Ha Jungwoo menghela napas panjang, sebuah tarikan pelan dengan letih, seolah paru-parunya pun ingin menyesap aroma akhir dari perjalanan panjang yang melelahkan. Pesawat yang menembus awan, mobil yang melintasi jalan berliku dengan sabar, hingga akhirnya langkahnya terhenti di hadapan sebuah gapura sederhana. Tak ada lengkung batu megah atau ukiran mencolok di sana, hanya batang-batang bambu tua yang disusun rapi, berderik lirih diterpa angin lembut, seperti menyambutnya dengan senyum malu-malu. Di tengahnya, menggantung sebuah papan kayu kusam bertuliskan "Selamat Datang", dengan cat putih yang mulai mengelupas seperti kenangan lama yang terus berusaha bertahan di dinding waktu.
Dua mobil hitam yang mengantarnya melaju pelan, rodanya menyusuri jalan tanah yang menyisakan debu keemasan, beterbangan halus menari di udara sore. Cahaya matahari menyelinap di sela-sela daun kelapa dan pohon kamboja, memantul di dinding-dinding rumah penduduk yang bersahaja. Setiap rumah seperti altar kecil bagi semesta, dengan pura mungil berdiri di halamannya, suci, tenang, dan penuh warna. Di depannya tersaji canang sari: bunga-bunga tropis yang ditata dalam anyaman janur, menyebarkan wangi harum yang lembut namun menusuk hati, seperti doa-doa diam yang terbang bersama angin.
Udara di desa itu begitu segar, nyaris seperti embusan nafas bumi yang baru saja dibersihkan oleh hujan. Ha Jungwoo menghirup dalam-dalam, dadanya terisi oleh aroma tanah basah, bunga kamboja, dan dupa yang membubung dari setiap sudut rumah. Ia terpukau, bukan hanya oleh keindahan visual yang terpampang, tapi juga oleh keheningan yang nyaris suci, suara langkah kaki, desir angin, dan bisikan dedaunan yang seakan berbicara dalam bahasa yang belum pernah ia kenal, namun anehnya terasa akrab.
Orang-orang lalu lalang, tidak terburu-buru seperti di kota. Para pria mengenakan ikat kepala putih yang bersih, seperti lambang ketenangan yang tak tergoyahkan. Sementara para wanita melenggang anggun dengan kain-kain berwarna cerah melilit pinggang mereka, seolah membawa pelangi dalam langkahnya. Segalanya tampak begitu tenang, teratur, dan penuh penghormatan, seperti desa ini bukan hanya sebuah tempat, tapi semacam perbatasan antara dunia nyata dan alam mimpi, antara waktu kini dan masa lampau yang belum usai.
Mobil itu terus melaju, roda-rodanya melintasi jalan sempit yang diapit rumah-rumah bersahaja, pohon pisang, dan pagar hidup dari semak belukar. Desa perlahan tertinggal di belakang, digantikan oleh hamparan ladang jagung yang menguning di bawah sentuhan cahaya senja. Ujung desa seperti mengembang menjadi lautan hijau keemasan, penuh bisik sunyi batang-batang jagung yang bergoyang pelan, seperti ribuan tangan kecil yang melambai menyambut kedatangan Hajung dalam diam.
Angin menjadi lebih terbuka di sini, menyusup lewat sela jendela mobil yang sedikit terbuka, membawa aroma tanah yang hangat dan daun yang kering. Di kejauhan, di ambang batas antara ladang dan langit, berdiri sebuah rumah di atas tanah yang lebih tinggi. Seperti istana kecil yang menjaga ladang dari kejauhan, rumah itu tampak bersandar pada kemiringan bukit, sunyi namun tidak sendiri, seolah sudah lama menunggu kedatangan seseorang.
Mobil yang mengantar Hajung melambat saat roda-roda depannya mulai menyentuh jalan kecil yang menanjak menuju rumah itu. Jalan tanah yang digerus waktu dan hujan, membentuk guratan-guratan yang mengingatkan pada lipatan wajah seorang tua yang telah lama menatap musim. Perlahan, mobil mendaki, seperti enggan mengusik ketenangan yang telah lama menetap di sana.
Begitu sampai di titik tertinggi, Hajung menoleh ke belakang, dan seketika itu pula napasnya tercekat oleh keindahan yang membentang di bawahnya. Ladang jagung kini terlihat seperti permadani raksasa, hijau tua bercampur emas muda, terbentang luas di bawah langit yang mulai merona jingga. Cahaya sore menyiram segalanya dalam semburat lembut, menciptakan bayang-bayang panjang yang menari pelan di permukaan bumi. Di kejauhan, garis horizon terlihat mengambang, menyatu antara tanah dan langit dalam pelukan yang hampir tak kasatmata.
YOU ARE READING
8 Menit
RomanceKedamaian sejati yang ia cari selama ini bukanlah tempat, melainkan kehadiran seseorang yang mampu membuatnya merasa pulang. Dan pencarian itu, yang semula sunyi, pelan-pelan mengarah pada sebuah pertemuan yang akan mengubah makna "rumah" dalam hidu...
