"menakjubkan" Javier menatap buku – buku dengan tulisan yang sedikit banyak kesulitan ia baca.
"kau benar – benar kabur agar bisa kemari?" Channes bertanya pada Javier setelah menutup buku tebal didepannya.
"begitulah" Javier masih sibuk membaca buku yang berisikan kumpulan mantra sihir itu.
"kau tau Javier, kita berada di bumi tapi tidak dibumi. Tempat ini menakjubkan" Channes menopang dagunya dan melihat kearah luar jendela perpustakaan.
"suasananya seperti abad pertengahan, perbedaannya adalah waktu disini seolah membeku kan?" Javier dan Channes menatap Jevan yang meletakkan buku yang baru dipilihnya.
"sejak kapan gerbang antara dua dunia dibuka untuk umum?" Channes menatap Jevan penasaran.
"apa kau bodoh? Gerbang tidak pernah dibuka untuk umum" Javier menjitak dahi Channes "kita dapat kemari karena kita mendaftar dan mengikuti seleksi"
"kekacauan akan terjadi jika semua orang dapat berpindah sesuka hati mereka, karena itu kita yang dapat berada disini diikat dengan sihir kan?" Jevan menyahut sambil melihat – lihat bukunya "dan hebatnya kita secara perlahan dapat mengerti bahasa dan aksara mereka karena efek sihir itu sendiri"
"sihir ya?" Javier tersenyum sinis "dipikirkan berapa kalipun tempat ini menakjubkan"
"karena kita ada disini, apa kita bisa menggunakan sihir?" Channes menatap Javier dan Jevan penuh semangat.
"mereka bilang semua orang memiliki sihir, bahkan kita yang sebenarnya tidak tinggal di dunia ini" Jevan mengangguk.
"apa aku perlu mencobanya? Aku sedang memegang buku sihir" Javier menatap dua temannya penuh semangat.
"jangan" Jevan dan Channes menatap Javier datar
"dua jam lagi kita harus menghadiri kelas. Kita ini siswa pertukaran pelajar" Jevan menggelengkan kepalanya.
"kita itu mahasiswa dan kenapa saat kemari kembali menjadi siswa?" Channes memiringkan kepalanya.
"karena ditempat ini hanya ada akademi, mereka masih melakukan pendidikan dasar dirumah" Jevan memutar bola matanya.
"jadi, seragam yang kita pakai adalah seragam akademi?" Channes menatap seragam mereka bertiga.
"kenapa? Kau ingin melepasnya dan mengenakan kaos?" Javier menatap Channes dengan senyuman penuh ejekan.
"kau" Channes memukul bahu Javier. Tapi Javier sama sekali tidak mengunduh kesakitan dan menatap bukunya penasaran "ada apa?"
"kenapa tidak ada mantra?" Javier membaca seluruh halamannya dan ia yakin tidak ada mantra disana. Karena yang tertulis pada halaman itu hanyalah deskripsi.
"kau tiba - tiba sudah lancar membaca aksara mereka?" Jevan menatap Javier dengan satu alis terangkat.
"seharusnya ada mantra kan? Ini adalah buku sihir" Javier kembali membaca bukunya. Tapi yang ada disana semuanya hanya penjelasan mengenai fungsi dan cara menggunakan mantra teleportasi.
"bagaimana bisa mahasiswa komputer seperti dirimu begitu bersemangat mempelajari mantra sihir?" Channes menatap Javier dengan alis mengkerut.
"bukankah yang setiap hari ia lakukan adalah memberi mantra perintah pada komputer?" Jevan menyahut dengan tawa kecilnya.
"kau benar" Channes mengangguk, sicantik menatap Javier yang terlihat sibuk membaca bukunya dan sedetik berikutnya pemuda itu sudah tidak ada lagi dihadapannya "JAVIER" teriak Channes panik.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.