Tahu tidak? Bayangkan jika seluruh manusia di dunia ini tiba-tiba berubah menjadi batu. Tapi, tenang saja, kita tidak akan membahas soal itu sekarang. Yang ingin kutanyakan adalah, mana yang lebih menarik bagi kalian: Senku yang hidup di dunia ketika semuanya masih berjalan normal, atau Senku yang berjuang mati-matian untuk membangun kembali peradaban dari nol? Tentu saja bagi penulis, lebih tertarik untuk opsi yang pertama.
Baiklah, kembali ke cerita. Katakanlah dia adalah seorang gadis remaja.
Di bawah atap sekolah yang masih riuh oleh suara belajar dan mengajar, ia duduk diam di bangkunya. Suasana teduh dari langit senja membuat pandangannya perlahan teralihkan ke arah jendela. Di sana, cahaya matahari sore menyelinap masuk, memantul lembut di lantai dan menyinari sebagian ruangan kelas.
Hangatnya sinar keemasan itu terasa menyentuh kulitnya, menimbulkan kilau samar keringat halus di balik lengan seragamnya. Matanya kemudian bergerak ke bawah, ke lapangan sekolah, tempat sekelompok siswi tengah asyik bermain volly di lapangan terbuka. Tawa mereka terdengar samar dari kejauhan, menyatu dengan deru angin sore.
Dari sudut kelas yang cukup tersembunyi, pikirannya mulai mengembara, tenggelam dalam lamunan yang tak jelas arah, tak penting mungkin, tapi begitu sulit untuk diabaikan.
"Ayase, apakah kau memperhatikanku atau tidak?" Suara pria paruh baya dari depan kelas tiba-tiba membuyarkan lamunan Ayase, menggema tegas di antara barisan bangku yang hening. Gadis itu tersentak, tubuhnya refleks menegak, dan matanya segera menatap ke depan, tepat ke arah sang guru yang kini menatapnya tajam.
“Gomen, sensei…” gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. Wajahnya terasa panas oleh malu. Dengan canggung, Ayase buru-buru membalik halaman bukunya, mencari bagian yang telah ia lewati saat pikirannya melayang jauh entah ke mana.
Sekali lagi, perhatian Ayase teralihkan oleh permainan bola volly di luar sana. Tatapan matanya yang sayu dan tenang tak mampu lepas dari pemandangan yang entah mengapa terasa begitu menarik. Dengan gerakan santai, ia menyandarkan dagu pada telapak tangannya, lalu menoleh ke arah jendela, sepenuhnya mengabaikan risiko jika sang guru kembali menegurnya.
Dari bangku tepat di belakangnya, seorang siswa laki-laki menghela napas pelan. Tatapannya sempat mengikuti arah pandang Ayase, sebelum akhirnya ia berbisik, cukup rendah agar hanya gadis itu yang bisa mendengarnya “Kau seharusnya memperhatikan pelajaran Takano-sensei, Ayase”
Ayase menoleh ke belakang, lalu menyunggingkan senyum tipis “Aku terlalu bodoh untuk memahami pelajaran Takano-sensei. Olahraga jauh lebih menarik bagiku, kau tahu itu, kan, Senku-chan?” ucapnya santai, seolah dunia akademik bukan urusannya. Matanya yang berbinar di bawah cahaya senja memantulkan kilau lembut, entah karena pantulan cahaya atau karena memang Ayase punya pesona yang sulit dijelaskan, menarik dengan caranya sendiri.
Sepasang mata merah seperti permata ruby itu hanya melirik sekilas, sebelum pemiliknya mengembuskan napas Panjang “Hah... dasar bodoh, kau selalu saja begitu” gumam Senku, memutar bola matanya sejenak sebelum kembali fokus ke pelajaran fisika. Tangannya menari di atas kertas, mencatat cepat dan rapi setiap kata dari Takano-sensei, nyaris seperti mesin tulis otomatis versi hidup.
Ayase melirik pelan ke belakang, hanya karena rasa penasaran yang muncul tiba-tiba. Siswa yang bernama Senku Ishigami duduk di bangku belakangnya, dengan wajah tirus, kulit terang, dan rambut yang bisa dibilang unik, bentuknya menjulang tinggi, dengan warnanya campuran hijau dan putih, entah alami atau bukan. Saat murid lain mengeluh soal rumus fisika, Senku malah menulis cepat, seolah semua itu mudah baginya. Buat Ayase, cukup menarik untuk diperhatikan, sekadar pengisi waktu di tengah kelas yang membosankan.
Waktu terus bergulir, namun bagi Ayase, setiap detiknya terasa lambat dan menyiksa, seolah jam dinding sengaja mempermainkannya. Kelopak matanya yang membingkai cokelat hazel itu kian berat, nyaris menutup sepenuhnya. Kepalanya pun mulai terangguk-angguk pelan, seperti gasing yang kehilangan putaran.
YOU ARE READING
Sýndesmos || Senku fanfiction
Fanfiction"What if?" Ishigami Senku, adalah seorang siswa SMA dengan kehidupan yang cenderung monoton. Setiap hari terasa sama, dan dia tidak terlalu peduli dengan banyak hal. Namun, semuanya mulai berubah sejak Ayase, gadis sekelas yang selama ini hanya tema...
