Michel, seorang pemburu hantu berusia 21 tahun yang dingin dan penuh kewaspadaan, bertemu dengan Chio, seorang remaja berusia 16 tahun yang ceria dan selalu penuh tawa. Dalam dunia yang dipenuhi dengan roh-roh gelap dan kekuatan tak kasat mata, mere...
Malam itu gelap sekali. Kabut tebel menyelimuti bangunan tua di tengah hutan, bikin tempat itu kayak ngilang dari dunia luar. Udara dingin ngebuat napas jadi kelihatan, dan angin yang masuk dari celah jendela pecah bikin suara siulan kecil yang nyeremin.
Di dalem salah satu ruangannya, cahaya lilin-lilin kecil nyala redup. Lantainya dilukis lingkaran gede penuh simbol aneh warna merah tua—darah. Di tengah lingkaran, ada boneka kayu seukuran orang, diem aja, nunggu ‘diisi’.
Cowok tinggi berdiri di luar lingkaran itu. Rambutnya hitam, rapi, dan matanya tajem banget, kayak orang yang bisa baca pikiran. Dia diem, tapi auranya ngebuat siapa pun yang deket pasti langsung ciut.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Itu *Michel*.
Umurnya 21. Pemburu hantu kelas atas. Gak banyak ngomong, mukanya selalu datar, tapi gerakannya tegas dan gak pernah setengah-setengah. Kalau udah nyampe di tempat kejadian, artinya yang dihadapi bukan hantu receh. Dan malam ini, dia bukan nangkep setan biasa“Lingkarannya udah siap,” gumam Michel pelan, tapi serius banget. “Sekarang kita mulai ritual penyegelan.”
Di dalam lingkaran, terikat rantai perak dan jimat segel, duduk cowok yang kelihatannya gak asing... malah kelihatan terlalu manusiawi buat disebut iblis.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
*Zhagan*.
Raja iblis. Wujudnya kayak cowok umur dua puluhan, ganteng, kulitnya pucat kayak porselen, dan rambutnya hitam berkilau. Tapi yang bikin merinding tuh auranya—gelap, berat, dan bikin napas sesak. Matanya merah pekat, dalam banget, kayak ada ribuan suara menjerit di dalemnya.
Dia senyum dikit. Nggak lebar, tapi senyum yang bikin bulu kuduk berdiri.
“Aku ini abadi…” suaranya lembut tapi berisi ancaman. “Segel kayak begini nggak akan bertahan lama. Aku bakal bangkit lagi… selalu.”
Michel mulai bacain mantra. Tangan kirinya gerak ngebentuk segel, mulutnya komat-kamit ngucap bahasa kuno yang gak bisa dimengerti. Cahaya biru mulai muncul dari simbol-simbol di lantai. Suasana makin berat.