Prologue

3.3K 186 17
                                        

Jennie selalu menyukai senin malam, terutama karena sekarang tanggal 23, hari anniversary mereka.

Itu menjadi tradisi Jennie dan istrinya-malam senin kekasih.

Istrinya, Lisa, sedang mengetik dengan serius dilaptopnya. Usianya hampir 33 tahun dan tubuhnya begitu tinggi sehingga Jennie kehilangan harapan untuk bisa setinggi istrinya.

"sibuk?" tanya Jennie sambil meletakkan barang-barangnya di atas meja.

Lisa terkejut mendengar suara Jennie, mungkin karena dia terlalu asyik dengan pekerjaannya. "besok, you know.." lalu Lisa menutup laptopnya.

"welcome home lovee.." kata Lisa sambil berdiri dan berjalan menuju Jennie.

"get back to it Lisa,"

"noooooo"

Jennie memutar matanya dan berjalan menuju kamar tidur mereka, sama sekali mengabaikan ajakan Lisa yang hendak menciumnya. Jennie tidak tahu apa yang akan terjadi malam itu.

Akhir dari semua yang dia tahu, semua yang dia bangun. Tidak ada yang memberitahu Jennie bahwa semuanya akan diambil. Tidak ada peringatan atau indikasi apapun bahwa dia berdiri di atas es tipis.

"kita harus mulai membuat pastanya," ucap Lisa dari ambang pintu sambil memperhatikan Jennie berganti pakaian nyaman.

Makan malam di restoran menjadi berlebihan terutama Ketika Tabungan mereka membatasi banyak hal.

"maksudmu, aku memasak dan kamu hanya menonton," Jennie berkata dengan wajah datar.

Lisa mengangkat bahu, tahun demi tahun telah berlalu dan dia masih saja gagal dalam memasak. "bagaimana kalau makan di luar malam ini? Aku bisa membeli gamjamtang special yang kamu suka," tawar Jennie.

"aku lebih suka masakan mu,"

"pembohong," goda Jennie, dia berharap dia mendengarkan Lisa malam itu. Dia berharap dia tetap tinggal di rumah mereka.

"aku melihat Bambam hari ini,"

"dia berkunjung?" tanya Jennie.

"apa? Tidak. Di tv, dia baru saja Kembali," jawab Lisa lalu sambil terkekeh.

"good for him I guess,"

"hmm.." Lisa membiarkan topik itu berakhir, tapi dia tau kemana arahnya.

15 tahun yang lalu, sebelum mereka bertemu, Lisa adalah seorang trainee untuk menjadi seorang idol seperti Bambam. Kemudian dia bertemu Jennie. Singkat cerita, Lisa berhenti. Kontrak Lisa terlalu ketat dan Perusahaan mengetahui tentang hubungan Lisa dan Jennie.

Sekarang Lisa mengajar Pelajaran tari di beberapa sanggar dan kini menjadi seorang blogger yang memberikan tips tentang dance, olahraga, dan diet.

"bukannya aku tidak Bahagia untuknya, maksudku, dia brilian, dia pantas mendapatkannya dan sebagainya," kata Lisa mencoba menyembunyikan 'bagaimana jika' menggantung diudara.

Jennie berkata, "jika itu membuatmu merasa lebih baik. Jisoo dan Rosé baru saja memenangkan penghargaan pavia,"

"apa itu?"

"sebenarnya aku juga tidak tahu.." Jennie berbohong.

Sebenarnya, penghargaan ini merupakan penghargaan multidisiplin yang diberikan untuk pencapaian dalam bidang ilmu kehidupan dan fisika. Jisoo dan Rosé menang karena karya mereka yang berbeda dalam bidang ilmu saraf dan kedokteran.

"is it a big deal?"

"semacam penghargaan karena pandai dalam penelitian, kurasa?" Lisa membiarkannya begitu saja.

"jadi maksudmu adalah, kita berdua punya alasan bagus untuk makan banyak malam ini," ucap Lisa lalu Jennie menciumnya.

"kamu bisa saja memenangkan hadiah itu," kata Lisa.

"kamu bisa tampil di panggung itu malam ini,"

"tapi kita berhasil melakukan ini.." Lisa menunjuk ke arah langit-langit rumah mereka yang tinggi, "..dan kita berhasil melakukan ini," lanjut Lisa sambil menunjuk cincin kawin di jari manis Jennie.

Lisa melangkah mendekati Jennie dan meraih tangannya, "kamu bisa saja memenangkan penghargaan nobel karena pikiranmu begitu indah,"

Jennie tertawa, "itu mungkin berlebihan."

"jangan meremehkan dirimu sendiri. Kamu seorang jenius,"

"kamu genit.." kata Jennie, "dan sedikit lapar,"

"itu benar, dan kau tahu itu. Ilmu pengetahuan menjadi kurang maju karena kamu mencintaiku,"

Jennie menggelengkan kepalanya, "aku mencintaimu, tak perlu membuatku jatuh hati," Jennie menyelipkan Sebagian helaian rambut ke belakang telinga Lisa.

"aku milikmu selamanya Lisa.."

Lisa hanya tersenyum, "kau tahu, kamu mengatakan sesuatu kepadaku sebelumnya bahwa penelitian murni itu menguras hidup-" Lisa berhenti dan Jennie menyadari bagaimana emosi menguasai istrinya, "-kamu mengatakan bahwa kamu lebih suka memiliki kenangan tentangku di ranjang kematianmu daripada tentang laboratorium yang dingin dan tak bernyawa."

Mereka saling menatap sebelum Jennie mencondongkan tubuhnya dan mencium Lisa dengan lembut. Momen itu berlalu Ketika mereka mendengar suara perut Lisa.

"aku harus membeli makan malam untuk kita sekarang," kata Jennie.

"biarkan aku ikut dengan mu," tawar Lisa.

Jennie menggelengkan kepalanya, "selesaikan pekerjaanmu, kita akan merayakannya saat aku Kembali,"

Lisa hanya tertawa dan berkata, "aku akan menunggu,"

"itu berarti aku harus Kembali ke sini dalam..."

"tiga puluh menit,"

"apa jadinya aku tanpamu?" Jennie menggoda. Lisa pun mencium Jennie sebagai balasan.

"jangan pernah pikirkan hal itu,"

Jennie mengambil kunci dan dompetnya dari meja dan berjalan ke ruang tamu, tatapan nya bertemu dengan lukisan cat minyak dirinya dan Lisa dengan gaun pengantin mereka. Dia meleleh.

Saat Jennie mencapai pintu depan, Lisa berteriak, "Kembali bawa gamjamtang dan es krim!" Jennie hanya terkekeh.






Dia tidak menoleh ke belakang







Dia tidak mengucapkan selamat tinggal






Dan momen ini berlalu tanpa disadari




.

.

.

-to be continued-

.

Fanfic ini didasarkan pada novel yang berjudul "Dark Matter", kata-kata yang ada di dalamnya berasal dari buku tersebut. Aku hanya mengubah sudut pandang, karakter, menghapus beberapa bagian, mengedit beberapa bagian agar sesuai dengan narasi. Jadi tolong jangan menuntut ku. Aku tidak mengambil kredit untuk semua itu.

Please vote & comment juseyoo :)

.

.

.

INFINITY - JENLISA (ID) [GxG]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang