Ini hanya sebuah imajinasi. Ide cerita murni milik saya.
Genre sesuai kepercayaan masing-masing. (Jika anda menganggap Zhu Yan dan Yichen tetap sebagai laki-laki maka silahkan. Jika gs juga silahkan)
Segera tinggalkan jika memang anda tidak menyukainya.
Selamat membaca.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari pertama
"Dia adalah Zhuo Yichen. Kami akan menikah tujuh hari lagi. Tolong kau bantu siapkan semua keperluannya. Aku telah memerintahkan para dayang untuk membersihkan paviliun yang akan dia tinggali. Jadi sementara dia akan tinggal di sini."
Tanpa menunggu jawaban lagi, lelaki itu pergi dengan meninggalkan seorang lain di sana. Sementara yang dimintai tolong hanya memandang tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Keheningan yang sesak terjadi di antara keduanya. Yang satu masih tak mencerna dengan apa yang terjadi. Sementara yang lainnya ketakutan sendiri. Takut dengan respon yang ia dapat akibat keputusan yang ia buat sendiri.
"Jadi... Er-huangzi dianxia... Dayang akan menunjukkan di mana kamar mu untuk sementara di paviliun ini selagi kediaman mu dipersiapkan. Jika membutuhkan sesuatu akan ada dayang yang mendampingi nanti. Buatlah dirimu senyaman mungkin."
Senyuman itu palsu. Yichen tentu tahu. Ia muak dengan jenis senyum itu. Tapi melihat kilatan kosong salam tatapan seorang di depannya, tentu Yichen tak bisa berbuat apa-apa.
"Kenapa kau tak menentangnya?" Tanya Yichen akhirnya sebelum seorang di depannya itu berlalu.
Namun lagi-lagi ia berbalik dengan senyum palsu itu.
"Saya sama sekali tidak memiliki hak untuk itu. Ketika saya memutuskan menerima status ini, maka tubuh ini bukan lagi milik saya seutuhnya."
"Kau..."
"Harap Er-huangzi dianxia memahaminya. Saya dan anda adalah wanita milik kaisar. Kita adalah sama. Maka saya juga akan memperlakukan anda sebaik mungkin seperti keinginan kaisar."
"Tapi...tapi ini bukan keinginan ku. Aku... Bahkan aku membencinya. Aku membencinya karena dia kerajaan ku harus porak poranda. Karena dia-...."
Pelukan itu memotong ucapannya. Sepasang lengan itu memeluknya dengan penuh kehangatan dan kelembutan. Mengingatkannya pada pelukan mendiang ibundanya.
"Aku tahu...aku tahu."
Bisikan itu pelan. Sarat akan kesedihan. Yichen bisa merasakan keputus-asaan di dalamnya. Lalu pelukan itu terlepas. Membuat Yichen sedikit kecewa. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah dari sosok di hadapannya. Wajah yang begitu indah dan tak ada tandingannya. Namun binar dalam manik itu begitu redup. Begitu sendu, temaram tanpa cahaya.