ニマリスㅤ⸻ㅤ01

22 8 0
                                        

ㅤㅤ Langit berwarna kelabu, menutup mentari siang yang harusnya menyinari dunia dengan terik menyebalkan, dan mungkin juga untuk menghapus kesedihan dari seorang gadis bersurai taupe.

Mizuno Haruna.

Gadis sekolah menengah itu nampak murung, saat dia berjalan di tepi jalan raya yang cukup ramai. Langkah dari kaki jenjangnya cukup panjang, namun, gerakannya sangat lambat seolah tidak memiliki semangat untuk menjalani hari yang hampir berakhir.

Hingga dia berbelok dan memasuki sebuah rumah satu lantai. "Tadaima..." Ucapnya tanpa semangat, membuat seorang pria yang memiliki gigi taring mirip ular itu menoleh. "Selamat datang, bagaimana sekolahmu hari ini, nak?"

"... Ya... Seperti biasanya, ayah... Tidak... Ada yang berbeda.." jawab sang dara sembari meletakkan sepatu pantofel miliknya ke dalam rak sepatu.

Ayahnya, Mizuno Ryouma hanya bisa tersenyum maklum, "Tinggal satu tahun lagi, Haru... Bertahanlah. Ayah tau hari-hari mu di sekolah buruk. Tapi jika kau pindah, kau harus mengulang kelas- atau buruknya mengulang sekolah..."

"... Iya... Aku paham, ayah..."

Lalu gadis itu berjalan melewati ruang tamu yang sepi, menuju dapur yang masih dipenuhi aroma teh melati sisa pagi tadi. Ia tidak menoleh ke arah foto keluarga yang tergantung di dinding. Foto itu memperlihatkan masa lalu yang sudah terlalu jauh untuk disentuh: Ayah yang tersenyum lebar, ada Ibu yang wajahnya terpotong dan sedang menyisir rambut taupe miliknya, serta Airin yang selalu berdiri lebih dekat ke kamera, seolah melindunginya dan tak lupa dengan dua saudara laki laki yang nampak asik sendiri tak jauh dari mereka

Tapi kini hanya ada gema dan suara langkahnya sendiri.

Ia mengambil segelas air, meminumnya pelan. Sejuk, tapi tidak menenangkan. Tidak ada yang benar-benar bisa menenangkan saat seluruh kelasmu memandangmu seperti kau adalah mimpi buruk yang berjalan dengan kaki.

Kata-kata mereka masih bergema dalam pikirannya. Cemooh kasar dari anak-anak dikelasnya.

"Serius, sekolah masih nerima mutant aneh kayak dia?"

"Katanya sentuhannya bisa ngeracunin orang."

"Menjijikkan..."

Tangannya mengepal. Gelas di genggamannya mulai bergetar, permukaannya beriak. Setetes air meloncat keluar dan jatuh ke ubin.

Haruna buru-buru meletakkan gelas ke wastafel, menarik nafas dalam-dalam.

Ryouma sempat terdiam sebelum mendekat tanpa suara. Tangan pria itu besar dan bersisik samar, mewarisi ciri dari Quirk-nya sendiri: Serpent. Tapi berbeda dari kebanyakan pahlawan, ia memilih pensiun muda setelah kematian istri serta anaknya, dan kini hanya menjadi karyawan di pelayanan publik biasa.

Untuk sepersekian detik, tatapannya jatuh pada riak air di gelas itu.

Ada sesuatu seperti ketakutan lama di matanya.

Tapi hanya sesaat.

"Kau tidak harus menjadi pahlawan untuk membuktikan apa pun, Haru," akhirnya dia berbicara, suaranya dalam dan mencoba menenangkan. "Kalau itu menyakitimu terlalu dalam... Ayah tidak akan marah jika kau menyerah."

Tapi Haru menggeleng pelan. "Kalau aku menyerah... mereka menang, yah.."

"Dan kau tidak ingin mereka menang?"

Haruna menatap lantai. "Uhm... Tapi bukan karena aku benci mereka. Itu... karena Arin percaya aku bisa menjadi pahlawan. Ibu... Dia juga percaya. Mereka percaya padaku sebelum aku sendiri sempat melakukannya..."

ㅤ NYMARISStories to obsess over. Discover now