[Kepada para pembaca...]
(Aku harap kalian membaca pesan ini sebelum aku pergi meninggalkan kalian untuk selamanya, aku meminta maaf karena pergi tanpa pamit. Aku hanya meninggalkan tulisan tanpa warisan, aku harap kalian baik-baik sa-...)
Belum selesai ia menulis surat itu, Azka tenggelam bersama dengan kapalnya yang tergulung ombak besar ke dasar lautan.
Dingin.... gelap... tidak ada cahaya sama sekali yang terlihat. Mungkin, ini adalah akhir dari kisahku sebagai seorang pelaut. Setidaknya aku mati secara terhormat karena tenggelam ke dasar samudera Pasifik.
Namun... apakah ini yang dinamakan kematian? Tubuhku terasa lemas, penglihatanku mulai buram, namun aku melihat sebuah cahaya kecil yang makin lama kian benderang.
"Apa itu? Apa kau malaikat yang akan mencabut nyawaku?" Ucapku dalam hati sebelum aku mati.
Cahaya itu semakin terang hingga seluruh lautan dalam yang awalnya gelap kini menjadi terang bagaikan ruang isolasi yang berwarna putih.
Aku berdiri di ruangan putih tersebut, lalu berjalan mengelilinginya. Ruangan hampa berwarna putih yang tidak ada apa-apa di dalamnya.
Ketika aku berjalan terus ke depan, aku melihat sebuah lubang berwarna hitam. Lubang tersebut menarik perhatianku seraya memaksa untuk menarik diriku ke dalamnya.
"Haruskah... aku ke sana? Tapi, untuk apa?" Aku ragu untuk melangkahkan kakiku, namun sepertinya tidak ada pilihan lain, aku harus masuk ke dalam lubang hitam tersebut.
"Selamat ulang tahun ya kakak!" Ucap adikku yang baru berusia 4 tahun dan di sekitarnya sudah banyak sekali orang menatapku. "Nah... sekarang kau boleh tiup lilinnya" Ibu? Apakah itu ibu? Jelas itu ibu! Apa ini sungguhan? Aku melihat lilin angka 9 di atas kue tar ulang tahunku, jelas sekarang ini tahun 2009.
27 Juli 2000, adalah tahun kelahiranku. Sudah sembilan tahun berlalu, aku masih ingat kejadian setelah ini, kejadian di mana dua menit lagi ayah akan kehilangan lengan kanannya secara tidak sengaja karena sebuah kecelakaan.
"Ayah, kau bajingan!" Setelah aku mengatakan itu, semua orang terdiam, ayah yang sedang memasang gas di dapur yang tidak jauh dariku bergegas menghampiriku.
*prak!* suara tamparan keras yang dilayangkan ayah ke wajahku, rupanya ia sangat marah karena aku menyebutnya sebagai bajingan.
Akan tetapi tindakan ayah barusan justru malah menyelamatkannya dari malapetaka, tidak lama setelah itu gas yang ada di dapur meledak.
*DUARRRR!!!* Teriak histeris para pengunjung pesta ulang tahunku memenuhi seisi rumah setelah ledakan yang berasal dari gas yang meledak, namun ayah hanya terdiam sambil memandangi sisa ledakan tersebut.
Ayah terdiam karena kejadian barusan, membayangkan dirinya jika ia masih di sana. Ia menatapku seolah aku telah menyelamatkannya.
Hari ini, satu kesalahan di masa lalu telah diperbaiki, apakah... aku bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang akan datang?
YOU ARE READING
Mistake By Mistake
AdventureApa yang paling jauh menurutmu? apakah itu langit atau ujung dunia? Tidak! Menurutku hal yang paling jauh adalah waktu, karena aku harap aku bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahanku.
