chapter 1

1.5K 61 0
                                        

Haii.. ini bukan cerita yang pertama tetapi pertama kali publish di sini...Harap kalian suka:)















Alarm di ponsel New Thitipoom berdering nyaring, memecah keheningan subuh yang masih menyelimuti Jakarta. Pukul 6 pagi tepat. Dengan enggan, tangannya terjulur dari balik selimut tebal, meraba-raba meja kecil di sisi ranjang mencari sumber suara yang mengganggunya itu. Setelah berhasil menemukannya, ia menekan tombol 'tunda' dan kembali meringkuk di bawah selimut, menikmati beberapa menit tambahan dalam kehangatan. Namun, sebagai mahasiswa tingkat akhir yang memiliki jadwal kuliah padat dan segudang tugas, New tahu bahwa ia tidak bisa berlama-lama bermesraan dengan kasur. Dengan helaan napas panjang, ia akhirnya membuka mata. Cahaya samar dari celah tirai jendela kamarnya mulai menampakkan siluet perabotan sederhana: meja belajar yang dipenuhi buku dan catatan, lemari pakaian yang pintunya sedikit terbuka, dan beberapa poster band indie favoritnya yang tertempel di dinding.

New meregangkan tubuhnya, merasakan otot-ototnya yang sedikit kaku setelah tidur semalaman. Ia duduk di tepi ranjang, mengucek matanya sejenak sebelum meraih handuk yang tergantung di sandaran kursi. Langkah pertamanya adalah menuju kamar mandi kecil di dalam unit apartemen sewanya. Suara gemericik air segera terdengar, mengiringi rutinitas paginya membersihkan diri. Lima belas menit kemudian, New keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan handuk melingkar di lehernya. Ia berjalan menuju lemari pakaian, memilih kemeja kasual berwarna biru tua dan celana panjang berbahan katun yang nyaman. Sebagai mahasiswa, penampilannya tidak perlu terlalu formal, yang penting rapi dan sopan untuk menghadiri kuliah.

Sambil berpakaian, pikirannya sudah mulai berkelana pada mata kuliah hari ini: Teori Ekonomi Mikro di pagi hari dan Seminar Sastra Kontemporer di siang nanti. Ia berharap Profesor Lim tidak memberikan kuis dadakan lagi hari ini. Setelah berpakaian, New beranjak ke dapur kecil di sudut apartemennya. Ia membuka lemari es, mengambil sekotak susu dan beberapa lembar roti tawar. Sarapan sederhana adalah ritual wajibnya sebelum memulai hari yang panjang. Sambil menunggu roti panggangnya matang, ia menyeduh secangkir kopi hitam pekat untuk mengusir kantuk yang masih tersisa. Aroma kopi yang kuat perlahan memenuhi ruangan, memberikan semangat baru. Sambil menikmati sarapannya, New memeriksa ponselnya. Beberapa notifikasi dari grup chat kelas dan pengingat tugas dari aplikasi belajar daringnya muncul di layar. Ia sekilas membaca pesan-pesan tersebut, menandai yang penting untuk dibalas nanti.

Setelah selesai sarapan dan mencuci peralatan makan, New kembali ke kamarnya untuk mengambil tas ranselnya yang sudah terisi buku dan catatan semalam. Ia menyisir rambutnya di depan cermin, memastikan penampilannya sudah cukup rapi. Sebelum keluar, ia tidak lupa mengambil kunci apartemen dan kartu transportasi miliknya. Dengan langkah kaki yang mantap, New membuka pintu apartemennya dan melangkah keluar menuju lift. Pagi di Jakarta sudah mulai ramai. Suara kendaraan dan aktivitas warga kota mulai terdengar samar-samar dari kejauhan. New Thitipoom, seorang mahasiswa dengan segudang impian dan tanggung jawab, siap untuk menjalani hari perkuliahannya. Mentari pagi menyinari langkahnya, membawa harapan untuk ilmu dan pengalaman baru.

New mengunci pintu apartemennya dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang tertinggal. Udara pagi terasa sedikit lembap, khas daerah tropis. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma embun dan sedikit polusi kota yang mulai beraktivitas. Berbeda dengan sebagian besar mahasiswa yang memilih menggunakan transportasi umum atau kendaraan pribadi, New lebih suka berjalan kaki ke kampusnya. Selain sebagai bentuk olahraga ringan, berjalan kaki memberinya kesempatan untuk menikmati suasana pagi kota dan menjernihkan pikirannya sebelum berkutat dengan materi kuliah.

Ia melangkah keluar dari kompleks apartemennya dan menyusuri trotoar yang mulai dipadati pejalan kaki. Beberapa di antaranya adalah pekerja kantoran yang terburu-buru menuju halte bus, sementara yang lain adalah pedagang kaki lima yang baru saja membuka lapaknya. Aroma makanan dari warung-warung pinggir jalan menggelitik hidungnya, membuatnya sedikit lapar lagi meskipun sudah sarapan. Sambil berjalan, New mengamati sekelilingnya. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi di kejauhan, kontras dengan bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh di beberapa sudut jalan. Pohon-pohon trembesi yang rindang di sepanjang jalan memberikan sedikit keteduhan dari sengatan matahari pagi yang mulai terasa hangat.

