( THE BRIŚE : CHAPTER 1 )
– TAHTA DAN DARAH -
Langit di atas ibu kota Casia memucat kelabu. Awan berat menggantung rendah, seolah menyerap duka yang belum juga usai sejak nyala terakhir pertempuran padam. Angin membelai pucuk menara istana dengan bisikan sayu, membawa serpih-serpih abu dari reruntuhan kota lama yang belum sepenuhnya dibersihkan.
Di jantung istana pusat pemerintahan, aula besar yang dulunya dipenuhi musik dan cawan anggur kini terasa seperti kuburan kehormatan. Dinding-dinding marmer masih berkilau, dihiasi lambang singa bersayap emas milik kerajaan Casia, namun udara di dalamnya lebih dingin dari salju musim kematian. Meja panjang di tengah ruangan dipenuhi para bangsawan—berpakaian gelap, berwajah muram, dan sarat kelicikan.
Di ujung ruangan, Castiel Retrouvalus de Casia duduk di singgasananya. Jubah merah darah dengan bordiran singa bersayap dengan benang emas menyelubungi tubuh mudanya. Ia terlihat kecil dalam kursi kekuasaan yang terlalu besar untuk seorang pemuda tujuh belas tahun. Mahkota ringan bertengger di rambut hitamnya yang sedikit kusut, mata gelapnya menyapu satu per satu wajah di hadapannya.
Tak satu pun tersenyum.
Di sisi kirinya, seorang gadis berdiri tegak. Pakaian gelapnya terlalu sederhana, nyaris seperti pakaian pelayan, namun sorot matanya mematahkan kesan itu. Cassilda Sighnore de Casia—kerabat darah sekaligus bayangan kekuatan Castiel—berdiri dengan kepala sedikit tertunduk. Syal hitam membelit leher dan menjuntai hingga ke lantai lambang duka, lambang pengabdian.
"Apa yang hendak Yang Mulia katakan adalah…" suara Bangsawan Rendall memecah kesunyian, berat dan sumbang, "...menolak menaikkan pajak rakyat, demi membayar upeti 'sukarela' kepada Wyver?"
Beberapa bangsawan tertawa kecil, sebagian mencibir, sisanya menunggu siapa yang akan jadi korban pertama.
"Lalu," lanjut Rendall, berdiri dari kursinya, "apakah kita akan memungut emas dari angin? Atau dari tanah-tanah tandus yang hancur karena perang yang bahkan tidak kita menangkan?"
Ketegangan di ruangan mengental.
Cassilda tak menjawab. Pandangannya tetap tenang, menelusuri dinding, langit-langit, bukan wajah Rendall.
Namun Rendall tidak berhenti.
"Ataukah," lanjutnya dengan nada getir, "ini bukan keputusan Anda, Yang Mulia… tapi buah pikiran dari penasihat pribadi Anda yang sangat… berbakat?"
Pandangannya tajam menusuk ke arah Cassilda. Tawa pelan terdengar dari sisi lain meja.
Cassilda tetap diam. Jemarinya saling menggenggam di depan tubuhnya. Kepala sedikit tertunduk, wajah tenang seperti danau beku. Tapi ruangan... mulai bergetar.
Castiel berdiri perlahan.
Matanya, yang semula tampak kelelahan, kini menyala dengan warna merah samar. Cahaya dari jendela bergoyang. Udara mengalir seperti dipilin oleh tangan tak kasatmata. Sebuah kekuatan magis yang lama terkekang mulai bangkit—sebuah warisan berdarah dari para pendiri Casia.
Simbol tak terlihat terukir di udara.
Bangsawan Rendall tersentak. Tangannya meraba leher, dadanya naik turun tak karuan. Nafasnya tercekat.
"Apa yang… kau lakukan?!"
Suara Castiel terdengar rendah. Tenang. Dingin.
"Jaga bicaramu di hadapan kakakku," ucapnya. "Atau aku akan buat kau bicara dengan bisikan terakhir sebelum napasmu hilang."
Tak ada yang bergerak. Bahkan para pengawal hanya menegakkan posisi mereka, menatap ke depan. Mereka tahu batas.
Cassilda mengangkat wajah perlahan. Matanya tetap tenang, tapi ada bayangan luka dalam tatapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE BRIŚE
RomansaPerang telah usai. Kekacauan mulai mereda, namun luka yang tertinggal masih membekas dalam. Takhta yang kosong menuntut pewaris baru, dan tanpa pilihan lain, seorang putra mahkota yang dulu tak diinginkan akhirnya harus menaiki singgasana. Castiel R...
