Brak!!!
Suara gebrakan keras menggema di sebuah ruangan kecil yang biasa disebut Pantry. Di sana hanya ada satu orang laki-laki, tak terlalu tinggi, tengah terengah-engah mengatur nafasnya.
Harvey Brastico Lio. Pemuda 24 tahun yang kini tengah bekerja di sebuah perusahaan ternama, Long Marks Corporation.
Harvey bergabung dengan Perusahaan sejak dua tahun yang lalu, tepat setelah lulus dari pendidikan sarjananya. Tidak muluk-muluk Harvey memang masuk lewat jalur orang dalam. Langsung melalui Direktur Utama sekaligus mantan kekasihnya.
Lionel Mario.
Sebenarnya Harvey ingin sekali menolak saat itu. Tetapi ketika sang Ayah tau jika ada penawaran dari LM.C, Harvey dipaksa untuk menerimanya.
Susah payah Harvey menghindari Mario selama satu tahun. Akhirnya mereka tetap dipertemukan lewat pekerjaan. Meskipun kastanya jauh berbeda, Mario si pemilik Perusahaan sedangkan dirinya hanya asisten manajer marketing.
Ting!
Harvey dengan segera mengambil ponselnya yang sempat Ia banting ke atas meja untuk melihat ada notifikasi penting apa di sana. Namun tak lama Ia menyesal setelah melihat nama yang lagi-lagi membuatnya naik darah.
"Ini orang ga ada bosen-bosennya ngerjain gue ya?!! Udah tiga balik gue bikinin kopi ada mulu salahnya, anjing!!!!" Gerutu Harvey geram.
Bagaimana tidak kesal jika dirinya terus saja disuruh untuk membuat secangkir kopi, dan ini sudah kopi yang keempat kalinya karena selalu dianggap kurang.
Kurang gula lah, kurang kopi lah, airnya kurang panas lah. Kurang ajar juga lama-lama!
Tanpa bisa mengelak Harvey membawa secangkir kopi baru (lagi) ke ruangan Mario si Bos Jahat. Itu julukan dari Harvey.
"Ini Pak, kopinya." Dengan senyum manis Harvey menghidangkan kopi itu ke meja kerja Mario.
Pria yang lebih tua tiga tahun hanya melirik sekilas lalu mengangguk. Harvey merasa lega karena kali ini Mario menerima bawaannya.
"Kalau begitu saya izin kembali ke ruangan marketing ya, Pak. Permisi." Harvey pamit undur diri yang lagi-lagi diangguki oleh Mario.
Namun belum sempat Harvey memutar kenop pintu, suara berat Mario kembali menghentikan pergerakannya.
"Saat istirahat nanti, saya mau kamu yang mengantarkan makan siang saya. Sekalian kamu makan bersama saya juga, Harvey." Ucap Mario memberi perintah.
Harvey memejamkan matanya menahan kesal. Ia berbalik badan dan tersenyum semanis mungkin pada Mario.
"Tapi saya sudah ada janji dengan salah satu brand untuk makan siang bersama, Pak. Nanti saya akan minta pada Amel untuk mengantarkan makan siang, Bapak." Ujar Harvey, berharap agar Mario mengerti dan tidak memaksanya lagi seperti biasa.
Mario melayangkan tatapan tidak suka terhadap penolakan yang Harvey buat. Pria itu memberi isyarat agar Harvey mendekat tanpa berbicara.
Mau tidak mau Harvey menuruti dan kini mereka sudah kembali berhadapan. Harvey meneguk ludahnya kasar, kepalanya turun menunduk sebab tidak berani melawan tatapan bak pedang dari Mario.
"Apa saya bertanya pada kamu, Harvey? Bukankah seharusnya kamu mengerti jika itu adalah perintah? Saya tidak suka kamu menjadi pembangkang seperti ini. Kalau kamu memang ingin pergi dari Perusahaan saya silahkan langkahkan kaki kamu sekarang, dan jangan pernah kembali lagi." Tantang Mario.
Untuk Harvey, kalimat itu tidak terdengar seperti tantangan melainkan sebuah ancaman besar.
"Saya minta maaf, Pak." Harvey menciut ketakutan.
"Kenapa? Kamu tidak mau meninggalkan Perusahaan saya? Apa kamu merasa berhutang budi pada saya?"
