Suara Yang Perlahan Menghilang

9 0 0
                                        


Aku tidak pernah menyangka kalau hari itu akan mengubah hidupku.

Di bawah langit senja yang mulai meredup, suara anak-anak bermain terdengar samar di telingaku. Aku duduk di ayunan yang sudah berkarat di sudut taman, menggenggam tali ayunan erat-erat seolah itu bisa membuatku tak terlihat. Aku tidak ingin menarik perhatian siapa pun, apalagi mereka.

"Oi, Hikari!"

Aku menegang.

Langkah kaki mendekat. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.

Fujimura Riku.

Aku tahu dia sejak lama. Anak laki-laki yang selalu dikelilingi teman-teman, yang tawa kerasnya menggema di setiap sudut sekolah. Dia tidak pernah sendiri, selalu berada di tengah kerumunan. Dan aku? Aku bukan bagian dari mereka. Aku adalah orang yang mereka tunjuk dan tertawakan.

"Kenapa duduk sendirian, hah?" Suaranya penuh nada mengejek, seperti biasa.

Aku tidak menjawab.

"Cih, sombong."

Aku masih diam. Aku tahu lebih baik tidak merespons. Itu hanya akan membuat mereka semakin bersemangat.

Tapi kemudian aku mendengar suara langkah mendekat lebih dekat. Terlalu dekat.

Seseorang mendorong pundakku, membuat ayunan bergoyang sedikit. Aku menoleh dan bertemu dengan mata Riku yang berkilat penuh ejekan.

"Aku ngomong sama kamu, tuli ya?" katanya, setengah tertawa.

Teman-temannya ikut tertawa. Aku menggigit bibir, berusaha menahan diri. Aku tidak tuli. Aku hanya tidak ingin mendengar mereka.

Tapi kata-kata itu, 'tuli', akan menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata bagiku nanti.

Aku tidak ingat persis bagaimana aku akhirnya terlibat dalam permainan itu.

Mungkin karena aku ingin membuktikan sesuatu. Mungkin karena aku hanya ingin mereka berhenti menganggapku lemah.

"Kalau kamu bisa nangkap aku, besok aku bakal berhenti ganggu kamu," kata Riku, dengan seringai khasnya.

Aku tahu ini jebakan. Aku tahu dia hanya bermain-main denganku. Tapi tetap saja, aku mengangguk.

Dia berlari lebih dulu, dan aku mengejarnya.

Aku tidak pernah menang dalam permainan ini. Riku selalu lebih cepat, selalu selangkah di depanku. Tapi aku terus berlari. Aku ingin menang, hanya sekali saja.

Namun, dalam sekejap, aku merasakan tubuhku kehilangan keseimbangan.

Aku tidak melihat batu kecil di jalan setapak. Kakiku tersandung, dan aku jatuh ke depan. Waktu terasa melambat. Aku bisa melihat langit jingga di atas kepalaku sebelum pandanganku berubah menjadi gelap.

Yang terakhir kudengar adalah suara Riku yang berteriak.

Saat aku membuka mata, semuanya terasa berbeda.

Aku masih bisa melihat wajah-wajah yang mengelilingiku-Riku, teman-temannya, orang-orang yang tidak kukenal. Tapi suara mereka terdengar jauh. Terlalu jauh.

Aku masih bisa mendengar. Tapi semuanya seperti teredam, seperti suara yang datang dari balik dinding tebal.

Aku melihat Riku yang berlutut di sampingku. Wajahnya bukan lagi wajah seseorang yang sedang mengejek, melainkan seseorang yang takut.

"Hikari... Kamu nggak apa-apa?"

Aku ingin menjawab, tapi suaraku tidak keluar.

Aku mencoba mendengar lagi.

Suara angin yang berhembus di antara dedaunan. Suara anak-anak yang masih bermain di kejauhan. Suara detak jantungku sendiri yang bergemuruh.

Semuanya masih ada, tapi berbeda.

Aku tidak tahu saat itu kalau perlahan, suara dunia akan mulai menghilang dariku.

Dan aku tidak tahu kalau Riku akan menyalahkan dirinya sendiri atas sesuatu yang bahkan bukan kesalahannya.

A Silent Voice In My World Stories to obsess over. Discover now