Bab 1 - Hari Tanpa Ibu

39 7 4
                                        

Sejak Ibu pergi, langit tak pernah benar-benar biru.

Ada kabut tipis di mataku setiap kali menatapnya-kadang bening, kadang gelap, kadang jingga seperti senja yang tertahan.

Aku belajar mencintai langit bukan karena indahnya,
tetapi karena di sanalah Ibu seolah masih tinggal.

Aku membayangkan Ibu berdiri di balik awan,
memintal hujan dari kenangan,
membisikkan doa lewat angin,
dan menyelipkan pelukan dalam cahaya bulan.

Dulu, saat aku kecil, Ibu sering berkata,
"Langit itu cermin hati manusia. Kadang cerah, kadang gelap. Tapi selalu luas, selalu sabar."

Kini aku tumbuh dengan langit sebagai pelipur,
tempat aku menyulam rindu yang tak pernah selesai.

Dan setiap kali aku kehilangan arah,
aku menatap ke atas-
mencari wajah Ibu
di antara bintang yang belum sempat jatuh.

Aku Dan LangitStories to obsess over. Discover now