Gwen

3 0 0
                                        

Sebagai Johan— Cowok tinggi, berambut lurus yang terlihat selalu berantakan, dan selalu dengan headphone andalan di lehernya —ia menjalani hidup di Sekolahnya dengan satu prinsip: jangan ikut campur urusan orang lain. Duduk paling belakang, tidak pernah mengangkat tangan di kelas, dan hanya bicara jika ditanya. Tapi semua itu berubah pada hari Rabu yang sial itu, ketika ia, sambil terburu-buru keluar dari kelas dengan headphone masih menempel di telinga, tanpa sengaja menabrak meja di koridor. Tumpukan buku dan map ujian yang tersusun rapi—yang ternyata milik Gwen, Cewek yang tingginya hampir sama seperti Johan, selalu pakai hijab wanra biru (warna kesukaannya), sedang membantu guru piket—terjatuh dan berserakan, sebagian bahkan terinjak oleh lalu lintas siswa yang tak berhenti. Gwen hanya menatap diam, menahan napas, sementara Johan, yang biasanya akan melengos dan pura-pura tidak melihat, justru berhenti. Untuk pertama kalinya, ia merasa harus melakukan sesuatu. Mungkin karena tatapan itu. Atau mungkin, karena namanya akhirnya dipanggil bukan oleh guru... tapi oleh perasaan yang asing dan mendesak.

Johan bukan tipe orang yang merasa perlu menjelaskan hidupnya kepada siapa pun. Ia tidak tahu siapa kepala OSIS, tidak pernah ikut rapat kelas, dan hanya tahu jadwal pelajaran karena ditempel di loker. Orang-orang mengenalnya sebagai “yang jalan cepat tapi nggak pernah buru-buru,” dan itu sebenarnya cukup akurat.

Jadi ketika ia—tanpa sengaja—menyebarkan map Gwen ke seluruh lantai seperti brosur diskon di pusat perbelanjaan, otaknya mengalami crash ringan.

“Eh… itu… aku…” Johan menatap tumpukan kertas berceceran dan Gwen yang masih jongkok di lantai, memungut dokumen satu per satu tanpa berkata apa-apa.

Ia bahkan belum tahu suara Gwen seperti apa. Dan sekarang, yang pertama ia dengar dari gadis itu adalah suara napas berat, sedikit bergetar. Bukan marah. Lebih ke… kecewa. Dan entah kenapa itu terasa jauh lebih parah.

“Buku catatan guru ekonomi,” gumam Gwen pelan, mengangkat map yang sudah robek. “Kertas soal try out—sebagian belum difotokopi.”

Johan menggaruk belakang kepalanya. “Aku bantu, deh.”

Gwen mengangkat alis. “Serius?”

Itu pertama kalinya ada orang mempertanyakan niat baik Johan. Wajar, karena niat baik itu baru muncul hari ini.

“Iya. Maksudku, ya... maaf banget. Aku nggak liat. Kupikir nggak ada orang di lorong.”

“Dan kupikir kamu bisa jalan tanpa nabrak meja besar berwarna oranye terang.”

Touché.

Akhirnya mereka berdua memunguti lembar demi lembar, sambil jongkok di tengah arus lalu lintas murid yang masih setengah sadar karena jam pelajaran baru saja dimulai.

Setelah semuanya terkumpul, Johan berdiri sambil menyerahkan tumpukan terakhir. “Aku… Johan.”

“Jelas,” jawab Gwen, menyimpan kertas dengan rapi ke map baru yang ia keluarkan dari tas. “Nama kamu ada di loker, di jadwal piket kelas, di daftar tugas remedial matematika… kamu cukup populer, sebenarnya.”

Johan berkedip. “Itu... bukan jenis popularitas yang kupikirkan.”

“Tenang aja,” Gwen tersenyum kecil, untuk pertama kalinya. “Aku juga pernah terkenal di sekolah lama gara-gara salah kirim meme ke wali kelas.”

Johan tertawa kecil. Mungkin, untuk pertama kalinya di semester ini.

Dan anehnya, itu bukan tawa canggung. Itu tawa yang membuatnya berpikir—mungkin hidup bukan cuma tentang menjauh dari masalah. Kadang, bisa juga tentang menabrak satu… dan tak sengaja menemukan alasannya untuk berhenti berjalan sendirian.

Awalnya Johan mengira Gwen hanya akan mengucapkan terima kasih sekali, lalu menghilang ke kerumunan siswa lainnya seperti tokoh figuran dalam film. Tapi malam itu, pukul 20.17, sebuah notifikasi muncul:

RegretsWhere stories live. Discover now