00. Anaya

10 2 0
                                        

Bandung, 12 Maret 2020

꩜

꩜

Seorang gadis cantik terduduk di tepi ranjangnya, sembari menatap sebuah lembaran kertas ditangannya. Lalu ia menghela nafasnya sejenak, ia baru saja mengemasi barang-barangnya, lalu ia menatap bingkai foto yang tergeletak di atas ranjangnya. Ia menatap bingkai foto itu yang terdapat 4 orang didalamnya, sembari mengusap pelan foto itu. Lalu tersenyum tipis dan menaruhnya kedalam koper yang berisi barang-barangnya, hari ini adalah hari Sabtu dan ia berniat untuk pergi merantau dari kota kelahirannya ini.

Gadis itu adalah Anaya Putri Wijaya, Anaya mengemasi barang-barangnya dan membawanya keluar dari kamar, diluar kamar tepatnya Ruang tamu di rumah tersebut terdapat 2 pasang Suami istri dan 1 anak perempuan menunggu Anaya. Anaya menghampiri mereka yang sedang duduk di kursi sofa, lalu ia mengambil tempat tepat disamping anak kecil itu. Lalu tangan Anaya beranjak mengusap kepala Anak kecil itu, sembari menyunggingkan senyum manis kepada si anak kecil yang terlihat sedang murung.

" Kamu beneran mau pergi dari sini nay? gamau tinggal aja sama abang dan teteh disini? " ujar seorang perempuan yang sedang duduk diseberang Anaya.

" Iya teh, Anaya kan udah gede gamungkin dong terus bergantung sama abang dan teteh, gaenak juga terus terusan numpang disini. " ujar Anaya sembari tersenyum tipis

" Kamu ngomong apasih nay, kamu itu adek Abang, Adek kandung Abang. Yang artinya sekarang kamu tanggung jawab Abang nay, wajar kalau kamu bergantung sama abang, apalagi kamu adek perempuan satu satunya buat Abang. " ujarnya, Dia adalah Adam Malik Wijaya. Abang kandung Anaya, dan disebelahnya adalah istrinya atau kakak ipar Anaya, Kintana Leraswati.

" Bener kata abang kamu nay, kamu sekarang udah jadi tanggung jawab Mas Malik, lagian teteh juga ga keberatan kalau kamu tinggal disini sama kita nay. " ujar teh kintan menyakini Anaya, Ia juga tidak ingin sang adik ipar harus berjuang sendiri.

" Ga perlu teh, lagian keputusan Naya untuk pergi dari sini dan merantau udah bulet kok. Anaya kan harus lebih mandiri sekarang, gamungkin terus ngerepotin Abang sama Teteh. " ujar Anaya dengan yakin, keputusannya untuk merantau sudah ia pikirkan matang-matang. Ia juga dapat keputusan untuk merantau karna seseorang.

" Yaudah kalau keputusan kamu emang udah bulet, dan yakin. Teteh ga maksa, tapi merantau itu ga gampang tau nay, apalagi kamu sendiri. Perempuan lagi. " ujar Kintan, ia menatap Anaya dengan khawatir.

" Ga masalah kok teh, Anaya perempuan bukan berarti Anaya lemah. Abah kan juga bilang kalau Anaya itu kuat, lagian kalau disana Anaya udah ada yang ngurusin nanti, karena ini keputusan dari Abah. walaupun sebenarnya bunda ga setuju, tapi Anaya setuju kok. " jelas Anaya, keputusan untuk merantau sudah dari jauh jauh hari sebelumnya, yang dimana sang Abah mau jika ia merantau, katanya agar bisa lebih tau bagaimana jika kita merantau sendiri dan tidak terus terusan bergantung atau merepotkan orang terdekat kita.

" Abah? kok bisa Abah nyuruh Naya merantau? " heran Malik, setahunya sang adik tidak pernah diperbolehkan pergi jauh-jauh dulu oleh sang Abah, keluar sebentar saja sudah dicariin dimana mana, Lah ini malah disuruh merantau sendiri.