Ia melewati beberapa toko yang baru buka, menampilkan berbagai macam barang dagangan. Suara obrolan para pedagang dan pembeli bercampur dengan bunyi klakson kendaraan yang sesekali terdengar. New memasang earphone di telinganya, memutar daftar lagu favoritnya untuk menemaninya berjalan. Irama musik indie yang mengalun lembut membuatnya merasa lebih bersemangat. Perjalanan menuju kampusnya memakan waktu sekitar lima belas menit. Selama itu, New bisa melihat berbagai macam interaksi dan aktivitas kota yang mungkin terlewatkan jika ia menggunakan kendaraan. Ia melihat seorang kakek yang sedang menyapu halaman rumahnya, seorang ibu muda yang mengantar anaknya ke sekolah, dan sekelompok anak muda yang sedang bercanda ria sambil menunggu bus.

Setiap langkahnya membawa New semakin dekat dengan gerbang kampusnya. Ia bisa melihat keramaian mahasiswa yang mulai berdatangan, berjalan tergesa-gesa menuju fakultas masing-masing. Suara tawa dan obrolan mereka terdengar semakin jelas. Ketika akhirnya tiba di gerbang kampus, New melepaskan earphonenya dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Ia mengamati sejenak bangunan-bangunan megah kampusnya yang berdiri kokoh di bawah langit pagi yang semakin cerah. Ada perasaan familiar dan semangat baru setiap kali ia menginjakkan kaki di tempat ini, tempat di mana ia menimba ilmu dan mengejar cita-citanya. Dengan senyum tipis di bibirnya, New Thitipoom melangkahkan kakinya memasuki gerbang universitas, siap untuk menghadapi hari perkuliahan yang menantinya. Perjalanan kaki paginya telah memberikannya energi dan kejernihan pikiran untuk belajar dan berinteraksi dengan dunia akademik.

-
-
-
-

Langkah New terhenti sejenak di dekat air mancur, yang sejak lama jadi titik kumpul favorit para mahasiswa. Matanya dengan cepat menyapu kerumunan di pagi itu, mencari dua sosok yang sudah sangat ia kenal. Tak lama, sebuah lambaian tangan muncul dari arah bangku di bawah pohon rindang.

Gun menyambut New dengan senyum lebarnya yang khas, ceria seperti biasa. Sedangkan Krist tampak lebih kalem, tapi ekspresi jahilnya tetap tersungging di wajah. Mereka berdua bukan sekadar teman biasa, melainkan sudah seperti keluarga kecil bagi New sejak awal masa kuliah.

"New! Akhirnya nongol juga, Bro. Kami udah dari tadi nungguin, tahu!" seru Gun dengan nada penuh semangat.

Krist menyeringai sambil menimpali, "Masih hobi banget jalan kaki sambil nikmatin suasana pagi kampus, ya? Bikin iri orang yang tiap hari buru-buru naik ojek."

New tertawa pelan, mendekat, lalu duduk di bangku kosong di samping mereka. "Selamat pagi, para pejabat kampus. Ampun deh, udah kayak dosen beneran gayanya," godanya sambil menyeringai.

Memang Gun dan Krist sangat aktif di organisasi kemahasiswaan. Mereka tinggal di asrama kampus, sibuk mengurus rapat, acara, dan segala macam kegiatan. New terkadang heran, bagaimana mereka bisa tetap waras dengan segudang aktivitas itu.

"Kau tuh nggak pernah berubah, ya, New?" canda Gun dengan nyengir nakal. "Kami udah capek ngebujuk kamu buat gabung panitia atau unit kegiatan mahasiswa. Jawabanmu pasti, 'nanti aja deh'."

Krist menambahkan, "Padahal, kemampuan kamu tuh sayang banget kalau cuma dipakai buat ngerjain tugas. Kamu bisa banget bawa perubahan kalau mau."

New menarik napas pelan, lalu tersenyum santai. "Aku bukannya anti kegiatan kampus, kok. Cuma... aku tahu kapasitas diriku. Fokusku sekarang ya kuliah. Terlalu banyak kegiatan nanti malah bikin aku keteteran."

"Ah, klasik! Alasan kutu buku sejati!" Goda Gun sambil pura-pura mencubit pipi New.

"Heh! Aku cuma tahu mana yang harus didahulukan. Kalian keren sih bisa bagi waktu, tapi jalanku beda," jawab New sambil tertawa dan menepis tangan Gun.

Krist mengangguk penuh pengertian. "Kami paham kok. Cuma ya... sayang aja. Soalnya pengalaman di luar kelas juga penting buat ngembangin diri."

"Iya, aku ngerti. Mungkin nanti, kalau aku udah lebih siap, aku bakal coba. Tapi sekarang, izinkan aku jadi anak rajin dulu," kata New.

Saat itu, bel kampus berbunyi, menandakan perkuliahan akan segera dimulai. Mereka bertiga pun berdiri dan berjalan bersama menuju gedung fakultas, sambil ngobrol santai tentang mata kuliah pertama hari itu. Walaupun pilihan mereka berbeda soal kegiatan kampus, satu hal yang pasti tetap sama: persahabatan mereka solid, dibangun di atas rasa saling mengerti dan saling mendukung.
~~

SECOND GLANCEStories to obsess over. Discover now