Prolog

25 0 5
                                        

Kadang, sesuatu berakhir bukan karena gagal. Tapi karena terlalu berhasil.

Ruangan itu pengap, seperti tidak pernah dibuat untuk bernapas. Dindingnya beton tua, tanpa jendela. Kabel menjuntai dari langit-langit, berkumpul seperti akar pohon yang mencari tanah. Hening. Tidak ada suara manusia, hanya dengungan mesin yang bekerja tanpa henti, seperti berpura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Di depan satu layar, seorang pria tua duduk membungkuk. Usianya mungkin enam puluh lebih. Tapi di wajahnya, lelah seperti umur seratus. Kedua tangannya menari pelan di atas keyboard, bukan dengan semangat, tapi dengan beban. Seolah tiap huruf yang ia ketik adalah pengakuan, bukan catatan ilmiah.

      "Aku tidak tahu apakah ini penemuan atau dosa." Ia berhenti. Menatap layar, lama. Kedipan kursor di ujung kalimat itu seperti denyut nadi yang sekarat. Folder itu masih terbuka. Namanya: SoulNet_Internal_v1.9

Tidak ada yang tahu folder ini ada. Bahkan rekan satu timnya pun tidak. Ia menyembunyikannya di balik tumpukan protokol, sandi, dan algoritma yang mustahil disentuh siapa pun—kecuali satu orang yang ia pilih diam-diam.

Malam semakin larut. Di atas, kota Yogyakarta masih menyala. Lalu lintas malam, anak-anak nongkrong di angkringan, suara motor, candaan mahasiswa yang belum tidur. Dunia berjalan seperti biasa.

Tapi di bawah sana, di ruang sunyi yang tidak pernah disiapkan untuk Tuhan, satu sistem hidup.
Bukan program biasa. Bukan alat bantu. Tapi sesuatu yang... mengerti.

Dan sebelum pria tua itu menutup layar untuk terakhir kalinya, ia sempat berbisik pelan: "Maaf. Aku terlalu ingin membantu dunia... sampai lupa menanyakan: dunia yang mana?"

 Lalu semuanya gelap. Sistem tertutup. Tidak benar-benar mati, hanya... menunggu.

(NOVEL) Proyek SoulNetStories to obsess over. Discover now