1

10.1K 232 7
                                        

Langit malam di Jakarta tak pernah benar-benar gelap.
Di atas atap gedung konser termegah kota itu, lampu-lampu jalanan, papan iklan digital, dan sinar dari mobil-mobil yang mengular seperti sungai cahaya, menyinari dunia tanpa henti. Namun malam ini, semua terlihat lebih terang dari biasanya-karena seluruh kota seperti menatap ke satu titik, panggung utama tempat Namtan berdiri.

Penonton memenuhi setiap sudut arena. Teriakan nama "Namtan!" menggelora, bersahutan seperti nyanyian suci dari para pemuja. Puluhan ribu tangan diangkat ke udara, menggenggam ponsel yang berkilauan seperti bintang.
Lampu panggung menyapu udara dalam gerakan megah, mengguncang jantung siapa pun yang melihat. Dan di tengah-tengah semuanya-di atas panggung selebar 40 meter itu-berdiri dia. Namtan.

Gaunnya memantulkan cahaya perak dan biru, berkilau seperti permukaan laut saat terkena bulan purnama. Rambutnya hitam panjang, bergelombang lembut di bahu. Dan senyum... senyum itu, sempurna. Terlatih. Tak pernah lebih, tak pernah kurang. Persis seperti yang diajarkan padanya bertahun-tahun lalu: senyum yang bisa membuat siapa pun jatuh cinta.

Di tangan kanannya, sebuah gitar klasik bersinar halus. Tali-tali senarnya telah disentuh ribuan kali. Tapi malam ini, suaranya terdengar lebih indah dari biasanya.

"Terima kasih sudah datang malam ini..."
"Kalian tahu betapa berartinya kalian buat aku."
"Lagu ini... lagu ini untuk kalian semua."

Sorakan kembali meledak.

Dan dia mulai bernyanyi.

Suara itu... Lembut, kuat, penuh pengaruh. Suara yang sama yang pernah menyelamatkan banyak orang dari patah hati, dari kesepian, dari kehilangan. Suara yang membawanya ke puncak dunia hiburan.

Malam itu adalah puncak dari segalanya.
Tiket habis terjual dalam 14 menit.
Live streaming ditonton oleh 2 juta orang secara serentak.
Sponsor bersaing untuk menampilkan logo mereka.
Dan di media sosial, tagar #NamtanLIVE menjadi trending nomor satu dunia dalam waktu kurang dari satu jam.

Namun,di tengah semua itu,ada satu hal yang hanya Namtan sendiri yang tahu.

Saat dia duduk sendiri di ruang rias, sepuluh menit sebelum tampil... dia tidak merasa bersemangat.

Tidak ada gemetar bahagia.
Tidak ada jantung berdebar seperti dulu.
Tidak ada senyum yang muncul secara alami.

Yang ada hanya lelah.
Kelelahan yang tak bisa ia bagi pada siapa pun.

---

Setelah lagu terakhir selesai, dan tirai panggung turun perlahan, para penonton masih meneriakkan namanya. Tapi di belakang panggung, Namtan hanya diam. Tubuhnya duduk di sofa panjang, tangan menutup wajah, dan ponsel bergetar tanpa henti di meja depan. Manajernya sibuk di luar ruangan, wartawan menunggu konferensi pers, tapi Namtan masih belum bergerak.

Dia menatap bayangannya sendiri di cermin rias. Cahaya lampu kecil di sekelilingnya membuat pantulan itu terlihat lebih hidup dari biasanya.

"Kenapa rasanya... hampa ya?"
"Apa karena aku udah terlalu sering dengar 'kamu hebat' sampai aku gak percaya lagi?"

Dia menarik napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama... dia merasa kesepian, meski berada di tempat paling terang.

---

Pagi di apartemen Namtan berjalan seperti biasa. Matahari masuk melalui jendela kaca besar, menyinari ruang tamu yang minimalis tapi elegan. Meja dapur dari marmer putih, sofa abu-abu keperakan, dan rak kecil berisi beberapa koleksi gitar kesayangannya.

Namtan duduk di sana,di kursi bar tinggi, mengenakan kemeja putih kebesaran dan celana pendek. Rambutnya diikat asal, tanpa riasan, tapi tetap terlihat seperti model majalah.

Only You Believed [NamtanFilm]Povești de care să fii obsedat. Descoperă acum