Di Ambang Senyap

8 3 0
                                        

Matahari menyusup lewat sela genting, jatuh di kulitku seperti beban yang tak bisa kulepaskan. Aku duduk di depan rumah, sendirian, seperti biasa. Roti di tangan, tak terlalu segar, tapi tak juga kubuang. Di tangan lainnya, sebuah buku—bukan untuk dibaca, hanya untuk menggenggam sesuatu yang tampaknya penting, meski sebenarnya tidak.

Aku tak tahu kenapa dunia terus berjalan. Mereka bilang karena waktu. Tapi bagiku, waktu bukan garis, bukan arus. Ia hanya denting kosong yang mengisi ruang-ruang di kepalaku, tempat di mana kehadiran dan ketiadaan saling membisu.

Orang-orang memanggilku pintar. Mereka menunjuk nilai, jabatan, dan kata-kata sopan yang keluar dari mulutku. Tapi mereka tak tahu: semua itu bukan milikku. Itu milik mereka. Milik sistem yang menjanjikan surga setelah kita merelakan diri untuk dikurung. Aku, seperti boneka, mengenakan topeng dari benang-benang harapan mereka. Tapi di dalam, aku kosong—dan dalam kekosongan itu, aku bebas.

Aku mulai membaca Stirner. Ia menulis tentang “Sang Aku”—tentang aku yang bukan milik Tuhan, bukan milik negara, bukan milik moral, bahkan bukan milik manusia lain. Aku membaca, dan rasanya seperti mengupas kulitku sendiri. Ternyata yang selama ini kuanggap aku, hanyalah bayangan dari keinginan orang lain. Dan ketika semua itu kulepaskan, tak ada yang tersisa kecuali diriku sendiri... yang belum kukenal.

Di sekolah, mereka bertanya, “Apa cita-citamu?”
Aku ingin menjawab: “Tidak ada.” Tapi aku tersenyum saja, seperti yang mereka harapkan. Dalam hati, aku tahu: aku bukan tujuan. Aku bukan rencana. Aku hanya keberadaan yang berdiri di tepi jurang absurditas, menatap ke dalam, dan tak menemukan alasan untuk mundur.

Aku mencintai keheningan, bukan karena ia menenangkan, tapi karena ia jujur. Tak ada dusta dalam diam. Tak ada perintah, tak ada larangan. Hanya keberadaan murni yang tak perlu dibenarkan.

Mereka bilang aku harus peduli. Tapi aku hanya tersenyum. Kepedulian adalah mata uang dunia ini—diberi, diharapkan kembali, dan selalu dengan bunga. Aku lelah dipaksa menjadi sesuatu bagi orang lain. Aku ingin menjadi milikku sendiri. Bahkan jika itu berarti menjadi bukan siapa-siapa.

Malam datang. Dan seperti biasa, aku berdiri menatap langit. Bintang-bintang tak bicara, dan mungkin itu yang membuat mereka lebih tulus dari manusia. Aku berpikir: mungkin satu-satunya hal yang benar-benar kupunyai… adalah kesadaranku akan keterasingan ini.

Dan dari sana, perlahan, lahir semacam kedamaian. Bukan karena dunia berubah. Tapi karena aku tak lagi mengizinkannya mendefinisikanku.

Di Ambang SenyapStories to obsess over. Discover now