Langit pagi itu kelabu, seolah enggan memberi semangat. Umar, Ilyasa, dan Radit berjalan berdampingan melewati gerbang sekolah yang masih sepi. Derap langkah mereka menggema di lorong panjang, membelah kesunyian pagi yang belum benar-benar hidup.
Mereka melewati lorong lama yang ujungnya menyatu dengan sebuah ruangan kosong—gudang penyimpanan barang tak terpakai yang letaknya agak tersembunyi. Tidak ada yang pernah benar-benar memperhatikan tempat itu. Sampai hari ini.
Begitu mereka mendekat, suara ribut-ribut mulai terdengar. Sekelompok siswa berkerumun di depan pintu gudang. Beberapa guru juga tampak berdiri di sana, wajah mereka tegang.
"Eh, rame amat," gumam Radit, memperlambat langkahnya.
"Ada yang kesurupan katanya," bisik seorang siswa yang baru keluar dari kerumunan, wajahnya pucat.
Ilyasa langsung berhenti, tubuhnya menegang. "Kesurupan? Di sini? Gudang itu... katanya emang angker, Dit."
Radit menelan ludah. Ia tidak pernah mengakui kalau ia penakut, tapi entah kenapa dadanya terasa sesak. Gudang itu selalu punya aura aneh. Pernah suatu kali, ia melihat cahaya redup dari balik jendela padahal listrik mati.
"Tuh, mulai deh percaya ginian," ujar Umar sambil mendengus. Ia melangkah maju tanpa ragu. "Paling juga hiperaktif, atau stres. Otak manusia bisa menciptakan ilusi kalau terlalu lelah."
"Tapi yang kesurupan itu, katanya ngomong pakai bahasa aneh. Suaranya beda," tambah Ilyasa pelan.
Salah satu orang di kerumunan juga ikut menambahkan. "Dan dia... nunjuk ke dalam gudang terus, sambil bilang 'Masih ada yang belum keluar'..."
Radit dan Ilyasa saling pandang.
Umar menghela napas panjang. "Kita itu hidup di zaman modern. Semua bisa dijelaskan. Jangan biarkan ketakutan ngatur logika kalian deh."
Tapi tiba-tiba, dari arah gudang terdengar suara jeritan melengking. Jeritan perempuan—panjang dan penuh rasa sakit.
Kerumunan bubar sesaat. Dari balik pintu gudang, seorang siswa perempuan ditarik keluar oleh dua guru. Matanya melotot, mulutnya masih terbuka, napasnya tersengal.
Tapi bukan itu yang membuat Radit gemetar. Saat tatapan si siswa perempuan itu bertemu dengannya, ia menunjuk langsung ke arah mereka—tepat ke Radit—dan berteriak, "KAMU... KAMU YANG HARUS MASUK!"
~~~
Pelajaran terasa berjalan lambat bagi Umar. Semua omong kosong soal kesurupan tadi pagi masih terngiang di telinganya. Dia muak mendengar Ilyasa yang sok takut dan Radit yang ikut-ikutan tegang. Padahal semua itu cuma akibat sugesti massal—itu pasti.
Begitu bel istirahat berbunyi, Umar langsung berdiri dan keluar kelas tanpa menoleh. Dia berjalan ke arah taman belakang sekolah—tempat yang jarang dilewati siswa. Di sana, ia duduk di bangku semen yang agak berlumut, membuka sebotol air minum, dan menghela napas panjang.
Hening. Hanya suara angin dan daun kering yang saling bersentuhan.
Lalu terdengar langkah pelan. Seseorang mendekat, tidak terburu-buru.
Umar menoleh.
Mufid.
Anak baru itu berdiri sekitar dua meter darinya. Wajahnya tetap datar, ekspresinya susah dibaca. Tapi matanya tajam—menatap langsung ke arah Umar seperti sedang menguliti isi kepalanya.
“Lo nggak percaya, ya?” tanya Mufid tiba-tiba, suaranya rendah tapi jelas.
Umar menaikkan alis. “Apaan sih?”
“Soal yang tadi pagi.”
Umar mendengus, mencibir. “Kesurupan? Itu cuma histeria. Reaksi tubuh dan psikis. Ngapain juga takut?”
Mufid diam sebentar, lalu melangkah mendekat.
“Gue juga nggak takut,” katanya pelan. “Tapi gue tahu bedanya ilusi... dan panggilan.”
Umar tertawa pendek, tapi ada getaran kecil yang tak bisa ia tolak. “Panggilan dari siapa?”
Mufid menatapnya lama. “Dari dalam gudang.”
Angin bertiup pelan. Daun jatuh tepat di antara mereka berdua.
“Lo lihat, kan?” lanjut Mufid. “Ada wajah di balik jendela gudang. Sebelum gadis itu teriak.”
Umar langsung menegang. Tidak ada yang tahu tentang itu. Ia memang melihat sesuatu—bayangan, atau wajah samar, yang sempat muncul di jendela kusam sebelum jeritan terdengar. Tapi dia mengabaikannya, berpikir itu hanya refleksi... atau sugesti karena semua orang panik.
“Cuma ada bayangan.”
“Itu dia,” ucap Mufid. “Yang lagi nunggu kalian.”
Umar berdiri, mulai jengkel. “Gue nggak punya waktu buat cerita horor murahan lo. Mau nunjukin apa, hah? Lo kira gue bisa takut?”
Mufid tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya—sebuah kancing besar warna hitam, pecah di tepinya, seolah tercabut paksa.
“Kalau Lo tetap ngeyel... Lihat aja sendiri."
~~~
Umar menatap kancing hitam di tangan Mufid. Tangannya mengepal tanpa sadar. Nafasnya mulai naik turun, tapi bukan karena takut—karena marah.
“Lo pikir lo siapa, hah? Baru juga pindah, sok misterius. Ngomong aneh-aneh, main-main sama halusinasi orang panik!”
Mufid tetap tenang, malah menyelipkan kancing itu kembali ke sakunya.
“Gue cuma ngingetin. Ada yang harus disadari sebelum telat. Lo yang keras kepala.”
“KERAS KEPALA?” bentak Umar, langkahnya maju cepat, hingga kini ia berdiri tepat di depan Mufid. “Denger ya, gue bisa bikin lo nyesel udah bikin cerita omong kosong kayak gini. Kalau lo nyari sensasi biar keliatan keren, salah orang, bro.”
Mufid masih diam. Tapi matanya tetap menusuk. Tak sedikit pun ia mundur, seolah tahu Umar tak akan benar-benar menyentuhnya.
“Lo pikir semuanya bisa dijelaskan pake buku dan teori, ya?” bisik Mufid, suaranya menantang, “Tapi lo yang pertama gemetar waktu ngelihat wajah itu di jendela.”
BRAK!
Umar mendorong Mufid ke tembok taman kecil itu. Tidak terlalu keras, tapi cukup membuat tas Mufid terjatuh. Napas Umar panas, giginya terkatup rapat.
Mufid menunduk, lalu perlahan mengambil tasnya. Ia menatap Umar satu kali lagi sebelum berkata pelan:
“Tenang aja, kalau lo nggak mau percaya sekarang… mungkin nanti lo bakal percaya. Pas lo sendirian. Pas suara di balik pintu itu manggil nama lo. Dan nggak ada yang bisa nyelametin.”
Setelah itu, Mufid pergi—meninggalkan Umar yang masih berdiri di tempat, kepalanya mendidih oleh emosi, tapi... ada rasa dingin tak kasatmata mulai menyusup ke tulang belakangnya.
Dan tanpa Umar sadari, dari balik pepohonan taman... ada bayangan lain yang mengikuti langkah Mufid, seolah menirunya.
~~~
to be continued. . .