Harvey menggeleng cepat. "Bukan seperti itu, Pak. Saya juga tidak bermaksud menolak perintah Bapak. Tetapi memang saya sudah memiliki janji dengan pihak brand, jadi sebisa mungkin saya alihkan pada orang yang saya percayai untuk mengantar makan siang Bapak." Jelas Harvey sebisa mungkin menahan getaran pada suaranya.
Mario tersenyum tipis melihat bawahan sekaligus mantan kekasihnya seakan mengecil seperti hamster.
Mario suka jika Harvey menjadi penurut dan tidak membangkang. Harvey jauh lebih menggemaskan jika sedang dalam mode anak baik.
"Lalu, apa menurut kamu saya akan menerima alasan semacam itu? Jika saya meminta kamu datang, maka harus kamu yang menghadap saya, Harvey." Tekan Mario tak mau dibantah.
Harvey yang masih menunduk dalam akhirnya mengangguk. Dia paham jika dirinya tidak akan bisa melawan Mario si Bos Jahat. Setidaknya sampai hutang yang Ia miliki lunas, dan di saat itu, Harvey akan menjauh dari Mario.
Sebentar lagi. Beberapa bulan lagi.
"Saya akan datang ketika waktu makan siang, Pak. Sekali lagi maaf jika kalimat saya ada yang menyinggung Bapak." Ucap Harvey seraya membungkuk kecil.
Senyum Mario langsung menghilang kala Harvey menatapnya. Yang tersisa hanyalah wajah datar nan menyebalkan si Bos Jahat.
"Ya. Kamu boleh pergi." Mario menunjuk ke arah pintu dengan matanya.
Harvey mengangguk kemudian dengan cepat kilat menghilang dari balik pintu. Ada rasa mual ketika Ia berhasil keluar, mungkin karena terlalu menegangkan waktu-waktu bersama Mario. Ingin menghilang saja rasanya.
Sekitar pukul 11 siang Harvey sudah kembali disibukkan dengan beberapa pilihan menu untuk makan siang Mario.
Lelaki itu alergi udang tetapi sangat menyukai salah satu makanan laut yang paling digemari kebanyakan orang itu. Dan sekarang Mario meminta disiapkan tumis udang asam manis dengan tambahan mashed potato.
Salah satu cara untuk mengurangi kemungkinan alergi Mario kambuh adalah dengan mengupas kulit udang sampai hanya menyisakan dagingnya saja.
Harvey dengan telaten mengupasi udang satu persatu sebab si Bos Jahat meminta agar dia yang memasak.
Mentang-mentang dulu sering dibuatkan makanan, jadi seenaknya. Wajar sih karena masakan Harvey adalah salah satu yang paling bisa dibanggakan darinya.
Selesai memasak pukul setengah dua belas lewat sepuluh menit. Waktu makan siang adalah jam satu, jadi Harvey masih memiliki banyak waktu untuk beristirahat sejenak.
Lelaki kelahiran Juni itu menikmati secangkir kopi susu sachet yang disediakan oleh kantor. Sedang asik menggulis sosial media, tiba-tiba saja sepasang lengan memeluknya dari belakang.
Hampir saja Harvey melempar orang itu dengan ponselnya. Namun ketika yang Ia temukan adalah Mario, tangannya seketika turun kembali ke tempat semula.
"Bapak ngapain di sini?!" Tanya Harvey berbisik.
"Saya sudah menunggu kamu sejak tadi tetapi kamu tak kunjung datang. Saya pikir kamu bohong dan memilih menemui wanita sialan itu, Harvey." Balas Mario pelan tepat di telinga yang lebih muda.
Harvey bergidik geli karena bisikan Mario, namun si Bos Jahat justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Cepat datang ke ruangan saya. Kalau tidak biar kamu yang saya makan sampai kenyang." Bisik Mario senduktif.
Harvey menganga melihat sang atasan pergi begitu saja setelah memberikan ancaman padanya. "Ini yang gila dia atau gue sih?" Batin Harvey nelangsa.
-
Spoiler:
"Saya tidak suka kamu terlalu dekat dengan dia, Harvey. Kamu hanya milik saya. Milik Lionel Mario."
"Jangan hukum saya, Pak. Saya mohon.."
• sweatyswear •
YOU ARE READING
DIRTY BOSS. 🔞 | ON HOLD
Romance"Jangan buat saya marah, Harvey. Kamu tau apa yang bisa saya lakukan jika kamu melawan, hm?" Lionel Mario adalah atasan sekaligus MANTAN yang sangat Harvey hindari. Tetapi untuk lepas dari Mario? Harvey belum mampu. Harvey Brastico Lio, pemuda 24 ta...