" Soalnya kata Abah Naya harus bantu seseorang disana, terus biar ga ngerepotin Abang juga disini. Abang kan punya keluarga sendiri, gamungkin dong ngurusin Anaya juga.. jadi ya Abah suruh Naya pergi ke desa sana. " jelas Anaya lagi.

" Emang kamu mau merantau dimana si nay, kok Teteh sama Abang gatau? " tanya Kintan. Karena hanya sang Abah dan sang Bunda yang tau jika Anaya akan merantau, sedangkan Teh kintan dan Abang gatau sama informasi Anaya akan merantau.

" Naya disuruh Abah ke jogja, di desa Gunung kidul. Nanti kalau Naya udah disana, Naya akan terus kasih kabar kok ke Abang sama Teteh. " ujar Anaya, ia akan pergi dari Bandung ke Jogja, karena di Jogja kata Abah ada seseorang yang harus Anaya bantu, dan Naya juga sudah tau siapa orangnya.

" Ooh gitu, kalau itu keputusan kamu sama Abah, yaudah Abang cuman bisa dukung aja, yang penting kamu harus baik-baik aja disana ya. Jaga diri kamu, Abang gamau Naya kenapa-kenapa. " ujar Malik dengan serius

" Iya Abang, Abang sama Teteh tenang aja. Naya bisa jaga diri kok, kalau gitu Naya mau berangkat sekarang ya, takutnya malah jadi kesiangan nanti ke terminal nya. " ujar Anaya

" Eh, Abang anterin aja Nay , bentar Abang ambil kunci mobilnya dulu. " tawar Malik, lalu beranjak ke dalam kamarnya.

" Eh, Kita ikut. Ayo Aruna, kita anterin Teh Naya. " ujar Kintan sembari menggendong anak kecil disamping Anaya, Dia adalah Aruna Putri. Anak dari Malik dan Kintan, ntah apa alasannya kenapa bisa namanya mirip dengan nama Anaya.

" Aunty Aya beneran pergi, terus nanti yang main sama una siapa. " ujar Aruna dengan raut sedih, sejak tadi wajahnya murung karena tidak mau ditinggal sang Aunty.

" Iya sayang, maafin Aunty ya, Aunty aya harus pergi. Nanti kita bisa main bareng lagi kok kalau aunty pulang kesini ya? " ujar Anaya lembut, sembari mengusap rambut si kecil digendongan Kintan. Kintan yang melihatnya hanya tersenyum sendu ditempatnya, sebenarnya ia juga berat jika Anaya pergi.

" Udah udah, jangan pada sedih semua dong. Nanti kan bisa kumpul lagi, Yaudah ayo berangkat Nay. " ujar Malik yang keluar dari kamarnya, lalu beranjak keluar dari Rumah diikuti yang lain. Dengan Naya yang menggeret barang barangnya keluar dibantu sang Abang.

" Eh tapi bang, Boleh mampir ke tempat Abah sama Bunda dulu? " ujar Anaya, membuat Malik yang tadinya sedang memasukkan barang-barang Naya terhenti, dan Kintan yang sudah berada di dalam mobil mendengar ucapan Naya pun menoleh kearah belakang, menatap sang suami dari arah bagasi mobil yang terbuka. Malik menatap Naya sambil tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.

" Iya boleh, nanti Abang juga beliin bunga kesukaan Bunda sama Abah. " ujar Malik dengan menatap Sang adik, sembari mengusak rambut Naya pelan.

────୨ৎ────
tbc.


Sebelumnya maaf jika masih ada kekurangan kata atau kalimatnya ga nyambung, karna aku masih baru disini, Aku cuman berbagi cerita yang aku karang sendiri.

Dan cerita ini juga kayaknya akan sering campur dengan bahasa jawa sama Indonesia.

Jadi.. mohon dimaklumi ya :p

Jogja bersama kamu.Stories to obsess over. Discover now