Pintu kaca otomatis terbuka ketika ia melangkah masuk ke dalam gedung NOIRE by Krystal. Interior gedung itu terlihat modern dan mewah, dengan dinding beton ekspos dan lampu gantung artistik yang menciptakan suasana eksklusif. Di sisi kiri, ada deretan mannequin yang mengenakan koleksi terbaru dengan aksen edgy dan cutting yang berani. Akira diam sejenak, menelan ludah.
Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum berjalan menuju resepsionis.
"Selamat pagi. Saya Akira Maheswari, desainer junior baru. Ini hari pertama saya kerja."
Resepsionis itu tersenyum sopan. "Oh, selamat datang di NOIRE! Sebentar, ya. Saya hubungkan ke tim desain."
Tak lama kemudian, seorang pria tinggi dengan jas hitam dan dalaman turtleneck abu-abu berjalan ke arahnya. Rambutnya sedikit messy, tapi tetap terlihat stylish, dan wajahnya memiliki garis-garis tegas yang memancarkan ketampanan khas pria tampan ibu kota. Begitu mendekat, dia mengulurkan tangan dengan ramah.
"Hai, lo pasti Akira, kan? Gue Sean, desainer senior di sini. Ayo, gue ajak lo keliling dulu sebelum mulai kerja."
Akira langsung merasakan kehangatan dalam caranya bicara. Tidak ada nada sombong atau meremehkan seperti yang ia takutkan. Dengan sedikit lega, dia menjabat tangan Sean. "Makasih, Kak Sean."
Sean terkekeh. "Gak usah pakai 'Kak' kalo sama gue. Di sini kita santai aja."
Mereka mulai berjalan melewati ruang-ruang kerja yang dipenuhi dengan kain, sketsa, dan papan mood board raksasa. Para staf terlihat sibuk, beberapa sedang menggambar, yang lain menata kain atau berdiskusi tentang koleksi terbaru yang akan datang.
"Jadi, NOIRE ini perusahaan fashion yang fokus di streetwear luxury. Tapi di bawahnya ada beberapa lini lain, termasuk high fashion couture yang lebih eksperimental. Bos kita suka sesuatu yang unik dan beda dari tren pasar," jelas Sean sambil menunjuk ke salah satu papan inspirasi yang penuh dengan gambar desain avant-garde.
Akira mengangguk-angguk, meskipun dalam hati dia mulai merasa kecil. Dia suka desain, tapi dunia ini terasa jauh dari kehidupannya yang lebih realistis dan serba keterbatasan.
"Lagian, lo bakal banyak belajar di sini. Dan jangan khawatir, gue pasti bantuin lo kok."
Akira menoleh, sedikit terkejut. "Beneran?"
Sean mengangkat bahu dengan senyum miring. "Tentu aja. Gue juga dulu pernah jadi anak baru di sini. Nggak gampang, tapi kalau ada yang bimbing, pasti lebih enak."
Mereka tiba di ruang desain utama, tempat Akira akan bekerja. Ruangan itu terasa luas dengan meja-meja besar yang dipenuhi gulungan kain, komputer, dan rak-rak penuh sketsa serta buku referensi fashion dari desainer terkenal dunia.
"Oke, ini meja lo," kata Sean, menunjuk ke sebuah meja kosong di sudut dekat jendela. "Dan ini komputer lo. Semua software desain udah diinstal, tinggal dipakai. Kalau butuh referensi, lo bisa cek rak buku di situ atau lihat desain lama di database kita."
Akira menghela napas, mencoba menyerap semuanya. "Jujur, gue agak overwhelmed."
Sean tertawa kecil. "Itu normal. Tapi lo nggak sendirian. Kita di tim desain selalu kerja bareng."
Tiba-tiba, seorang perempuan lain datang membawa secangkir kopi dan meletakkannya di meja Sean. "Eh siapa nig?"
Sean terkekeh. "Ini Akira, desainer junior baru kita."
Perempuan bernama Claire itu menatap Akira dari ujung kepala sampai kaki lalu tersenyum. "Welcome to the jungle, Akira."
Akira hanya bisa mengangguk, masih mencoba memahami ritme di tempat kerja barunya.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Pay or Play
Literatura Feminina18+ Awalnya, Akira Maheswari hanya ingin bekerja dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya di perusahaan bernama NOIRE. Tapi, siapa yang sangka, Akira justru terjebak dalam kesepakatan bersama sang CEO-Krystal Laurent Hartono- yang mengharuskan Akira...
