Catatan pentingBoyxBoy relationshipTop!Donghyuck Bott!MarkTrigger warningManipulation, Emotional abuse, Violence, Dubious consent, Power imbalance, Blood, Entrapment, Helplessness, Dark themes, Toxic relationship, Coercion, Implicit sex
*************
ENJOY:)
.
.
.
Rintik air di malam itu kian deras, membasahi seluruh tubuh Mark hingga basah kuyup. Dinginnya cuaca membuat tubuhnya kian menggigil. Dengan terengah-engah ia berlari, mengejar pemuda yang sedari tadi menjadi incarannya. Tetapi, sejauh ia berusaha, ia tak kunjung jua menangkap pemuda itu. Dadanya terasa semakin sesak. Setiap helaan napasnya terasa sangat menyiksa. Ia menghentikan langkahnya begitu saja, membiarkan pemuda di hadapannya berlari meninggalkannya seorang diri. Ia lalu mendudukkan dirinya di kursi taman, memegang dadanya yang terasa begitu sakit.
Mark mengusap wajahnya kasar, memandangi rintik air yang menghujani wajahnya yang pucat. Jika malam ini ia tak bisa mendapatkan darah sedikitpun, ia bisa saja benar-benar kehilangan tenaganya dan sekarat. Ia mendesah pelan, "Apa lebih baik aku kembali ke rumah?akan lebih baik aku sekarat disana."Mark sudah hilang akal. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Ia tak lagi punya kekuatan untuk menyerang manusia.
Beberapa jam lagi matahari akan terbit. Mark pikir, bisa jadi malam ini adalah hari terakhirnya. Sebab dirasa ia tak lagi memiliki harapan untuk hidup lebih lama.
Baru saja ia berpikir tentang bagaimana nasibnya selanjutnya, ia dikejutkan dengan aroma yang sangat menggoda dari manusia yang melewatinya. Sontak matanya melirik tajam ke arah sumber aroma itu. Dengan tergesa ia bangkit dan berlari mengejar manusia yang baru saja melewatinya, menariknya kasar dan membawanya ke lorong gelap terdekat.
Tanpa ragu Mark mengunci pergerakan targetnya dan menarik kerah bajunya dengan sisa tenaganya. Matanya kini memerah, giginya meruncing dengan cepat. Namun, sedetik kemudian Mark terjatuh begitu saja saat menyadari sosok dibalik lelaki ini.
Ia bukan manusia.
Lelaki itu tersenyum tipis. Ia tampak tak terkejut dengan serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh Mark."Kenapa tidak jadi?"
Mark menggeleng kuat. Dengan terhuyung ia bangkit dan pergi. Mengeratkan mantelnya dan berjalan ke ujung lorong.
"Aku bisa memberikan apa yang kau butuhkan saat ini,"ujarnya pelan, hampir tak terdengar sebab suara petir malam itu.
Namun, Mark memilih untuk mengindahkannya. Ia lebih memilih untuk tak berurusan dengan lelaki itu dan segera pulang. Meskipun ia sendiri tak yakin, apakah ia bisa sampai di rumah dengan selamat.
Melihat penolakan dari Mark membuat lelaki itu tertawa kecil. Ia lalu menundukkan tubuhnya dan mengambil serpihan kaca yang bertebaran. Lantas, ia merobek lehernya pelan, membuat aroma darahnya menguar dan tersebar hingga membuat Mark menghentikan langkahnya.
Mark sontak menoleh, "Lebih baik aku tidur panjang malam ini daripada harus meminum darah dari penyihir sepertimu."
"Meminum darahku tak akan membuatmu keracunan,"jawabnya.
"Aku tidak butuh,"tolaknya lagi.
Kaum mereka berdua tak pernah bersatu, dan tak akan pernah. Mark tak akan mengingkari perjanjian kaumnya itu. Apalagi hanya karena desakan ini.
YOU ARE READING
Lust at First Bite (Dongmark/Hyuckmark)
FanfictionMark adalah vampir yang hidup di kehidupan modern, dimana teknologi sudah berkembang sangat pesat. Hal ini membuatnya cukup sulit untuk bertahan hidup sebab sulitnya mencari target di kala ia lapar dan haus. Jika ia tak berusaha, aia akan mati suri...
