Prolog

7 1 0
                                        

Beberapa tahun yang lalu, aku bersama teman dekat yang saat ini telah resmi menjadi kakak iparku–Wening–mampu meraih lentera Ramadhan. Petualangan kami kala itu, meninggalkan jejak yang ndak pernah terlupakan. Perubahan karakter yang kami alami, nyatanya membawa kami ke arah yang lebih tenang dan damai. Kini, walau kami hidup masing-masing, penyatuan kami insyaallah ndak akan terpisah. Sebab, ada hubungan kuat yang kami jaga, yaitu keluarga.

Terlepas dari semua keresahan serta ujian yang aku alami sebelumnya, alhamdulillah aku dikarunia seorang anak laki-laki bernama Agam Pratama Haziq yang sekarang tengah duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 1. Akan aku deskripsikan, dia akan lebih akrab dipanggil Agam atau kalau di rumah dia maunya dipanggil Kak Agam. Membiasakan jikalau nantinya akan ada anggota baru katanya. Sebetulnya, Agam ndak begitu mirip denganku, wajahnya lebih dominan Mas Fadil. Akan tetapi, kedua lesung pipinya menandakan bahwa dia adalah anakku. Terlebih ketika dia tersenyum.

Agam tergolong anak yang hiperaktif. Mencoba hal baru adalah bagian yang paling menyenangkan baginya. Aku sebenarnya hampir kewalahan menghadapi anak satu itu, tetapi untungnya Mas Fadil bisa membantuku. Kusadari bahwa suamiku itu ndak hanya mewariskan parasnya pada Agam, tetapi juga karakternya. 90% betul. Lalu aku? Dapat hikmahnya saja hahaha.

Semakin hari, ia tumbuh cukup pesat. Aku harus tetap waspada jikalau dia melangkah ke arah yang salah. Aku pikir, ini sudah waktunya Agam untuk melanjutkan petualang. Rasa penasaran yang kian menggebu, kuharap bisa membawanya ke sesuatu yang lebih baik. Sudah waktunya anak kecil itu mengambil alih lentera yang sempat kugenggam sebelumnya. Semoga sinarnya yang terang benderang mampu menerangi di setiap langkahnya.

Dan ini, kisah Agam dimulai ....

***

Oh, siapa yang mengira aku akan menoleh jika dipanggil "Emak"?

Jangankan orang lain, aku sendiri pun masih sering tak percaya sudah tiba di fase ini, menghasilkan duplikat yang geregetnya nggak mirip-mirip banget aku. Ya, anak semata wayangku–setidaknya untuk saat ini–lebih mirip bapaknya, Aa Tio.

Bocah yang lagi enam tahun lalu itu, kami beri nama Falah. Konsep maknanya kemenangan, terutama dari sisi bapaknya. Bagi Aa Tio, Falah adalah bukti kemenangannya sebagai seorang laki-laki, yang akhirnya bisa menjadi ayah setelah hampir 9 tahun berumah tangga denganku.

Dengan bangga Aa Tio langsung mengikrarkan diri untuk dipanggil "Bapak". Dia enggan disebut Papa, Pipi, atau panggilan kekinian lainnya. Dia bahkan memintaku untuk serasi dipanggil Ibu. Namun, aku menolak, panggilan itu rasanya terlalu lembut. Dengan gayaku yang masih belum LDR sama kebarbaran, aku lebih suka dipanggil Emak. Maka jadilah keluarga kami agak nyentrik.

Bocah berkulit kuning langsat itu memiliki wajah yang manis, kalau senyum ada lesung di bawah matanya. Sikapnya santun, dia peniru ulung bapaknya urusan kesopanan. Bocah itu juga penurut, kadang, seringnya ngeyelan.

Itu tuh yang sering bikin aku menggeram, soalnya kalau aku ngasih tahu sesuatu dia jarang langsung oke, ada aja energi buat mengelak. Kalau aku bikin skak, dia langsung mengeluarkan jurus andalan, mewek.

Haduh. Padahal kukira punya anak cowok bakal terkuras kekuatan fisik, mirip pengalaman ngasuh Ragil–adik cowokku. Namun, ternyata membesarkannya Falah malah lebih banyak menempa kekuatan mentalku. Aku dituntut sabar, bukan karena dia nakal.

Nauzubillah, nggak boleh mengatai anak dengan kata itu. Falah hanya cengeng dan terlalu cari aman. Beda banget sama aku. Kalau aku ada yang baku hantam, ya otw misahin dengan kekuatan. Namun, keturunanku malah nangis kejer, pernah bikin orang-orang yang lagi ribut akhirnya diam ngelihatin dia.

Aku amat berharap kalau suatu saat dia bisa mengendalikan tangisnya dan fokus ke menemukan solusi nyata. Namun, entahlah kapan itu terwujud. Sekarang aja itu bocah udah merengek karena kucingnya nggak mau dengerin cerita.

Kalau udah gini aku bisa apa selain berdoa. Ya Allah, hamba memohon kekuatan untuk membesar Falah dengan baik. Semoga di Ramadan ini dia akan dapat pencerahan. Aamiin.


Mengejar Lentera 3Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora