Geri menyukai pagi yang sunyi. Ia menyukai detik-detik sebelum dunia menjadi riuh. Di waktu itu, ia bisa menyusun ulang pikirannya, menata jadwal harian, mengecek ulang catatan rapat, dan memastikan semuanya berjalan seperti yang ia rencanakan.
Kemeja Geri selalu disetrika tanpa satu pun lipatan yang melenceng. Sepatunya mengilap. Catatannya ditulis rapi dalam huruf tegak bersambung yang ia banggakan. Bahkan notifikasi ponselnya disusun berdasarkan kategori: prioritas, sosial, dan hiburan—yang terakhir jarang ia buka.
Pagi itu, ia tiba lebih awal di ruang pertemuan komunitas seni yang baru ia ikuti. Ia duduk di kursi barisan depan, meletakkan map biru di atas meja, lalu menarik napas panjang sebelum membuka buku catatan hitamnya.
Sepuluh menit kemudian, ruangan mulai terisi. Orang-orang datang dengan langkah terburu-buru, beberapa masih mengunyah sarapan. Tapi tidak ada yang menarik perhatian Geri—hingga seseorang masuk dengan langkah setengah berlari, rambut berantakan, dan tas selempang yang menggantung miring.
Tas itu terlepas dan jatuh tepat di kaki Geri, menyebarkan isinya ke lantai. Pensil warna, buku gambar, bahkan sebuah boneka kecil.
"Maaf! Maaf banget!" suara perempuan itu panik namun tetap terdengar ceria. Ia menunduk, meraih barang-barangnya, dan saat menoleh ke arah Geri, ia tersenyum kikuk. "Aku Ana."
Geri diam. Matanya melihat sepatu barunya—yang kini terkena bekas pensil warna.
Bukan cara yang ideal untuk memulai pagi.
---
Ana, di sisi lain, tidak pernah punya jadwal harian. Ia bangun tergantung kapan matanya terbuka. Sarapannya bisa berupa kopi dingin sisa semalam atau biskuit yang ditemukan di dalam tas. Ia sering lupa waktu, tapi selalu punya alasan: entah langit terlalu cantik untuk dilewatkan, atau kucing liar yang harus diberi makan dulu.
Hari itu pun sama. Ia hampir tidak jadi datang ke acara komunitas karena lupa mengisi bensin motornya malam sebelumnya. Tapi entah kenapa, hatinya ingin datang.
Dan di sanalah ia, duduk di samping pria yang tampak seperti berjalan keluar dari katalog hidup ideal. Wangi parfumnya lembut, kemejanya tak kusut, dan sorot matanya... tajam, menilai.
"Aku nggak sengaja," ucap Ana pelan, merasa tatapan laki-laki itu seperti penggaris yang mengukur seberapa berantakannya ia.
Geri mengangguk kecil, tapi tak tersenyum.
"Aku Ana," ulang gadis itu, mencoba mencairkan suasana.
"Geri," jawabnya singkat, matanya kembali ke buku catatan.
Ana menggigit bibir, lalu duduk diam. Tapi tak lama, ia sudah menggambar bunga kecil di sudut kertas agendanya. Tak tahan dengan keheningan yang terlalu kaku.
Geri sempat melirik.
Ana tak sadar, ia bersenandung kecil.
Dan Geri... menarik napas.
---
Di akhir pertemuan, Ana memanggil Geri.
"Eh, makasih udah duduk bareng tadi, ya," katanya sambil mengulurkan tangan. Tangannya penuh bekas pensil warna.
Geri ragu sejenak. Tapi ia menjabat juga.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum—kecil sekali, nyaris tak terlihat.
Mungkin hidup tidak selalu bisa tertata rapi.
Dan mungkin, sesekali kekacauan bisa terasa... menarik.
---
YOU ARE READING
Di Antara Luka Kecil & Cinta Besar
RomanceTentang dua orang yng tak sempurna_ dan tentang cinta besar yang mencoba bertahan diantara luka-luka kecil
