Bab 1 : 不知彼,不知己,每战必殆

1.2K 115 22
                                        




"不知彼,不知己,每战必殆" (bù zhī bǐ, bù zhī jǐ, měi zhàn bì dài)

Arti harfiah: Tidak mengenal lawan, tidak mengenal diri sendiri, setiap pertempuran pasti kalah.

Jakarta, 200X

Lydia tak percaya cinta tetapi dia suka membaca novel romantis. Ketika Maria, kakaknya bertanya kenapa, Lydia hanya mengangkat bahu dan bergumam, "It's cute to see others find their love. Tapi itu cuma novel. Di kehidupan nyata, mana ada sih cowok yang bisa secinta itu sama pacarnya?"

Dan sesetia itu. Tambah Lydia dalam hati.

Di lingkungannya, Lydia melihat banyak contoh. Keluarganya sendiri termasuk harmonis. Namun, dia banyak mendengar kasak-kusuk di sana-sini, perbincangan bisik-bisik rekan arisan mamanya. Di kalangan orangtuanya, banyak pernikahan terlihat seperti keluarga cemara, tetapi di dalamnya seperti neraka. Gadis itu tak berminat menjadi trophy wife. Berdandan cantik dan hidup dalam sangkar estetik.

Rabu itu, Lydia tak punya rencana untuk pergi keluar. Dia hanya ingin menghabiskan liburan musim panasnya dengan bergelung di kamar dan membaca buku. Namun, satu jam sebelum makan siang, Lydia mendapati dirinya dalam mobil yang sedang mengantri masuk sebuah pusat perbelanjaan terkenal. 

"Saya enggak lama, Pak Karto," pamit Lydia kepada sopir keluarganya yang sudah bekerja sejak dia TK.

"Ya, Non. Tadi sama Ibu suruh nunggu."

Lydia tersenyum kusam. Hidup di Jakarta membosankan. Diantar supir ke sana kemari, dibujuk bersosialisasi. Setiap dia ingin menyetir sendiri (Ma, aku bisa nyetir di tengah salju), Mamanya akan menggeleng dan memanggil salah satu sopir mereka yang stand by. Keluarganya tak pernah mengerti mengapa dia menukarkan kehidupan di Bay Area, dengan kehidupan kota kecil di pelosok Amerika.

Adiknya, Roland kerap menggerutu tak paham dengan pilihannya. Dia mengeluh enggak ada apa-apa! Kakaknya Maria,  menggelengkan kepala.

"Enggak ada orang Indo di situ. Kamu gimana ketemu orang?"

Ketemu orang yang dimaksudkan Maria bukan secara harafiah, melainkan bertemu pacar. Semua kakak-kakaknya, sama seperti kedua orangtuanya, bertemu dengan pasangan mereka di Bay Area. Lydia tahu dia dan saudara-saudaranya dikirim kuliah ke Amerika bukan hanya untuk belajar, tetapi cara halus orangtuanya mengatur supaya mereka dikelilingi oleh orang-orang tepat, dari keluarga yang tepat. Tentu saja kalimat itu tak pernah terang-terangan keluar dari mulut orangtua dan kakak-kakaknya. Mamanya hanya mengatakan gembira, kakak-kakaknya menikah dengan orang baik dari keluarga baik-baik. Kalimat yang ditutup dengan senyum lebar dan tepukan ringan di bahu Lydia, seolah menegaskan bahwa itu juga yang akan terjadi dengannya.

Lydia tak pernah menanggapi pernyataan, pertanyaan maupun komentar yang dilontarkan keluarganya. Keluarganya pun akhirnya diam, semua tahu, Lydia hanya bicara seperlunya. Di acara keluarga, mulai dari pesta atau makan-makan, sosoknya sering dilupakan orang.

Memasuki pintu mall, Lydia menyadari dompet pria bercelana jeans yang sedang menelepon di depannya, jatuh tepat di kakinya. Tangannya meraup dompet itu, mempercepat langkah, lalu tanpa basa-basi menyodorkan dompet itu.

"Dompet kamu."

Pria itu menghentikan langkahnya, tertegun sejenak sebelum menjauhkan ponsel dari telinganya.

"Excuse me?"

"Dompet kamu," ulang Lydia.

Pria itu baru menyadari dompet yang mestinya tersimpan di kantongnya berada di tangan Lydia.

Jing HaoWhere stories live. Discover now