15

370 34 15
                                        


    Takdir kadang seperti pisau tumpul yang terus-menerus mengiris luka yang sama—tidak cukup tajam untuk membunuh seketika, tetapi cukup kejam untuk membuat seseorang perlahan-lahan kehilangan harapan. Begitulah hidup Fiona Llewellyn, seorang anak yang bahkan sejak lahir pun seolah tak diinginkan oleh dunia.

Seandainya saja dia hanyalah bayangan di rumah itu, mungkin segalanya akan lebih mudah. Namun, seolah bagi mereka yang seharusnya menyebutnya anak, Fiona bukanlah sekadar bayangan—ia adalah kesalahan. Sejak kecil, ia hidup dalam pandangan penuh kebencian, seperti keberadaannya adalah dosa yang tak bisa diampuni. Seolah ia tidak berhak bernapas, tidak berhak merasa, tidak berhak ada.

"Diam. Jangan menangis."

Suara itu menusuk, setajam pisau yang terhunus di tenggorokan. Hantaman telapak tangan besar mendarat di pipinya—keras, kasar, penuh amarah yang tak pernah ia pahami. Tubuh kecil Fiona terhuyung, lututnya jatuh ke lantai kayu yang dingin dan berdebu.

Ia baru empat tahun.

Dunia telah menolaknya sejak ia bisa mengingat. Fiona Llewellyn tidak dibesarkan dengan kasih sayang, melainkan dicetak dalam kepedihan. Ia bukan anak, ia beban. Ia bukan manusia, ia kesalahan.

Air matanya hampir jatuh ketika tangan lain meraih rambutnya, menariknya ke belakang dengan kasar.

Ayah.

Begitulah seharusnya ia menyebut pria ini, tapi kata itu terasa asing, tak pernah memiliki makna bagi dirinya. Hangatnya panggilan itu hanya untuk Layla, saudara kembarnya yang meski lahir di hari yang sama, hidup dalam dunia yang berbeda. Layla disayang, dipuja, dikelilingi kehangatan. Fiona? Fiona adalah noda. Jika ada sesuatu yang salah, maka itu pasti kesalahannya. Bahkan jika ia tak tahu apa yang terjadi. Bahkan jika ia tak mengerti.

"Aku bilang, jangan menangis!"

Bentakan itu meledak di udara sebelum tubuhnya terdorong lagi. Ia jatuh. Kepalanya membentur lantai. Bunyi berdebum terdengar, menggema dalam kesunyian rumah ini.

Ia tetap diam.

Ia sudah belajar sejak lama—melawan hanya akan membuat semuanya lebih buruk. Maka, ia bersembunyi dalam kesunyian, menahan napas, berharap jika ia cukup kecil, cukup tak terlihat, mereka akan melupakannya.

Tapi mereka tidak pernah lupa.

---

Tidak seperti saudara kembarnya, Layla, yang dipuja dan disayang, Fiona tumbuh dalam bayang-bayang kebencian.

Ia bukan anak, hanya kesalahan. Rumah mereka lebih kejam dari jalanan—tempat di mana bentakan, pukulan, dan kelaparan menjadi makanan sehari-hari. Mereka tidak pernah memanggilnya dengan namanya, hanya sebutan seperti

"Sampah."
"Kesalahan."
"Makhluk sialan."
"bocah sialan,"
"beban,"
"cacing tak berguna."

Kata-kata itu menancap dalam dirinya, mengakar seperti parasit yang menghisap habis rasa percaya dirinya. Sampai akhirnya, ia mulai mempercayainya. Sampai akhirnya, ia tidak bisa melihat dirinya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar kesalahan yang berjalan di atas dua kaki.
Setiap tatapan yang diberikan padanya selalu dipenuhi dengan jijik, seolah melihat sesuatu yang menjijikkan dan memuakkan, Adalah makanan sehari-hari nya, sejak dari yg bisa ia ingat.. Hanya kata-kata dan tatapan itu yg ia tahu, lihat dan dengar dari semua orang yg seharusnya ia sebut anggota keluarganya baik pihak ibu maupun ayahnya, terutama keluarga pihak ayahnya, keluarga Llewellyn.

The Elusive FlameStories to obsess over. Discover now