Derita dalam lara

3 0 0
                                        

  Aku adalah anak yang penuh luka hidup dalam duka dan lara,menangis dalam diam tertawa dengan kepalsuan.Aku adalah aku manusia dengan beragam muka,sekilas menarik mata bagi peminatnya namun dia penuh dengan amarah.Dia hanya membutuhkan sebuah kebahagiaan dan melupakan penderitaan yang ada.

  "Hei,mengapa kamu hanya berdiam dirumah saja?",tanya seorang tetangga kepada aku.

  "Tidak apa-apa, saya dirumah menunggu pemanggilan interview serta mencari lowongan pekerjaan",jawabku kepada tetangga itu.

  "Kenapa dengan pekerjaan sebelumnya? Apakah tidak cocok?",tanyanya lagi kepadaku.

  "Tidak,hanya ingin mencari batu loncatan agar dapat menabung lebih banyak lagi serta mencari pengalaman bekerja yang baru",paparku.

  "Oh begitu,semoga segera dapat ya",jawabnya dan aku pun mengangguk sebagai tanda mengakhiri percakapan tersebut.

  Setelah itu tetangga tersebut beranjak pergi dari teras rumahku kembali ke rumahnya sendiri.Aku menghela nafas panjang,aku paling tidak suka ditanyai hal semacam itu.Karena hampir semua tetangga bertanya hal yang sama,aku malas untuk menjawabnya.

  Aku pun kembali ke dalam rumah, melanjutkan pekerjaan ku membantu ibu yang tertunda tadi.

  Tugas membantu ibu sudah beres, sekarang saatnya kembali ke kamar untuk istirahat.Aku pun merebahkan tubuhku ke kasur yang empuk sembari melihat handphone membuka apakah ada yang mengirim pesan tidak kepadanya.

  Ting Ting Ting....

  Ternyata temannya mengirim pesan kepadanya,bertanya kabar serta menanyakan soal pekerjaan sudah dapat atau belum.Temannya bukan penasaran seperti tetangga tadi, melainkan khawatir kepadaku.Aku pun membalasnya dengan santai dan kami meneruskan obrolan dengan lama berbagi cerita serta mengungkit kisah saat masa SMA.

  Matahari mulai terbenam menandakan hari mulai petang.Orang di desa ini mulai memasuki rumahnya masing-masing,lalu menyalakan lampu untuk penerangan di malam hari.

  "Ayo nak,waktunya makan malam",ajak si wanita paruh baya itu kepada anaknya.

  "Iya bu sebentar,ibu bisa makan terlebih dahulu",jawab sang anak.

  Aku pun bergegas menuju ruang makan melihat disekitar ternyata sudah banyak hidangan di atas meja.Aku segera menarik kursi dan duduk mulai makan.Suasana pun menjadi hening sampai acara makan mereka telah selesai.Ibu dan anak itu membereskan meja makan dan mencuci piring serta gelas kotor.

  Sembari mencuci si anak menyeletuk kepada ibu nya,"Bu, aku sudah melamar banyak pekerjaan.Tetapi kenapa aku belum dipanggil juga ya?"

  Ibunya pun menjawab,"Ditunggu saja,sabar mungkin mereka sedang sibuk jadi belum memanggil kamu untuk interview.Kalau memang rezekinya,kamu akan segera dipanggil diimbangi dengan ibadah ya agar dimudahkan dalam segala urusan."

  "Iya bu",jawabku singkat lalu pergi ke kamar untuk istirahat.Entah kenapa hari ini dirinya merasa lelah sekali ingin segera menuju ke kasur dan langsung tidur tanpa melakukan aktivitas lain.

####

  Keesokan harinya aku  bangun lebih awal dan membantu ibu seperti biasa.Setelah selesai, kemudian beranjak pergi ke kamar mandi dirinya ingin membersihkan tubuhnya karena merasa sudah bau dan tubuhnya terasa lengket.

  Ting Ting Ting....

  Suara pesan masuk ke dalam handphone nya.Aku yang memang sudah selesai mandi pun segera mengecek,siapa yang mengiriminya pesan itu.

  Disitu tertera ada pesan masuk yang berisi tentang pemanggilan interview untuk bekerja.Seketika aku pun merasa senang,lalu dia melihat kapan interview tersebut dilakukan.Dan ternyata mendadak sekali,jadwalnya hari ini pukul 1 siang.

.....Stories to obsess over. Discover now