Ketika Badai itu Benar Ada

1.5K 95 31
                                        

"Phi, aku sudah lelah. Cukup untuk hari ini ya?"

"Auw, tumben sekali. Memangnya kau sudah bermain berapa lama?"

North, dengan kedua telinga yang masih ditutupi oleh headset custom miliknya menoleh kearah jam dinding yang ada di dalam kamar. "Kau akan terkejut jika aku memberitahu yang sebenarnya, Phi."

"Kau berlebihan. Tinggal jawab berapa lama saja, jangan bertele-tele."

"5 jam?"

"Itu bahkan lebih sedikit daripada biasanya. Tapi yasudahlah, beristirahatlah nong. Kalau kau tiba-tiba sakit, Johan pasti akan memarahiku."

North tertawa. Arthit benar, Johan sering sekali memarahi sahabat karibnya itu karena mengira Arthit lah yang selalu memangkas waktu North untuk beristirahat padahal North yang terkadang nakal.

North kemudian mematikan layar komputernya. Lalu meregangkan badannya yang terasa kaku setelah berjam-jam duduk di kursi gaming miliknya tanpa berpindah kemanapun.

Matanya terasa panas dan perutnya kelaparan. North baru ingat kalau ia belum ada mengonsumsi apapun lagi setelah pulang dari kelas tadi. Pantas saja.

Membuka pintu kamar dan mendapati ruang tengah yang kosong. North menghela nafasnya. Ini sudah jam sembilan malam dan lagi-lagi Johan belum kembali dari pekerjaannya.

Semenjak Johan mengundurkan diri dari universitas, lelaki itu rasanya makin sibuk. Waktunya ia habiskan untuk mendekam di perusahaan dan berurusan dengan angka dan tulisan yang bisa membuat North pusing bahkan hanya dengan menatapnya saja.

Dan beberapa bulan belakangan ini, johan lebih sibuk dari biasanya. Tidak jarang Johan akan pulang sangat larut dan juga memilih menginap di perusahaan. Meninggalkan North sendiri di penthouse besar. Ia akan pulang larut dan berangkat subuh.

Itu sebabnya, demi mengurangi rasa sepinya, North memilih lebih sering bermain game PC, selain berurusan dengan perkuliahan dan praktikum menyebalkan yang hampir membuat North gila.

Saat menyentuh pintu kulkas, North salah fokus dengan kilau benda yang melingkari jari manis miliknya. Cincin pertunangannya dengan Johan. Ya, dia sudah melangsungkan pertunangan dengan Johan setahun yang lalu.

Pertunangan mereka tidak diadakan secara besar-besaran, namun lebih sederhana dan suasananya lebih hangat. North masih ingat, mereka memasangkan cincin di masing-masing jari milik pasangan mereka di tepi pantai saat matahari terbenam.

Ia merindukan prianya.

North tidak pernah rasanya sejauh ini dengan Johan bahkan sebelum mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Itu sebabnya, North yang biasanya tidak banyak komplain tentang hal seperti ini, kini sedikit berubah. Ia ingin mengatakannya pada Johan betapa ia merindukan pria itu, tetapi belum ada waktu yang tepat.

Bahan makanan di kulkas mereka ternyata sudah mulai sedikit, hanya ada tersisa beberapa sayuran dan telur. Sepertinya North haru berbelanja keperluan dapur besok.

North memasak makan malam dengan bahan seadanya, setidaknya perutnya terisi sebelum tidur.

Menyelesaikan segala pekerjaannya, North lagi-lagi menghela nafas ketika menyadari betapa sepinya meja makan yang biasa ia gunakan untuk makan malam bersama. Ini sudah malam entah keberapa, dan lagi-lagi North makan seorang diri.

Ia menyuap makanannya pelan-pelan, juga tidak lupa menggeser- geser layar ponsel miliknya saat bermain sosial media.

Tiba-tiba terdengar suara pin dari arah pintu. North segera menoleh, dan ia bangkit kesana untuk menyambut orang yang datang. Siapa lagi kalau bukan tunangannya— Johan.

Random [Maxkybas/JohanNorth]Where stories live. Discover now