Di pagi yang cerah, tampak seorang pemuda dengan raut wajah masam. Keputusan ibunya untuk memasukkannya ke dalam kelas khusus peserta olimpiade masih terus terngiang di kepalanya sejak semalam, membuat suasana hatinya benar-benar tidak baik.
"Gak bisa apa, sekali aja ikutin mau gw? Apa yang nyokap mau selalu gw turutin. Sekolah, les, skor sempurna, absensi penuh, sampe aktif di organisasi sekolah, semua gw turutin." Keluh pemuda itu melalui sambungan telepon, suaranya terdengar tertahan, seolah ia sudah terlalu lelah untuk benar-benar marah.
"93? Ini nilai standar kamu, Argya. Jangan biasain nyari alasan cuma karena lagi gak enak badan." Ucapan ibunya kembali terputar jelas di pikirannya, seakan-akan terus menghakimi tanpa henti.
Dinding kamarnya dipenuhi piala dan medali dari olahraga basket. Tak bisa dipungkiri, ia memiliki bakat luar biasa di bidang itu. Ia mencintainya... latihan demi latihan ia jalani setiap hari, berharap suatu saat ibunya bisa melihat, mengakui, dan merasa bangga pada hal yang benar-benar ia perjuangkan.
"Ya lo mau gimana lagi," suara di seberang telepon menjawab santai. "Gue gak bisa nilai sepenuhnya masalah keluarga lu, gue orang luar. Tapi menurut gue, nyokap lu mungkin tertekan sejak bokap lu pergi. Dia harus nanggung semuanya sendiri. Dia cuma pengen lu sukses supaya gak susah nanti."
Argya terdiam. Raut wajahnya semakin masam, tapi kali ini bukan karena marah, melainkan karena sesuatu yang terasa lebih berat.
"Udah lah, lu pikirin lagi. Kalo butuh apa-apa bilang aja. Dah ya, gue masih nugas." Sambungan telepon terputus.
Argya menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Untuk pertama kalinya pagi itu, amarahnya mereda... digantikan oleh rasa sesak yang perlahan memenuhi dadanya.
Setelah percakapan itu, Argya hanya duduk diam. Pikirannya penuh, berputar tanpa arah yang jelas. Rasa bersalah mulai muncul, pelan tapi pasti.
"Nyokap lu emang mau yang terbaik buat lu..." Kalimat itu kembali terngiang.
"Tapi yang terbaik menurut dia, belum tentu yang terbaik buat lu."
Dadanya terasa semakin sempit. Setiap kemungkinan yang muncul di kepalanya selalu berakhir pada satu hal, wajah ibunya.
Apakah ia harus terus mengikuti mimpi ibunya?
Atau mencoba memperjuangkan mimpinya sendiri?
Ia tahu jawabannya.
Dan justru karena itu... semuanya terasa semakin sulit.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, apakah tadi tuan sudah makan terlebih dahulu saat keluar?" tanya kepala pelayan dari balik pintu.
"Belum, bi. Kenapa?" jawab Argya singkat.
Kepala pelayan itu mengangguk kecil. "Kalau begitu, tuan muda bisa turun. Makan malam sudah siap. Nyonya sebentar lagi akan sampai."
Setelah pintu kembali tertutup, Argya menghela napas pelan. Ia berdiri, lalu bersiap turun.
Apakah ini saatnya?
Apakah ia harus bicara sekarang?
Semakin lama ia berpikir... semakin banyak kemungkinan buruk yang muncul.
Klek!
Pintu terbuka.
Ibunya masuk dengan langkah tegas, tetap terlihat elegan dalam balutan pakaian formal. Riasan wajahnya tajam, rambut pendeknya tertata rapi, dan aroma ambar samar mengiringi setiap langkahnya.
"Selamat datang, ma. Ayo makan, sebelum makanannya dingin."
Ibunya hanya melirik sekilas, lalu mengangguk dan duduk. Makan malam dimulai dalam keheningan yang terasa berat.
"Gimana sekolahnya?" tanyanya tenang. "Mama tadi dihubungi pihak sekolah. Katanya kamu mau dimasukkan ke list peserta olimpiade internasional tahun ini. Kamu sudah konfirmasi?"
Argya ingin bicara.
Ingin menjelaskan.
Tapi... ia tidak melakukannya.
"Sudah, ma..." jawabnya akhirnya.
Kata itu keluar begitu saja.
Tanpa ia pikirkan.
"Kasih tahu mama kalau jadwalnya sudah keluar," ujar ibunya. "Mama harus pastikan semuanya teratur. Termasuk waktu istirahat kamu."
"Baik, ma."
Itu saja.
Tidak ada yang berubah.
Tidak ada yang ia ubah.
Gw ngapain?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Malam itu, ia hanya berbaring di kasur, menatap langit-langit tanpa benar-benar melihat. Waktu berlalu begitu saja, tapi tidak ada satu pun jawaban yang terasa benar.
Sampai akhirnya... kelelahan menang.
YOU ARE READING
Me and who?
RomanceMe and.. oh, there's only me? So, only me and myself.. Wait.. I have 'you'. DISCLAIMER! Ini ceritanya banyak kata kasar, jorok, adegan kekerasan & tindakan asusila. Jadi kalau ga kuat boleh skip aja. (cerita pertama Yifa, kalau ada kritik & saran bo...
