kancing Misterius✯。

1 1 0
                                        

Sore itu perpustakaan sekolah terasa lebih sepi dari biasanya. Ara duduk sendirian di pojok favoritnya, ditemani setumpuk novel fantasi dan secangkir teh hangat yang dia beli dari kantin. Di luar, langit mulai berubah jingga, menciptakan bayangan panjang di antara rak-rak buku yang menjulang. Aroma kayu dan kertas tua bercampur dengan wangi teh melati yang mengepul dari cangkirnya, menciptakan atmosfer sempurna untuk tenggelam dalam dunia fantasi.

Ara selalu memilih spot ini - sebuah kursi empuk di sudut yang tersembunyi di balik rak-rak tinggi bagian fiksi. Dari sini dia bisa mengamati semua aktivitas di perpustakaan tanpa terlihat. Seperti saat ini, matanya sesekali melirik ke arah sekelompok siswi yang berkumpul di meja dekat jendela, berbisik-bisik dengan penuh semangat.

"Hemm...Seandainya hidup bisa semenarik novel-novel ini," gumam Ara sambil membalik halaman bukunya. Matanya berbinar membaca kisah-kisah tentang keajaiban dan petualangan. Di tangannya, sebuah novel fantasi tebal menceritakan tentang gadis biasa yang tiba-tiba menemukan portal ke dunia lain.

"Romansa remaja biasa terlalu membosankan," dia menghela napas, kembali melirik ke arah meja di dekat jendela. "Apa tidak ada yang lebih menarik ya daripada membahas cowok?"

Suara kikikan dari kelompok siswi itu semakin keras. Ara bisa mendengar nama Kak Reza, kapten basket sekolah, disebut-sebut berkali-kali. Dia menggelengkan kepala, kembali fokus pada bukunya. Setidaknya dalam novel, para tokoh utama perempuan punya mimpi dan petualangan mereka sendiri, tidak hanya berkisar pada kisah cinta remaja.

Bu Nina, penjaga perpustakaan berambut putih yang sudah bekerja di sini sejak Ara masih SD, berjalan di antara rak-rak sambil membereskan buku-buku yang berantakan. Ara tersenyum melihatnya - Bu Nina selalu membiarkannya tinggal lebih lama dari siswa lain, karena tahu Ara akan menjaga buku-buku dengan baik.

"Perpustakaan akan tutup dalam 15 menit!"

Suara Bu Nina membuat Ara tersentak. Dia melirik jam tangannya - sudah hampir jam 5 sore. Tidak terasa dia sudah menghabiskan lebih dari dua jam di sini. Dengan berat hati, Ara mulai membereskan tumpukan novel di mejanya.

Saat itulah sesuatu berkilau menarik perhatiannya dari sudut mata. Seberkas cahaya keemasan yang aneh, seperti kunang-kunang yang tersesat di antara bayangan rak buku.

"Apa itu?" Ara membungkuk, tangannya meraba di bawah rak buku. Debu menggelitik hidungnya, tapi jarinya terus mencari sumber cahaya misterius itu. Akhirnya, dia merasakan sesuatu yang bulat dan - anehnya - hangat.

Sebuah kancing. Tapi bukan kancing biasa. Warnanya kuning cerah dengan kilauan yang aneh - seperti ada cahaya yang berpendar dari dalamnya. Dan apakah hanya perasaannya, atau kancing itu terasa... berdetak? Seperti detak jantung yang sangat halus, hampir tidak terasa kecuali kau benar-benar memperhatikan.

"Ara! Ya ampun, sudah kuduga kamu masih di sini!"

Maya, sahabatnya sejak SD, muncul dengan berkacak pinggang. Rambut pendeknya yang dihiasi bandana biru - aksesori yang tidak pernah lepas darinya sejak kelas 1 SMP - bergoyang saat dia menggeleng. Berbeda dengan Ara yang pendiam dan suka menyendiri, Maya adalah definisi sempurna dari kupu-kupu sosial.

"Kamu ini ya, kalau sudah baca bisa lupa waktu!" Maya berjalan mendekat, sepatu putihnya mengetuk lantai kayu perpustakaan. "Aku sampai harus bohong ke klub paduan suara kalau sakit perut supaya bisa kabur mencarimu!"

"Maya! Lihat deh apa yang kutemukan!" Ara menunjukkan kancing di tangannya dengan antusias, mengabaikan omelan sahabatnya.

Maya menaikkan alisnya, membetulkan letak bandananya yang sedikit miring. "Kancing? Biasa aja tuh. Paling jatuh dari seragam seseorang. Kamu tau kan banyak yang suka pacaran sembunyi-sembunyi di pojok sana," dia mengedipkan mata jahil.

"Bukan kancing biasa!" Ara bersikeras. "Coba pegang deh, hangat lho! Dan lihat cahayanya..."

"Aduh Ara..." Maya menepuk bahu sahabatnya dengan gemas. "Kamu ini kebanyakan baca novel fantasi deh. Itu cuma kancing plastik biasa yang kena pantulan sinar matahari. Lagian kalau memang ajaib, kenapa bisa ada di perpustakaan sekolah yang membosankan ini?"

"Tapi..."

"Ayo pulang! Mamamu bisa khawatir kalau kamu telat lagi." Maya menarik tangan Ara. "Lagian besok kita piket pagi kan? Aku tidak mau kena semprot Pak Doni lagi gara-gara terlambat seperti minggu lalu!"

Dengan enggan, Ara mengantongi kancing itu ke saku blazernya dengan hati-hati. Dia pamit pada Bu Nina yang tersenyum hangat, lalu berjalan keluar perpustakaan bersama Maya. Langit sore semakin gelap, dengan semburat merah dan ungu yang cantik di ufuk barat.

Sepanjang perjalanan pulang, Maya bercerita tentang gosip terbaru di sekolah - mulai dari siapa yang baru jadian sampai drama di klub paduan suara. Tapi pikiran Ara tetap pada benda misterius di sakunya yang terasa hangat, seperti bara api kecil yang tidak pernah padam.

"...terus katanya akan ada murid baru lho di kelas kita!"

"Hm?" Ara yang sedang melamun tersadar. Kakinya menginjak dedaunan kering yang berserakan di trotoar, menimbulkan suara gemerisik. "Murid baru?"

"Iya! Cowok pindahan dari Jakarta. Anak basket katanya!" Maya menyikut Ara dengan semangat. "Siapa tau jodohmu ra? Sudah waktunya kamu keluar dari dunia buku-bukumu itu dan mulai mencari cinta!"

Ara memutar bola matanya. "Kamu ini, bisa tidak sehari saja tidak membahas jodoh? Aku masih betah sendiri tau, hidupku tidak harus selalu ada romantisme!"

"Justru itu masalahnya!" Maya mengacak rambut Ara yang sudah berantakan. "16 tahun belum pernah pacaran itu tidak sehat! Nanti keburu jadi perawan tua yang hobi baca novel fantasi!"

"Memangnya pacaran vitamin?" Ara tertawa, merapikan rambutnya. "Sudah ah, aku belok duluan ya! Titip salam buat Mamamu!"

Di persimpangan jalan, Maya dan Ara berpisah karena arah rumah mereka berbeda. Ara berjalan sendirian di gang menuju rumahnya, ditemani suara burung-burung yang mulai pulang ke sarang.

Sesampainya di rumah Ara langsung menuju kamarnya setelah mencium pipi Mama dan mengambil sepiring kue hangat. Kamar di lantai dua itu adalah tempat favoritnya setelah perpustakaan. Dinding biru muda dipenuhi poster-poster film fantasi dan rak-rak buku yang sudah hampir penuhbiat kamar Ara terasa nyaman.

Kancing misterius yang dia temukan diletakkan di meja belajar, tepat di bawah lampu belajarnya. Cahayanya tampak lebih jelas sekarang dalam kamar yang remang-remang.

"Ara! Jangan lupa makan malam!" teriak Mamanya dari bawah. Aroma nasi goreng spesial mulai menguar.

"Iya Ma! Sebentar lagi!" Ara bangkit dari kursi belajarnya, meregangkan badan yang terasa kaku karena terlalu lama duduk. Perutnya berbunyi mengingatkan bahwa dia belum makan sejak pulang sekolah tadi.

Di ruang makan, Mama sudah menata piring-piring berisi nasi goreng yang mengepul. Papa juga sudah pulang dari kantornya, duduk di kursi favoritnya sambil membaca koran sore.

"Kok lama sekali?" tanya Mama sambil menuangkan air putih ke gelas Ara. "PR-nya susah ya?"

"Belum mulai ngerjain PR, Ma," Ara nyengir. "Tadi masih... mikirin sesuatu."

Papa melipat korannya, tersenyum penuh arti. "Mikirin apa nih? Atau... mikirin siapa?"

"Ih Papa!" Ara cemberut, tapi dalam hati dia tersenyum. Beginilah keluarganya, selalu menggoda tapi penuh kasih sayang.

"Bukan siapa-siapa kok. Cuma... tadi nemuin sesuatu yang aneh di perpustakaan."

"Oh? Buku baru?" tanya Mama, duduk di samping Papa.

"Bukan..." Ara ragu-ragu. Haruskah dia cerita tentang kancing misterius itu? Tapi nanti pasti mereka akan berpikir dia terlalu banyak berkhayal, seperti kata Maya.

"...cuma kepikiran novel yang baru kubaca aja." Jawab Ara

Mereka makan sambil mengobrol tentang hari masing-masing. Papa bercerita tentang proyeknya yang baru, Mama membicarakan resep kue baru yang ingin dia coba, dan Ara mendengarkan sambil sesekali melirik ke arah tangga, membayangkan kancing misterius yang menunggu di kamarnya.

Setelah makan malam dan membantu Mama mencuci piring, Ara kembali ke kamarnya. Kancing itu masih di tempat yang sama, berkilau lembut di bawah cahaya lampu belajar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 05, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Magic ButtonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang